Presiden, pilih menteri yang memahami anak!

9 Agu 2016 | Cetusan

Belum sampai sebulan dilantik, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, membuat heboh semesta Indonesia dengan idenya untuk pendidikan dasar Full Day School.

bukik setiawan

Bukik dan putrinya

Berbagai komentar yang bisa kupantau di social media, kebanyakan menolak ide tersebut meski aku sendiri sebenarnya tertarik karena dengan menyekolahkan anak hingga sore hari, orang tua bisa bekerja dengan tenang, tidak kepikiran anaknya main dengan siapa, diajak nonton bokep atau dipukuli oleh pembantu atau tidak, dan lain sebagainya.

Aku lantas menghubungi Bukik Setiawan, kalian ingat dia??Ia blogger lawas yang mumpuni dalam dunia pendidikan dan industri kreatif, ?pernah kuwawancarai di sini?dan pernah pula menginterview-ku di situ. Aku tertarik membaca statusnya terkait polemik itu dan kupikir karena ia kenal dekat dengan Anies Baswedan, mantan Mendikbud yang lantas digantikan Muhadjir, aku mewawancarainya melalui Facebook Messenger semalam.

Berikut petikannya,

Bung, seberapa kenal kamu dengan Anies Baswedan dan bagaimana kira-kira respon beliau tentang ide menteri yang baru ini?

Saya kenal dengan ABW (Anies Baswedan -red), pernah kerja bareng di kantor transisi JKW & JK. Tapi tidak cukup dekat. Lha wong ngobrol berdua saja tidak pernah, ngirim sms/WA juga tidak. Saya tidak tahu bagaimana respon ABW.

Bagaimana pendapatmu tentang ide sekolah sampai sore yang dilontarkan Mendikbud yang baru tadi?

Sekolah sepanjang hari (full day school) adalah pilihan yang bagus buat sebagian keluarga, tapi tidak bagi keluarga yang lain. Pilihan yang sesuai untuk wilayah urban, tapi tidak tepat untuk masyarakat pedesaan atau pelosok. Pilihan yang bisa dijalankan sebagian sekolah, tapi tidak realistis bila dijalankan semua sekolah.

Di Facebook kamu menulis sekilas tentang kaitan negatif antara full day school dengan kekerasan di sekolah. Kok bisa begitu gimana?

Status Facebook saya “Permisif terhadap kekerasan dan full day school adalah kombinasi yang bagus untuk merusak budi pekerti anak”. sebenarnya respon terhadap dua pernyataan Menteri ME (Muhadjir Effendy –red).

Pertama: “Saya risih dilapori ada murid yang sampai melaporkan gurunya karena hanya dicubit. Apalagi gurunya sampai dipenjara,” katanya saat menutup Jambore Pelajar di Surabaya, Sabtu (6/8/2016).

Menurut dia, hal itu adalah bukti bahwa pendidikan di Indonesia masih rapuh, yang tidak akan menghasilkan generasi yang tahan banting.

“Dikit-dikit lapor, dikit-dikit madul (mengadu). Padahal untuk mencetak generasi yang kuat, pendidikannya harus keras,” ujarnya. (Sumber: Kompas)

Kedua, “Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja,” kata Mendikbud di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (7/8/2016). (Sumber: Kompas)

Status saya mungkin terlalu pendek menjelaskan karena sebenarnya saya sedang membuat artikel yang menanggapi pendapat pertama. Di tengah proses menulis, muncul pernyataan kedua yang ditanggapi banyak orang.

Pernyataan pertama menunjukkan Menteri ME bersikap permisif terhadap kekerasan pada anak.

Padahal kondisi saat ini berdasarkan hasil riset Plan Internasional dan ICRW menunjukkan 84% anak mengalami kekerasan di sekolah. Apa jadinya di tengah kondisi seperti itu kemudian durasi sekolah diperpanjang jadi sepanjang hari.

Sekolah sepanjang hari adalah pilihan metode yang bisa bermanfaat bila sesuai dengan kebutuhan masyarakat, memperhatikan psikologi anak dan sistem pendukungnya disiapkan dengan baik. Jadi bukan sekedar memperpanjang waktu sekolah saja. Sekolah sepanjang hari berarti sekolah harus siap bertanggung jawab terhadap makan siang, waktu istirahat dan aktivitas bermain anak. Beberapa sekolah mungkin melakukannya, tapi arogan bila diterapkan secara nasional.?Penerapan full day school secara nasional harus ditolak. Karena itu, saya mendukung petisi yang dibuat oleh salah seorang orang tua.

Ide si menteri kenapa bersekolah sampai sore konon karena anak-anak liar di rumah pada saat orang tuanya bekerja. Menurutmu?

Pernyataan seorang menteri yang tidak mempunyai respek terhadap anak. Anak dianggap kertas kosong yang tidak mampu berpikir dan bertindak mandiri.

Pernyataan itu sebenarnya pengakuan bahwa pendidikan kita telah gagal.

Kalau pendidikan kita (yang dipimpin oleh menteri yang bersangkutan) sudah efektif, maka kita bisa percaya anak-anak bersikap dan bertindak mandiri. Pendidikan telah berhasil menumbuhkan budi pekerti anak sehingga bisa menahan diri dari godaan dan menyelesaikan urusannya secara mandiri. Ketika Menteri ME mengatakan anak liar, sebenarnya sedang mengakui bahwa pendidikan kita telah gagal.

PR terbesar kemdikbud itu apa sih?

Agenda terbesar kemdikbud secara normatif: Memahami anak. Banyak persoalan dan agenda yang tidak tuntas karena tidak dirancang berdasarkan pemahaman mengenai anak. Anak dianggap kertas kosong yang bisa ditanami “kebenaran” oleh orang dewasa. Ukuran anak baik adalah anak patuh, anak yang selalu menuruti kemauan orang dewasa, guru maupun orangtua.

Agenda terbesar kemdikbud bagi presiden: memilih menteri yang memahami anak.

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. SD dan SMP FULL DAY?

    Berarti jam sekolah diperpanjang? Kalau direalisasikan, berarti butuh dana dong? Murid setidaknya perlu dikasi makan, guru juga. Fasilitas perlu diperbaiki/ditambah dong? Materi pelajaran juga perlu dirancang?

    Intinya, semua butuh DUIT kan? Ya semoga saja ide ini dikeluarkan bukan demi penyerapan anggaran. Semoga!

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.