Rasa khawatir dan buah-buah yang tak bisa matang

7 Mar 2019 | Kabar Baik

Masa Pra-Paskah adalah masa kita untuk belajar mati raga melalui pantang serta puasa. Mati raga terhadap hal-hal duniawi yang selama ini kepadanya kita tergantung dan menyukai!

Kenapa mati raga terhadap hal-hal duniawi itu penting? Supaya kita tidak lekat kepadanya. Kelekatan pada duniawi membuat buah-buah rohani kita tidak matang seperti yang dikatakan Tuhan di bawah ini:

Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. (Lukas 8:14)

Pernahkah kamu merasakannya? Khawatir terhadap hal-hal keduniawian; kekayaan dan kenikmatan hidup? Aku pernah merasakan kedua-duanya.

Tidak khawatir

Sebelas tahun silam aku memutuskan pindah ke Australia. Padahal aku tak punya pekerjaan, padahal pengalaman kerjaku di Australia nol besar, padahal Bahasa Inggris-ku pas-pasan, padahal aku bukan lulusan universitas di Australia dan padahal?. tabungan yang kubawa ke Australia hanya cukup untuk biaya hidup tiga bulan!

Tapi justru dari ketidakkhawatiranku itu aku merasakan lepas-bebas. Lepas untuk mencoba segala macam cara untuk bertahan hidup karena Tuhan pasti mencukupkan!

Khawatir

Ketika akhirnya aku mendapatkan posisi pekerjaan yang baik, ketika bahasa inggrisku meski pas-pasan tapi ternyata tak menjadi kendala berarti dalam bekerja ternyata kekhawatiran malah muncul menggila!

?Duh gimana kalau tiba-tiba besok pagi aku kena PHK??

?Duh gimana kalau tau-tau saham-saham perusahaan pada anjlok dan negara dalam krisis ekonomi?? dan gimana-gimana yang lainnya.

Rasa khawatir akhirnya membuatku terhalangi untuk berbuah. Ketika ada undangan pelayanan aku terpaksa membatalkannya karena, ?Sibuk nih!? Seolah-olah dengan ?sok sibuk? aku tak kan pernah bisa diberhentikan bekerja!

Ketika ada ajakan untuk berbuat amal aku pun menolaknya, ?Kalau mau ya bayar!? Seolah-olah dengan punya uang banyak aku tak kan pernah bisa miskin!

Pelayanan yang kutolak, kegiatan amal yang kumentahkan adalah tanda-tanda buah rohani yang tak matang meski aku tahu keduanya adalah hal dan jalan baik untuk semakin mendekatiNya.

Intinya ada pada bagaimana kita memandang hidup ini nyaman dan tidak nyaman. Aku tidak bilang bahwa hidup harus tidak nyaman tapi hidup harus diatur untuk kita rasakan ?cukup nyaman?.

Artinya, ketika hidup memang belum nyaman, ya mari kita usahakan untuk membuatnya lebih nyaman. Ketika kita terlalu nyaman, bagikanlah kenyamanan itu kepada sesama yang masih belum nyaman. Dan saat-saat seperti ini, dalam masa Pra-Paskah ini, kita diajak untuk melakukannya, matikan raga kita dan bagikan kenyamanan bagi sesama.

Sydney, 7 Maret 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.