Risalah Akhir Pekan XVII/2015

26 Apr 2015 | Cetusan, Risalah Akhir Pekan

Lukisan 'bullet' (peluru) karya Myuran Sukumaran, salah satu dari sepuluh terpidana mati yang akan menjalani eksekusi 28 April 2015 mendatang. (Copyright. news.com.au)

Lukisan ‘bullet’ (peluru) karya Myuran Sukumaran, salah satu dari sepuluh terpidana mati yang akan menjalani eksekusi 28 April 2015 mendatang. (Copyright. news.com.au)

Aku tak terlalu sreg dengan istilah ?alam berulah?.
Kesannya alam itu kurang ajar selayaknya penjahat yang membuat ulah. Aku lebih senang menggunakan frase ?alam menggeliat? untuk melukiskan perubahan yang ditampakkan alam sebagai konsekuensi wajar kehidupan. Meski, geliatnya itu terkadang membuat kita terkaget-kaget dan tergopoh dan biasanya diakhiri dengan pertanyaan retorik, ?Kenapa bisa begini ya??

Seminggu terakhir cuaca di Sydney menggeliat!
Empat hari di awal minggu yang lalu, badai besar bergelung menggulung di langit membawa hujan tiada henti dan angin yang menghentak-hentak. Mengkondisikan virus flu berkembang biak lebih baik, menghancurkan ribuan payung para pejalan kaki, mendobrak angkuhnya bangunan, merontokkan pohon besar bahkan sebuah rumah di kawasan Hunter terbawa arus banjir yang timbul karena badai tersebut.

Tapi di sisi lain, geliatnya membawa kabar gembira untuk tanah yang sebelumnya tandus, menurunkan suhu udara yang sebelumnya memanggang tubuh dan masih banyak kabar-kabar gembira lain yang tak kita ketahui sebenar-benarnya tapi tetap terjadi demi keseimbangan alam yang memang harus selalu terjadi.

Saking besarnya badai itu, media di Australia menyebutnya sebagai storm of century, karena memang belum pernah ada badai sebesar itu pada abad yang masih muda ini.

Pemerintah negara bagian New South Wales mengeluarkan himbauan warganya untuk tidak keluar rumah dan menyerukan para bos di perusahaan untuk memberikan kelonggaran ?work from home? bagi para pegawainya karena pengaruh badai tersebut.

Aku tetap masuk kerja karena arus pekerjaan tak menyurut meski badai menguat. Tapi meski, ada satu anak buahku yang meminta ijin untuk bekerja dari rumah dan sesuai anjuran, tentu kuijinkan.

Menjelang rabu sore, di beberapa bagian, langit biru muda mulai menggantikan gelungan badai dan keesokan harinya hingga sabtu siang, langit benar-benar biru sebersih-bersihnya, menyisakan cerita tentang badai yang baru berlalu seolah cerita usang berabad-abad silam lampaunya.

Namun beberapa jam sebelum matahari Sabtu kemarin lindap di peraduan, badai es (hail storm) mengguyur di sisi barat Sydney dan langit kota telah terkuasai badai setidaknya hingga kini, saat tulisan ini kurawikan.

Manusia memang selalu tergopoh-gopoh dengan perubahan yang tak bisa dikelolanya sendiri. Tak hanya terhadap alam, tapi juga terhadap manusia lain, sesama elemen alam.

Ketergopohan yang pertama ada pada berita tentang Budi Gunawan. Setelah sekian lama seolah namanya tenggelam, mantan ajudan Megawati ketika beliau menjabat sebagai Presiden RI ini akhirnya dilantik menjadi wakapolri dengan tenang dan dalam ruangan yang konon sepi sehingga menimbulkan kesan seolah semuanya diatur supaya diam-diam.

Ketergopohan yang kedua ada pada berita tentang setelah sekian waktu seolah eksekusi mati akan dilupakan begitu saja, tiba-tiba sepuluh terpidana mati di Indonesia akan dibunuh secara bersama-sama, seksama dan sesingkat-singkatnya pada malam gulita 28 April 2015 nanti di Nusakambangan.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana terkejut dan terseok-seoknya perasaan mereka, berikut keluarga yang mau-tak-mau, siap-tak-siap akan ditinggalkan untuk selama-lamanya.

Banyak orang keberatan kalau aku menyayangkan sikap Jokowi yang tidak memberikan pengampunan terhadap mereka. Tapi adakah manusia lain di Indonesia yang bisa menghentikan semuanya kecuali dia?

Tak sedikit orang beranggapan bahwa dengan adanya pembunuhan yang direncanakan terhadap sepuluh terpidana mati kasus narkoba pada malam tanggal 28 April nanti, arus perdagangan narkoba akan berkurang di Indonesia. Tapi katakanlah benar demikian, aku yakin lima juta persen bahwa hal itu bukan cara terbaik untuk membuat Indonesia menjadi negara yang lebih baik.

Ada juga yang berteriak, ?Tapi mereka kurang ajar! Sudah divonis hukuman mati masih tetap berbisnis narkotika dari penjara!??Nah! Kalau sudah tahu mereka kurang ajar, kenapa sistem yang harusnya memidanakan mereka masih bisa kecolongan? Bukankah sebuah sistem tata negara harusnya lebih baik dari ?kekurangajaran? mereka? Kenapa tak memulai semuanya dengan menyusun sistem yang bersih dan manajemen tata kelola penjara yang rapi? Anggaplah mereka kucing lapar, melihat ikan asin yang terhidang di depan mata, ya sambar! Mana yang lebih baik lantas, menyimpan ikan asin ke dalam almari yang terkunci atau membunuh si kucing?

Tapi ya sudahlah?Toh aku harus menghormati kedaulatan hukum negara tetangga. Sekecewa-kecewaku terhadap pemerintahan Joko Widodo, hal ini tak akan membuatku pernah menyesal memberikan keplok dan dukungan kepadanya dalam pilpres setahun silam.

Mari kita berdoa saja supaya para sepuluh terpidana itu bisa menghadapi hari-hari terakhirnya dengan tegar dan tenang. Sikap ikhlas dan pasrah semoga menyertai nyawa mereka yang terlepas sesaat setelah timah panas menembus jantungnya.

Mari kita juga membantu mereka untuk tegar menghitung waktu yang terus mundur hingga Selasa depan.

Meski mungkin dengan perasaan yang seratus delapan?puluh derajat bedanya, mari kita juga membantu Gibran, anak Jokowi, orang yang menolak permohonan belas kasih dan pengampunan dari kesepuluh narapidana itu, menghitung mundur waktu menjelang hari pernikahannya yang membahagiakan bersama Selvi calon istrinya, Juni mendatang.

Hidup memang sejatinya dihitung mundur ketika ia berjalan maju tak peduli kemanapun arahnya.

Selamat menjalani minggu yang baru.

Dipublikasikan pada hari minggu paskah IV
Pada pesta peringatan Santo Kletus dan Marselinus, Paus dan Martir

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Jokowi juga bagian dari alamn. Cuma putusannya gak berubah haha…

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.