Presiden paguyuban alumni (5): Seorang Katolik?

30 Jan 2019 | Kabar Baik

Perlukah seorang presiden paguyuban alumni beragama tertentu? Tidak perlu! Meski De Britto adalah ?sekolah Katolik? tapi paguyuban alumninya tak perlu dipimpin ?yang katolik? juga. 

Lagipula tak semua siswa-siswa De Britto beragama Katolik kok! Ada juga alumni yang ketika duduk di bangku sekolah memeluk Katolik tapi kemudian dalam perjalanan hidup pindah keyakinan. Bukan berarti ia lantas tak jadi alumni lagi, kan? Tuhan membebaskan, pun negara juga mendukung kebebasan warga dalam beragama dan beribadah. Sah!

Kita malah patut berbangga karena dekade lalu paguyuban kita dipimpin seorang muslim, Haji Datuk Zweida Zulalhamsyah selama dua periode. Kini beliau malah menjabat dalam tataran organisasi yang lebih luas cakupannya, sebagai presiden AAJI (Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia). Bayangkan, seorang haji memimpin alumni seluruh institusi pendidikan Yesuit di Indonesia dan ia berasal dari De Britto!

Sehingga ketika ada beberapa orang yang mengusulkan seorang menjadi presiden paguyuban selanjutnya karena orang itu adalah seorang Katolik, pertanyaannya bukan lagi salah atau benar, tapi apa pentingnya memilih seorang pemimpin berdasarkan agama untuk paguyuban yang anggotanya begitu majemuk?

Ciri khas luntur?

Atau barangkali orang tadi memilih yang katolik karena takut ciri khas De Britto luntur?

Bagiku tidak akan!
Aku pernah bertemu dengan seorang lulusan De Britto tahun 1958 akhir tahun lalu di Girisonta. Awalnya aku tak tahu ia lulusan De Britto. Tapi dari caranya berbicara, topik yang dibicarakan hingga bahasa tubuh yang dipakai untuk menyampaikan membuatku akhirnya berani bertanya, ?Bapak dulu sekolah di De Britto ya?? Ia mengangguk, sorot matanya begitu bangga!

Pernah juga bertemu dengan seorang pembaca yang bapaknya dulu sekolah di De Britto. Ketika bertemu denganku, hal pertama yang dilakukan setelah menyapa nama adalah, ?Mas DV, bapakku dulu lulusan De Britto juga lho!?

Ciri khas De Britto tak hanya terletak pada identitas agama saja. Ia ada dalam karakter, denyut hidup serta tingkah laku alumni dalam mengaplikasikan semangat Man for Others dan Man With Others sepanjang hayat.

Jadi, siapapun asal pernah bersekolah di De Britto dan di kolom agama di KTP-nya tidak kosong-melompong, boleh kok jadi presiden. Kenapa tidak?

Mari ramaikan survey bertajuk  ?Siapa Presiden Alumni Selanjutnya? yang akan kubuka sampai sehari menjelang Hari Pesta Nama Santo Yohanes De Britto, 4 Februari 2019 mendatang!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.