Post De Britto Power Syndrome!

22 Sep 2018 | Cetusan

Pulang kembali ke almamater SMA Kolese De Britto dan diminta untuk memberikan sesi sharing bagi para murid adalah momentum yang membanggakan sekaligus mengharukan. Ibarat burung, aku kembali ke sarang, menceritakan semua hal yang kualami selama perjalanan-perjalanan hidup kemarin, baik-buruk, pedih-senang.

Adalah Bu Detty, Guru BP/BK dulu yang mengundangku untuk datang, ?Kamu sharing hal-hal yang kamu rasakan dan alami terutama bagaimana nilai-nilai yang kamu dapat di De Britto dulu kamu gunakan dalam hidup, Don!? begitu katanya via WhatsApp beberapa hari lalu.

Terakhir kali aku berkunjung ke De Britto adalah pada Agustus 2008, sepuluh tahun silam dan pengalaman itu pernah kutulis di sini. (klik untuk membaca).? Tadi pagi aku masuk lewat pintu Jl Solo/Jl Laksda Adisucipto dan belum apa-apa aku sudah dikejutkan sapaan ramah Pak Satpam.

?Mas Donny ya?? aku kaget tentu saja karena aku belum pernah bertemu dengannya.

?Iya. Kok tahu, Mas??
Ia mengulurkan tangan kepadaku bersalaman, ?Saya sering baca blog Mas Donny?? Aww? :)))

Masuk ke dalam, perasaanku campur-aduk tak keruan. Ada sejuta kenangan timbul tenggelam tak hanya tentang pengalaman tiga tahun sekolah di sana tapi lebih dari itu karena begitu banyak nilai-nilai yang kudapat dalam tiga tahun di tempat itu yang masih dan akan selalu kuhidupi dalam peziarahan di alam ini.

Aku menuju ruang BP/BK, disambut Bu Detty. Kami ngobrol sekitar satu jam sebelum acara tentang apa saja. Tentang perkembangan De Britto, tentang alumni, tentang hidup dan tentu saja tentang runutan acara yang diharapkan darinya.

Hingga tibalah waktunya aku menuju ke hall lapangan bola basket tempat acara diadakan. Di sana aku berjumpa dengan beberapa guru senior seperti Pak Sukris, Bu Endah, Pak Yuli, Pak Gandhi, Pak Aprin dan Abe, kakak kelasku yang juga duduk dalam tim paguyuban alumni.

Para peserta yang adalah semua anak kelas 3 (XII) berdatangan dan tempat menjadi penuh, acara pun dimulai.

Aku bercerita tentang bagaimana aku mengalami hidup sebelum masuk De Britto, pengalaman selama berstudi di sana yang begitu mengubahku hingga perjalanan hidup selanjutnya. Untuk yang terakhir ini, aku menekankan pentingnya para siswa untuk tidak mengalami ?Post De Britto Power Syndrome?.?

Apa itu?

Post De Britto Power Syndrome adalah istilah yang kubuat sendiri, sebuah sindrom yang bisa menjangkiti para alumni De Britto yang masih nggak bisa move on bahwa dirinya telah lulus dari De Britto.

Orang-orang semacam itu cenderung menggunakan cara bergaul yang dialami di De Britto yang unik, berkarakter namun sekaligus tak bisa diaplikasikan begitu saja di dunia luar.

Misalnya tentang cara kami menyapa satu sama lain yang unik (pernah kutulis di sini) yang belum tentu dapat diterima dengan mudah oleh orang lain yang tidak pernah studi di De Britto. Alih-alih membuat akrab, yang terjadi malah sebaliknya, bisa menyinggung perasaan orang.

Selain itu aku juga menceritakan bagaimana aku ditempa secara baik dalam masaku membangun dan bekerja di Citraweb (2000-2008) hingga akhirnya aku membuat keputusan-keputusan besar di tahun 2006-2008, menyelesaikan kuliah, menikah dan pindah dari Jogja ke Sydney, Australia.

Menjelang jam 12 siang, penjelasan kuakhiri dilanjut dengan sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan diantaranya adalah tentang keresahan dalam memilih jalur kuliah, tentang bagaimana menghadapi situasi dunia di masa mendatang hingga yang unik saat ada siswa yang bertanya bagaimana aku bisa tetap berkarir dengan baik sementara aku bertattoo dan berlubang telinga yang besar seperti yang kumiliki saat ini.

Acara ditutup oleh Pak Sukris yang menyampaikan kesimpulan dan mengucapkan terima kasih kepadaku, Bu Endah mengalungkan selendang berbordir ?De Britto? ke leher lalu saat yang paling menggetarkan itu tiba, kami menyanyikan Mars De Britto bersama-sama.

Aku berdiri berhadapan dengan ratusan siswa. Salah satu dari mereka memimpin dan memberi aba-aba, ?Bagi Tuhan dan bangsaku??

Kami menyerukan lagu yang begitu membanggakan itu. Gelegar suara para siswa, mata-mata mereka tajam menatap dengan kepalan tangan di dada kanan membuatku tak mampu lagi bernyanyi. Aku tak kuat menahan haru, kata demi kata yang kami nyanyikan adalah doa, adalah semangat, adalah kilasan hidup dan gelaran masa depan kami.

Gelora suara itu menghujam-hujam ke arahku dan kuat-kuat menyemangatiku ibarat burung untuk terbang lebih tinggi dan tinggi lagi untuk suatu waktu kembali dan berbagi lagi tentang hal-hal menarik yang akan pernah kulewati!

?Akulah putra SMA De Britto gagahlah cita-citaku! Murni sejati jiwaku jujur semangat hatiku!?

https://www.facebook.com/donnyverdian/videos/10156463439221893/

Terimakasih De Britto! Terima kasih semuanya? terimakasih sesungguh-utuhnya!

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Tosssssss! Pokmen AMDG yo suuu

    Balas
  2. Apik Don!

    Meskipun terpencar hidupmu
    dikelak kemudian waktu
    Ingat selalu di dalam hatimu
    ialah De Britto contohmu !!!

    Balas
  3. Apik Don. Aku aja yang bukan alumni sana merasakan getaran dan kobaran semangat yang kalian pancarkan lewat lagu mars itu. Salut.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.