Reynhard Sinaga, ke-kepo-an dan ke-julid*-an kita

9 Jan 2020 | Cetusan

Nama Reynhard Sinaga, hari-hari ini begitu menggelembung besar di berbagai media. Reynhard, pria Indonesia berusia 36 tahun ini dijatuhi hukuman seumur hidup di Inggris karena terbukti bersalah melakukan sex offences (pelanggaran seksual) lebih dari 150 kali dengan 136 di antaranya adalah tindak pemerkosaan.

Ya wajar kalau publik kaget dan hal itu tak perlu dipertanyakan karena tak ada yang bisa dibenarkan dari perilakunya yang menjijikkan itu.

Tapi, cara publik menanggapi, pun menurutku juga tak kalah mengagetkannya. Ada yang malah fokus pada orientasi seksual si Reynhard. Ada juga yang ngomongin identitas dan latar belakang ekonomi keluarganya, siapa orang tuanya, siapa saudaranya. (Bahkan di beberapa grup WA beredar lembar buku tahunan dari almamater tempat Reyhand menuntut ilmu juga tersebar! Di situ tak hanya terpampang foto tapi juga detail identitas termasuk alamat rumah orang tuanya!)

Reynhard Sinaga memalukan agamanya?

Dalam tulisan ini, aku mau menanggapi respon publik terkait dengan agama si Reynhard.

Di sebuah grup WA yang kuikuti, ada seorang berkata, ?Wah, Si Reynhard memalukan agama kita!? karena konon si Reynhard ini memang pemeluk Katolik.

Terlepas dari benar-salahnya pendapat itu, bagiku orang yang menganggap bahwa ada orang lain yang mempermalukan agama adalah orang yang sok tahu dan sok bisa memahami ?perasaan? sebuah agama.

Padahal, apakah agama punya ?perasaan???
Tapi katakanlah agama memang punya perasaan, maka pertanyaan selanjutnya adalah sesensitif apa perasaan agama untuk merasakan sebuah malu?

Apakah agama hanya akan malu pada kesalahan-kesalahan besar yang diekspos media seperti kasus si Reynhard ini? Bagaimana dengan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya juga tak kalah besarnya tapi tidak/belum terekspos media? Adakah agama tidak malu dengan hal-hal tersebut? Bagaimana juga dengan kesalahan-kesalahan yang mungkin kita anggap kecil? Adakah hal tersebut tidak membuat malu agama yang kita peluk? 

Padahal menurutku, sebagai orang beriman, dosa sebesar dan sekecil apapun itu sejatinya sudah bisa dianggap ?bikin malu? karena iman akan Tuhan amat bertentangan dengan dosa yang menjauhkan kita dariNya. Jadi, katakanlah agama itu memang memiliki perasaan, katakanlah ia sensitif pada dosa dan kesalahan umat, ada baiknya kita fokus pada dosa dan kesalahan kita dulu, ?Adakah agama kita malu pada kesalahan kita sendiri??

Pilihan sikap, tanpa kepo tanpa julid

Mari bersikap lebih dewasa dalam menanggapi hal-hal seperti itu.

Reynhard toh sudah dihukum berat. Daripada kepo dan men-julid-i latar belakangnya, kenapa tidak lebih baik mengambil pelajaran darinya?

Bahwa dengan adanya kasus tersebut kita tersadar dan waspada karena siapa tahu predator-predator seksual seperti dia mungkin ada dan menyelinap di sekitar.

Bahwa keluarga besar Reynhard juga punya hak untuk move on melanjutkan hidup mereka tanpa rasa takut di-bully publik.

Bahwa dengan hukuman yang diterima, semoga Reynhard bisa memanfaatkannya untuk bertobat.

Jangan malah membahas dari sisi yang tak penting. Takutnya publik malah jadi tahu sejauh apa ukuran kebijaksanaan dan ?kedalamanmu? sendiri?

Sydney, 9 Januari 2020

*JULID adalah jargon yang populer di social media, berarti ?nyinyir?.

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Bisa Jadi Sekolah asrama cowok atau Sekolah cowok terkadang banyak ada yg spt Reinhard penyuka sesama jenis hal tersebut tidak dipungkiri

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.