Resolusi 2024 tercapai: Mengelola Foto Digital

15 Jan 2024 | Digital

Salah satu resolusi tahun baru yang sudah terselesaikan meski tahun 2024 baru berlangsung beberapa hari adalah membenahi pengelolaan koleksi foto digitalku. Selama ini, koleksi foto digitalku tersebar di iPhone, dua cloud services besar, Google dan iCloud (Apple) dan ada juga sedikit terpajang di Flickr.

Workflow-ku dalam hal menyimpan foto selama ini adalah sebagai berikut, dari hasil jepretan iPhone 11 Pro data otomatis tersinkronisasi ke Google Photos. Kenapa aku nggak pakai Apple Photos padahal aku bekerja menggunakan Apple ecosystem? Karena waktu itu sempat bingung dan malas untuk mencari tahu bagaimana cara kerja Apple Photos yang kala itu bernama iPhoto sementara Google Photos cukup straight to the point, tinggal unggah, kelar!

Sekitar tiga bulan silam, aku mendapat notifikasi dari Google bahwa accountku sudah mencapai lebih dari 75 persen dari quota yang disediakan, 200GB. Untuk meng-upgrade ke paket yang lebih besar, kuota ke 2TB, setiap bulan aku harus membayar 8 dollar lebih mahal ketimbang yang kubayar sekarang. 

Di waktu yang hampir bersamaan aku juga mendapatkan notifikasi dari Apple iCloud bahwa kuotaku sudah mendekati 75 persen dari quota yang disediakan, 200GB. Untuk meng-upgrade kuota ke 2TB, setiap bulan aku harus membayar 10 dollar. Jika aku harus mengupgrade keduanya, dalam satu bulan aku harus mengeluarkan ekstra 18 dollar. Nggak banyak tentu saja tapi atas nama penghematan karena suku bunga bank yang terus naik, ya harus kulakukan!

Setelah berpikir dan menganalisa, menjelang akhir tahun 2023, ada tiga keputusan yang kuambil dan semuanya saling terkait satu-sama lain.

Pertama, memigrasi semua foto ke Apple Photos.

Kedua, memusatkan semua data yang kerap kuakses di Apple iCloud sementara space yang semula kupakai untuk foto di Google akan kupakai untuk data-data yang sudah jarang kuakses lagi. Misalnya, data mixing dan mastering lagu-laguku yang ukurannya cukup raksasa!

Ketiga, pada akhirnya, upgrade kuota ke 2TB tidak akan bisa kuhindari. Nah, layanan yang akan kuupgrade adalah Apple iCloud sementara yang Google akan tetap kubiarkan seperti sekarang, 200GB saja atau kalau perlu kudowngroad ke 100GB.

Oh ya, dengan memigrasi semua foto ke Apple Photos dan melakukan integrasi ke semua device yang kupakai, hal ini ikut membuat space iphone ku melonggar. Maklum, device yang kupakai cukup tua, 1Phone 11 Pro, sudah hampir lima tahun tak kuganti lagi-lagi karena alasan penghematan.

Mulai 1 Januari 2024 lalu, proses pemindahan pun kumulai. Berikut urutannya.

  1. Mengaktifkan layanan Photos di iCloud. Artinya, sejak pengaktifan, semua foto yang masih tersimpan di device akan tersinkronisasi ke Apple iCloud dan ke depannya, semua foto yang kuambil akan otomatis terhubung ke sana. 
  2. Mendownload semua foto dari Google Photos menggunakan Google Takeout. Total fotoku di Google Photos itu 55 GB besarnya terpecah dalam 55 files. Masing-masing file, ketika kuekstrak memuat sekitar 1000an foto. 
  3. Foto-foto itu lalu kupindah manual ke Apple Photos. 
  4. Aku tak hanya memindah tapi juga memilah. Setelah kunggah ke Apple Photos, foto-foto pun kupilah. Berikut aturan mainku.
    1. Semua foto yang tidak menampilkan obyek manusia, dihapus. Hal ini tidak berlaku bagi foto-foto yang kujadikan sebagai bukti atau mengandung nilai lebih. Misalnya foto renovasi rumah Klaten tahun 2015. Foto ini meski nggak ada penampakan obyek manusianya ya tetap kusimpan sebagai bukti dan kenangan.
    2. Kalian tahu aku sangat hobi ber-selfie hahahaha! Nah! Kecuali keren banget, foto-foto selfie yang jumlahnya ribuan ini kuhapus!
    3. Foto-foto yang memiliki kemiripan atau yang diambil sebagai bagian dari bracketing, kuhapus juga. Bracketing itu gampangnya adalah ketika kita motret satu moment trus kita jepretnya berulang-ulang untuk mendapatkan yang terbaik. Oh ya, hal ini kukecuailan untuk foton anak-anak. Aku tahu banyak banget bracketing tapi aku gak tega untuk menghapus satupun dari foto-foto itu hahaha!
    4. Foto-foto berisi konten yang sering kuunggah di instagram juga kuhapus. Lho kenapa? Yaaaa kan udah tersimpan di Instagram?!

Setelah semua kupindah dan kupilah, berikut adalah tahapan berikutnya:

  1. Menghapus duplikasi foto. di Apple Photos ada feature untuk mendeteksi hal ini meski gak seratus persen selalu berhasil. Artinya, aku harus mantengin satu per satu, kalau ada yang identik ya kuhapus.
  2. Mengurutkan foto berdasarkan tanggal pemotretan. Karena gak semua foto puyna EXIF data yang terjaga dan akurat maka aku melakukannya manual. Misalnya foto yang ada di bawah ini yang dijepret alm. Papa pada 1982. Di Apple Photos, foto ini terdata diambil pada tanggal 28 September 2018. Lho kok bisa? Ya karena pada tanggal itu aku lagi mudik ke Indonesia dan mampir rumah di Klaten lalu memotret foto yang terpajang di dinding itu. Jadi data yang tersimpan ya tanggal waktu aku motret bukan waktu alm Papa memotret.
  3. Mengelompokkan foto dalam album. Foto-foto yang memiliki tema sama kukumpulkan dalam album tersendiri. Misal foto waktu aku liburan ke Indonesia, foto waktu Papa dan Mama meninggal dunia (2011 dan 2016), foto waktu kita jalan-jalan ke mana, gitulah pokoknya.

Rencana ke Depan

Meski secara mendasar proses pemindahan sudah selesai tapi ke depannya aku berpikir untuk lebih merapikan koleksi fotoku dengan mengklasifikasikannya berdasarkan tempat pemotretan. Kebanyakan memang bisa diambil dari EXIF data tapi kan gak semuanya. Karena toh pada akhirnya aku akan upgrade quota ke 2TB, maka sekalian aku akan memindahkan foto-foto dari Flickr account serta dari external harddrive ke Apple Photos.

Dan yang terakhir, aku juga akan lebih rajin menghapus foto yang tidak perlu dan yang paling penting, berusaha untuk tidak memotret hal-hal yang memang tidak perlu terlalu sering dipotret. Selfie di lift adalah salah satunya meski untuk yang ini aku gak janji sih hehehe…

Oh ya, foto di bawah adalah contoh foto yang tak kuhapus :)

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.