Purbaya, Purwokerto – Surabaya

Dicopotnya Menteri Purbaya, membuatku teringat pada Kereta Api (KA) Purbaya yang melayani jalur Purwokerto – Surabaya. Kereta yang dirilis sejak 15 April 1971 dan berakhir pada 21 Januari 2002 itu sangat mengesankanku.

Dulu di pertengahan hingga akhir 80-an, alm. Papa belum punya mobil. Jadi untuk mudik ke Klaten demi merayakan Natal, kami naik Purbaya. Sementara setiap Lebaran, karena Papa waktu itu menganut Islam, kami naik Purbaya turun di Jombang. Nginep semalam di rumah almh Budhe Him lalu bersama rombongan pagi harinya naik Kereta Rel Diesel (KRD) menuju Blitar.

Saking seringnya naik Purbaya, aku ingat betul jam kedatangannya di Stasiun Kebumen, jam 9:10 WIB dengan catatan kalau tepat waktu tapi kebanyakan molor hingga jam 10 pagi.

Namanya juga kereta ekonomi, menumpang Purbaya waktu itu tentu tidak nyaman. Belum ada sistem penomeran kursi. Siapa cepat, dia dapat. Kalau gak dapat? Berdiri atau memaksakan diri untuk duduk (bahkan banyak yang tiduran) di lantai gerbong beralaskan koran. Yang namanya asap rokok jangan ditanya! Berpadu dengan suasana panas, bau keringat, bau makanan, bau muntah dan bau-bau yang lainnya. Kipas angin ada sih tapi gak punya daya!

Ketika naik dari Kebumen, biasanya kami gak dapat tempat duduk. Papa memilih berdiri di bordes (sambungan gerbong kereta) sementara aku, Mama dan Chitra memaksakan diri masuk ke gerbong karena siapa tahu ada hati yang tergerak untuk memberikan tempat duduknya melihat seorang ibu muda membawa dua anak yang masih kecil-kecil.

Biasanya memang ada yang tergerak sih lalu menawarkan kursi untukku dan Chitra. Tak lama kemudian Mama lalu Papa. Tapi kalau gak ada yang tergerak, biasanya kami mendapat kursi di Stasiun Kutoarjo karena ada beberapa yang turun. Oh ya, bicara tentang Stasiun Kutoarjo, ada satu pengalaman yang tak kan kulupakan. Waktu itu kami pergi berombongan gak hanya berempat tapi juga dengan Almh Eyang Slamet Putri (Ibunya alm Papa) bersama mas-mas sepupu pergi ke Jawa Timur. Tak seperti biasanya, kereta mengantri lama masuk ke stasiun. Aku dan sepupu-sepupuku mencoba mencari tahu berjalan ke bordes, melongok keluar. Dan ternyata… ada kecelakaan tepat di pintu persimpangan kereta api. Rupanya kereta api yang lewat sebelum kami menabrak dan melindas seorang wanita berkendara sepeda motor. Jenasahnya belum diangkat jadi aku menyaksikan jasad yang terlentang tak bernyawa dengan kepala yang terburai berdarah-darah!

Masuk Jogja, menjelang tengah hari, suasana jadi lebih sumringah. 

Sambil memandang hamparan sawah dan sesekali jejeran rumah di kampung-kampung yang kian dekat Jogja kian padat, Papa dan Mama mulai ngganyik bercerita tentang masa muda mereka ketika menempuh studi dan pacaran di Jogja. 

Sesampainya di Stasiun Tugu, kereta berhenti sekitar 15 menit. Aku dan Papa biasanya turun ke bawah untuk meluruskan kaki dan karena aku ingin mendengarkan sinyal stasiun yang menggunakan melodi lagu Sepasang Mata Bola. Tak lupa kami membeli nasi ayam dan es teh dalam plastik untuk dibawa naik kembali ke gerbong. Kalau tujuannya Klaten, aku langsung buru-buru makan karena tak sampai satu jam kami akan tiba di Klaten.

Sesampai di Solo Balapan, kesesakan diakhiri. Gerbong Purbaya melengang karena banyak yang turun di Solo, suasana jadi lebih nyaman dan kami mulai bercakap-cakap dengan penumpang yang duduk di depan atau di sebelah kami. 

Di Madiun kami beli brem suling berwarna kuning untuk oleh-oleh di Jombang dan Blitar lalu tak seberapa lama kemudian lewat Nganjuk dan sampai di Jombang sudah menjelang Isya.

Seingatku, aku belum pernah naik Purbaya hingga sampai di stasiun akhir baik Purwokerto maupun Surabaya Gubeng tapi kalau sampai Menteri Purbaya diberhentikan ya barangkali karena oleh Prabowo ia sudah dianggap sampai di tujuan akhir jadi harus turun. Gitu, kan?

Sebarluaskan!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses