Indonesia mau tak mau membuatku turut merasakan greget bulan Ramadhan meski aku adalah non-muslim.
Sesuatu yang indahnya tak bisa hilang dari ingatan sebab di negeri dengan alam elok dan penduduk yang ramah-tamah itu, kehadiran bulan Ramadhan selalu ditandai dengan banyak hal yang begitu istimewa. Ada greget yang berbeda ketimbang bulan-bulan lainnya; semacam gairah, dinamika sekaligus kekhusyukan yang tak pernah lepas melingkupinya.
Berikut ini adalah remah-remah ingatan yang dapat kutuliskan tentang kenangan Ramadhan di Indonesia, sekadar usaha melawan lupa.
Semoga berkenan!
Sahur
Sebagian besar keluarga besarku adalah muslimin dan muslimah.
Mulai dari papaku, keluarga besarnya dari Biltar hingga keluarga Eyang Buyut Klaten dari pihak Mama, semua adalah kaum yang memang diwajibkan untuk berpuasa pada setiap Ramadhan.
Oleh karenanya, ikut berbuka puasa maupun makan dini hari selagi santap sahur adalah kegiatanku sejak kecil.
Apalagi hingga sebelum awal 90-an, ketika Simbah Buyut Putri Klaten masih sugeng, setiap menjelang Lebaran, anak-anak serta cucu-cucunya yang tinggal di Indonesia, kami semua berkumpul di rumah Klaten yang sekarang menjadi rumah orang tuaku.
Suasana rumah yang biasanya sepi mendadak ramai dan semarak.
Satu hal yang kuingat adalah ketika pertama kali aku ikut sahur, sekitar lima tahun usiaku waktu itu.
Tiba-tiba pada sebuah sore aku berpesan pada Mamaku untuk dibangunkan ketika orang-orang bersantap sahur dan hal itu benar-benar terjadi. Aku bangun mengambil piring, menuang nasi ke atasnya serta sebutir telor asin dan sayur bayam yang dimasak Mama yang juga non muslim sepertiku.
Sesudahnya aku pun tertidur lagi dan ketika bangun, seperti hari-hari biasa lainnya, Mama membuatkanku susu namun bedanya kali ini dimintanya aku untuk menghabiskannya di kamar saja supaya tak mengganggu yang sedang berpuasa sekaligus menghormatinya. Lalu aku menurut saja, kuhabiskan susu hingga tandas …
Jualan Kolak
Setelah pindah ke Kebumen, sekitar pertengahan tahun 80-an, pada beberapa kali Ramadhan, Mama jualan kolak ubi dan pisang.
Ia membungkusnya dalam kemasan plastik lalu menjelang waktu Buka Puasa tiba, para tetangga yang berpuasa berdatangan untuk membeli bungkusan-bungkusan kolak yang seingatku dihargai 250 rupiah per satuannya.
Pasar Malam
Di alun-alun, selama sebulan penuh digelar pasar malam yang menyajikan banyak wahana permainan dan berbagai macam barang diperjualbelikan. Aku dulu sangat tertarik pada permainan Ombak Banyu, Tong Setan, Jaran Mubeng (aku insisted menyebut demikian ketimbang Komidi Putar) serta tak lupa merengek-rengek minta dibelikan banyak mainan baru yang dijual disitu seperti kapal othok-othok, gasing, yoyo, mobil-mobilan plastik hingga replika truk berbahan kayu berukuran jumbo.
Petasan
Karena rumahku ada di dekat sungai, pada bulan Ramadhan, teman-teman sepermainanku beramai-ramai membuat mercon kaleng di tebing-tebing pinggiran sungai.
Sesuai namanya, mercon kaleng terbuat dari kaleng yang dibuka penutup kedua sisinya, disusun beberapa buah dan saling dihubungkan, lalu ditanam di dalam tanah dengan moncong menghadap ke arah sungai. Pada kaleng yang terjauh dari moncong, salah satu permukaan yang menghadap ke atas dilubangi sebesar ibu jari, diberi bambu hingga menyembul ke atas berfungsi sebagai penyulut petasan.
