Ramai yang menarik, sepi yang menarik…

13 Mei 2016 | Cetusan

Dulu aku membaca ?ramai? sebagai sesuatu yang ?menarik? dan ?sepi? sebagai sesuatu yang jauh membosankan!

Barangkali karena aku dulu tinggal di kampung; Tegal Blateran, Klaten tepatnya.

Waktu itu, aku menganggap Jakarta adalah ramai, maka ia menarik. Jogja juga demikian, ia ramai, ia menarik.

Maka setiap ada berita tentang Jogja atau Jakarta, ada orang yang kukenal berkunjung ke sana atau ketika Papa dan Mama mengajakku ke sana, tertariklah aku dibuatnya.

Tapi tahun 1984 pertengahan, Papa memboyongku dan Mama untuk pindah ke Kebumen.

Kotanya sangat sepi dan waktu itu aku tak tertarik. Setiap sore hari, aku yang waktu itu masih duduk di bangku TK selalu bertanya pada Mama kapan aku akan kembali ke Klaten lagi.

Mama bilang, ?Desember nanti pas Natalan..?

?Berapa lama??
?Ya selama kamu libur sekolah!?

?Nggak bisa lebih lama dari itu??
?Nggak, kan Papa kerja dan kamu harus kembali sekolah??

Maka ketika SD, aku minta disekolahkan ke sekolah katolik supaya ketika Natal tiba, libur mereka lebih panjang dari sekolah-sekolah lainnya dan aku bisa kembali ke Klaten, kota yang lebih ramai ketimbang Kebumen waktu itu.

Tapi lama-lama aku terbiasa juga dengan ramai-sepinya Kebumen meski pandanganku tetap sama, ramai adalah menarik, menarik karena ramai.

Tahun 1993 aku pindah ke Jogja.

Aku tak kerasan pada awalnya. Bukan karena sepi tentu saja, tapi karena aku kesepian, rindu rumah.

Di titik itu aku mengenal sepi yang baru. Sepi yang bukan lawan kata ramai, tapi sepi yang berlawanan dengan hangat. Mungkin karena itu juga sejak saat itu aku mulai berpikir mencari kawan lebih banyak supaya hangat.

Tapi ramai tetaplah menarik.
Oleh karena itu aku ?mengincar? Jakarta. Berharap setelah lulus kuliah aku bisa mendapatkan kerja di ibukota supaya bisa merasakan ramai, ramai yang menarik.

Jalan hidup berkata lain. KehendakNya memintaku untuk tetap diam di Jogja, bersama kawan-kawan dekat membuka usaha, dan hidupku memang tak lagi sepi, ia menghangat, menarik. Jogja juga semakin ramai, meski entah kenapa aku jadi tak terlalu tertarik.

Lalu ketika aku pindah ke Sydney, aku merasakan sepi yang luar biasa. Bukan sepi yang lawan katanya hangat karena hidupku, semenjak pindah ke sini, benar-benar hangat karena aku menikah dengan orang yang kukasihi dan dikaruniai Odilia dan Elodia.

Sepi di sini adalah sepi yang kutemui lagi saat aku berada di Kampung Tegal Blateran. Sepi yang tidak ramai secara kuantitas lalu lalang orang dan sepeda, dan motor, dan mobil.

Aku ingat, hari ketigaku berada di Sydney adalah hari dimana aku merasa, ?Ya ampun kenapa sesepi ini?? Bahkan kicau burung pun bisa kudengar begitu dekat mengalahkan deru mobil dan motor yang terdengar lamat-lamat di kejauhan.

Tapi lantas aku mendapat pekerjaan demi pekerjaan yang tidak berada di pusat Sydney. Tempat-tempat itu tentu lebih sepi dan saking sepinya aku jadi kehilangan definisi apa itu ramai apa itu sepi.

Kecuali setiap akhir pekan saat kami harus ke pusat kota untuk berbelanja dan disitu tiba-tiba aku kerap merasa, ?Waduh, kok rame banget ya!? Sesuatu yang lucu juga dipikir-pikir karena jauh sebelumnya, saat pertama kali pindah, aku merasa bahkan kota Sydney pun adalah tempat yang benar-benar sepi.

Lalu sejak kamis kemarin aku mulai kerja di perusahaan baru dan kantor pusat serta klien-kliennya berada di kota Sydney. Aku mulai belajar satu hal yang meski tidak baru kupelajari yaitu ramai itu tidak menarik dan sepi itu justru menyenangkan karena menenangkan.

Semoga ini bukan karena aku sudah berusia, sudah setengah baya…

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. itu sdh pasti , hahahahahah.. #stengahbaya

    Balas
  2. Sepi itu menyenangkan, karena menenangkan. Siip banget.
    Usia 50 tahun kadang ada yang mengatakan masih stengah baya, hehe…

    Balas
  3. hebat lu bro..masih rajin nulis…salut!..eh ada mas alris juga di komen…heee..

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.