Bicara soal resolusi tahun baru, 2014 ini aku memilih hal-hal yang sederhana saja.
Bukannya takut tak tercapai lalu kecewa kalau aku memilih yang besar dan bombastis, bukan pula karena malu kalau gawal melakukannya tapi lebih pada pemikiran bahwa resolusi itu seperti impian, yang terpenting adalah bagaimana mewujudkannya.
Resolusi pertamaku adalah aku melarang diriku untuk menggunakan lift ketika ada anak tangga yang bisa kunaik-turuni.
…resolusi itu seperti impian, yang terpenting adalah bagaimana mewujudkannya.
Tentu ini tak berlaku ketika sedang bersama keluarga karena bagaimanapun kenyamanan mereka adalah yang terutama. Tapi ketika sedang sendirian, di kantor misalnya, untuk naik ke lantai tempatku bekerja, aku harus menggunakan tangga apapun keadaannya kecuali terpaksa.
Alasan kenapa kupilih hal ini sebagai resolusi adalah karena aku ingin belajar memberikan kesempatan kepada mereka yang lebih membutuhkan lift. Bayangkan jika ada seorang yang sangat memerlukan lift untuk turun dari lantai tiga harus menunggu lebih lama gara-gara kalah cepat memencet tombol yang meminta lift naik olehku yang hanya hendak turun dari lantai dua ke bawah?
Alasan lainnya, aku ingin menghargai kebisaanku untuk naik-turun tangga. Ini mungkin alasan absurd tapi kadang kita lupa berpikir bahwa kebisaan untuk melakukan segala hal itu ada batasnya. Suatu waktu kita akan tak bisa lagi untuk melakukan banyak hal termasuk hal-hal kecil seperti naik-turun tangga dan ketika saat itu tiba kata orang, banyak dari kita akan menyesal kenapa dulu tak melakukan semua hal ketika kebisaan itu masih ada.
Resolusi keduaku tahun ini adalah aku harus memaksa diriku untuk seminimal mungkin menggunakan kertas untuk menulis, menggambar maupun mencetak dokumen digital.
Konservasi lingkungan mungkin alasan terlalu besar dan muluk-muluk karena nyatanya untuk keperluan toilet aku juga masih ?royal? menggunakan tissue yang juga berbahan baku sama.
Alasan yang lebih tepat adalah karena aku merasa kadang hidup dalam ?keterbalikan?.?Ngakunya anak digital (dan memang bekerja di bidang digital) tapi kemampuan baca terhadap dokumen digital sangat ?tradisional?.
Aku merasa hanya bisa membaca ketika memegang kertas sungguhan dan untuk itu aku dulu kerap mencetak semua dokumen yang hendak kubaca.
Alasan keduaku, ketika memutuskan untuk memiliki iPad Air, tiga bulan silam, tantanganku adalah mau kupakai untuk apa tablet tersebut?
?Mau buat twitteran dan facebookan?? begitu sindir istriku.
Nah! Sejak sekitar tiga bulan lalu, aku selalu menggunakan iPad Air-ku sebagai media untuk menulis catatan dengan menggunakan pena stylus dan membaca beberapa ebook di dalamnya.
Sejauh ini kedua resolusi itu sukses kujalankan meski ini belum bisa jadi takaran kesuksesan dalam sebelas bulan setengah ke depan.
Kalau resolusimu tahun ini apa?
Jadi dokter? Insinyur atau punya istri kelima?
Apapun itu, aku punya clip yang khusus kupersembahkan untuk kalian semua, pembaca yang sangat kucintai. Enjoy!
http://youtu.be/We3frFN-wS8
Tinggalkan Balasan