Untuk menyalakannya, mereka menggunakan sepotong karbit yang dicelup ke dalam tabung plastik kecil (biasanya bekas tempat balsem) berisi minyak tanah lalu dimasukkan ke dalam susunan kaleng itu hingga tepat berada di bawah lubang penyulut. Mercon lalu dimampatkan udaranya untuk beberapa saat; ditutup moncong serta lubang penyulutnya menggunakan kain tak terpakai, dan beberapa saat kemudian lubang pemantik dibuka lalu disulut dengan api, “Blarrrr!!!” suara nyaringnya terasa berdesing-desing, terbentur paparan lembah sungai memantul-mantul, menggetarkan hati.
Menakjubkan!
Hari Sekolah yang Lebih Pendek
Setelah tamat di SD katolik, aku mengenyam pendidikan SMP di sekolah negeri di Kebumen.
Oleh karenanya, selama bulan puasa jadwal masuk dan pulang sekolah pun dirombak menjadi lebih siang masuknya dan lebih pagi pulangnya. Ini adalah sesuatu yang luar biasa menyenangkannya ditambah lagi dengan pelajaran Olahraga yang tak begitu kugemari yang selama bulan Ramadhan lantas diganti menjadi Teori Olahraga.
Surau Sebelah Rumah yang Lebih Ramai
Tak jauh dari rumahku, terdapat sebuah surau.
Selain bulan Ramadhan, aku ingat surau itu hanya ramai saat subuh, dimana banyak nenek-nenek dan kakek-kakek bersembahyang di sana, saat azhar, beberapa teman mainku yang ikut belajar mengaji dibimbing tetanggaku yang sudah remaja lalu dilanjutkan dengan sholat azhar, saat maghrib biasanya bapak-bapak yang pulang kerja langsung bersembahyang di situ, serta saat isya tiba yang biasanya giliran para ibu yang memenuhinya (Aku tak mencatat kegiatan selama saat Dhuhur karena saat itu aku masih ada di sekolah). Event-event khusus dengan keramaian lainnya, terhitung hanya Idul Adha atau ketika ada tetangga yang meninggal dan kebetulan ia muslim lalu disholatkan di situ, selebihnya sepi.
Tapi ketika Bulan Ramadhan tiba, surau itu menjadi luar biasa ramainya nyaris tak terbatas waktu!
Sepanjang hari dan malam, selalu saja ada kegiatan di situ mulai dari tarawih, pengajian tambahan, serta satu hal yang tak pernah terlewatkan adalah santap buka bersama. Geliat yang menyenangkan :)
Spanduk “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” di depan Gereja
Bulan Ramadhan tak membuat gereja jadi sepi, ia berjalan seperti biasanya.
Maka, setiap akhir pekan tiba, diantar Papa, aku dan Mama serta Citra yang masih bayi mengikuti misa di Gereja.
Pada satu Ramadhan yang masih sanggup kuingat, di muka Gereja itu kulihat spanduk bertuliskan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa!”
Aku lantas bertanya pada Mama, “Ma, kok gereja pasang spanduk puasa tho? Apa kita juga harus ikut puasa sekarang ini?”
“Ya enggak, puasa kita kan kalau pas mau Paskah, bukan sekarang.”
“Tapi kok gereja tetap pasang spanduk tho?”
“Itu menandakan Gereja ingin supaya kita ikut menghormati orang-orang yang sedang berpuasa saat ini…
Itu namanya sikap toleransi dan tepa seliro. Bukannya kamu sudah diajari di sekolah?”
Lalu tiba-tiba aku yang saat itu masih duduk di bangku kelas IV SD, terbayang ucapan Pak A.S Midi, guru PMP ku waktu itu.
“Tersenyumlah ke orang lain karena kita tahu disenyumi itu menyenangkan. Berbuat baik ke orang lain karena kita tahu ketika dibaiki orang lain itu melenakan. Selamatilah orang lain karena diselamati itu meneduhkan dan menyemangati. Dan sebaliknya, ojo njiwit, soale dijiwit kuwi larane ra karuan!”
Saat itu aku tersenyum… dan sekarang, setelah lebih dari dua puluh tahun aku tersenyum lagi mengingatnya.
Selamat berpuasa saudara serta sahabat!
Semoga Tuhan menerima amal dan ibadahmu dan memberikan pahala yang terbaik bagimu…
Tinggalkan Balasan