Hebat benar Riana Helmi!
Belum juga berumur 18 tahun, gelar dokter telah disandangnya.
Gadis asal Nanggroe Aceh Darussalam itu dinobatkan sebagai wisudawati termuda dalam acara wisuda Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, 19 Mei 2009 yang baru lalu. Ia hanya butuh waktu tiga tahun enam bulan dengan IPK memukau, 3.67!
Beda betul denganku :)
Umur 30 tahun (nyaris 31 malah) eh lha kok baru menyandang gelar sarjana :)
Ada jeda 12 tahun dalam peraihan gelar kesarjanaan antara aku dengan dr Riana, IPK ku pun tak terlalu tinggi, hanya sedikit di atas rata-rata tapi ya tetap tak sampai segitu angkanya.
Menyedihkan betul …
Kisah Riana ini mengingatkanku pada cerita tentang seorang teman yang lulus menjadi sarjana komputer pada usia 19 tahun di kampusku dulu.
Sebut saja namanya Donald.
Prestasinya memang memukau, penguasaan algoritmanya bagus dan programmingnya cerdas!
Ia jagoan membuat analisa rekursif, sesuatu yang hingga saat ini pun kubenci karena alur logikanya terlalu berbau matematis.
Ia termasuk mahasiswa yang paling mudah dicari. Kalau ndak di perpustakaan ya pasti di laboratorium atau susuri saja sepanjang teras kelas dan longoklah ke dalam, di salah satu ruangan itu pasti ia berada di sana sedang mengikuti kelas.
Boleh dibilang selama masa kuliah, ia tak pernah merambah kantin kampus.
Ia selalu membawa bekal yang siap dimakan sembari jalan dari tempat parkir motor ke perpustakaan atau dari parkir motor ke laboratorium atau dari perpustakaan ke laboratorium dan sebaliknya.
Kehidupan di luar kampusnya juga tak beraneka warna.
Jangankan Galeria Mal, mal terbesar di Jogja waktu kuliah dulu, nyaris masa hidupnya ketika kuliah hanya ada di sekitar kampus, kost, dan pulang ke Klaten, kota asalnya yang kebetulan juga kota asalku.
Beda betul denganku dan gerombolanku.
Setelah lulus pada awal tahun 2000-an ia seperti lenyap ditelan bumi.
Orang-orang banyak mengira ia telah menjadi rebutan di perusahaan-perusahaan besar di Jakarta atau Batam setidaknya dan malah bisa jadi sudah menyeberang ke Singapura. Ia menyisakan nama besar di kampus sebagai wisudawan termuda dan laporan skripsinya banyak dicari orang-orang di perpustakaan kecuali olehku, tentu saja :)
Hingga akhirnya enam tahun kemudian, pasca gempa yang memorak-porandakan Jogja dan sekitarnya, secara tak sengaja aku bertemu dengannya di salah satu bilangan di Klaten, kota asal ku yang sekaligus adalah kota asalnya.
Praktis tak ada yang berubah daripadanya. Perawakannya masih kecil, berkacamata.
“Weh, kowe tho… piye kabarmu?” tanyaku menyapanya.
“Iya.. eh… kowe tho Don! Gimana, kamu udah lulus?” tanyanya.
Asu! batinku ditanya kok malah bertanya, dan pertanyaannya itu.. aduh seperti ndak ada pertanyaan yang lain saja!
“Hehehe, belum… ketoke aku ndak mau lulus dulu ah, keenakan kerja, golek duwit!”
“Oh.. hehehehe…” Ia tersenyum menyeringai, aku menandainya sebagai satu ejekan.
Tersinggung? Sedikit.
“Kamu lagi liburan di Klaten tho?” tanyaku mencoba mengganti topik. Dalam pikirku ia pasti sedang berlibur menjenguk rumah orang tuanya yang mungkin rusak karena gempa.
“Ah ndak… aku ya tetep tinggal di Klaten, kok!”
“Oh moso? Kerja apa sekarang? Programming?”
“Wah ndak! Aku belum kerja!”
Gedubrak!!!!! Lulusan tercepat! Skill programming selangit! Kok belum kerja…
“Oh, lha ndak ndaftar kerjaan tho? Apa ngerjae sendiri di rumah?”
“Ah nggak juga… Aku dulu abis lulus udah daftar kemana-mana tapi ndak diterima.” ujarnya dengan tetap tersenyum.
“Oh lha kok bisa, kamu kan pinter?” Sekarang aku sedikit berada di atas angin.
“Ah, pinter ndak jaminan… katane yang interview dulu sih skillku bagus tapi aku kurang cukup dewasa…Selalu gagal di psiko test, Don!”
“Oh…”
“Lalu kesibukanmu sekarang apa?”
“Hmm apa ya.. ya cuman di rumah aja, main game komputer, sok-sok ke warnet ya chatting, beli komik atau ke pasar situ beli ikan cupang buat dipelihara..”
Dalam hati aku bergumam iri, enak betul hidupnya!
Andai aku anak seorang kaya, barangkali… ah, tidak, biarpun kaya akupun tidak akan memilih jalan hidup sesantai dia!
Obrolan pun berlanjut lumayan seru.
Maklum, enam tahun tak bertemu tentu banyak hal yang perlu diceritakan dan didengar.
Akan tetapi dari sikap dan geliat tubuhnya, aku menangkap satu hal darinya bahwa ia dalam posisi hidup yang tertekan.
Tertekan karena keadaan bahwa meskipun ia pintar tapi ia tak laku bekerja.
Meski ia bernama besar, tapi ia tak sanggup memanage hal itu dengan mempertanggungjawabkan kebesarannya.
“Oh ya sudah nek gitu, aku pulang dulu ya.. meh balik ke Jogja. Salam buat mama dan papamu..” ujarku hendak menutup percakapan yang menurutku sebenarnya semangkin hangat dan menyenangkan ini.
“Oh iya, Don… sampe ketemu lagi ya! Salam juga buat mama papamu. Rumahmu ndak papa tho kena gempa kemarin?”
“Oh, ndak… ndak papa.. Puji Tuhan baik semua… Ok GBU ya!”
Akupun pergi…
Saat itu, keinginanku satu-satunya adalah cepat-cepat pergi ke kampus, menuju ke perpustakaan dan mencari serta membaca berkas skripsinya dulu. Aku ingin membuktikan bahwa kepandaian akademik seseorang sangatlah terpisah dan terkadang jauh jaraknya dengan kepandaian kejiwaan. Seseorang yang pandai, bisa jadi diperoleh oleh mereka yang berusia terlalu muda, muda atau tua sekalipun. Akan tetapi, kepandaian kejiwaan adalah perkara kematangan hidup dan kebanyakan didapat ketika usia mulai beranjak dewasa.
Padahal baik kejiwaan maupun skill akademik, mutlak harus mampu dipadukan menjadi kehandalan dalam bekerja dan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini, bukan?
Sumber berita tentang dr Riana ada di sini.
Tinggalkan Balasan