
Untuk ketiga kalinya aku membuktikan bahwa Apple Inc dari sisi layanan aftersale-nya boleh jadi adalah perusahaan terbaik yang tidak pernah
main-main dengan kepuasan konsumen. Dulu, dua tahun yang lalu, ketika isu baterai laptop yang bisa meledak karena overheated,
aku mendapatkan replacement baterai iBook G4 lawasku secara cuma-cuma. Lalu nyaris bersamaan dengan itu, ketika isu earphone iPod bisa menyebabkan tuli pemakainya menyeruak,
aku kembali mendapatkan replacement earphone baru, kembali secara cuma-cuma.
Lalu yang ketiga, kualami tadi siang.
Awal ceritanya adalah semalam. Sekitar pukul 01.00 WIB menjelang tidur, aku ingat bahwa besok aku berencana pergi ke gym.
Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk berolahraga sembari mendengarkan alunan musik dari pemutar musik digital yang kupunya.
Maka kukeluarkan iPod U2 Special Edition-ku dari tas olahraga lalu
kuhubungkan ke iMac Desktop untuk keperluan recharge baterai.
Tapi tak seperti biasanya, tanda-tanda bahwa iPod telah terkoneksi dan tersinkronisasi belum muncul juga meski setelah sekian lama kabel USB telah tertancap.
Duh, aku jadi panik bukan kepalang.
Permasalahannya bukan soal isi iPod maupun merk iPodnya, tapi… ini soal U2-nya!
Kalian tahu betapa aku tergila-gila pada grup musik asal Irlandia yang digawangi Bono,
The Edge, Adam Clayton dan Larry Mullen Jr ini.
Bahkan sekian persen dari waktuku pada akhir pekan kudedikasikan untuk menuliskan artikel tentang lagu dan album mereka satu demi satu di blog ini.
Lebih dari itu, aku tahu betul bahwa iPod seri U2 ini dari awal mulanya sudah dibandrol “Special Edition”.
Jadi, Oh My God, bagaimana kalau benar-benar rusak dan tak dapat diapa-apakan lagi ?
Dimana aku harus mencari yang baru lagi ?
Harganya berapa ?
Terjangkaukah ?

Aku tak tinggal diam.
Tak sampai seberapa lama kemudian, informasi pun kudapatkan mengenai apa yang dialami iPodku dari internet.
Setelah membaca beberapa artikel, akhirnya kutahu bahwa ada yang salah dengan hardware-ku, hardware issue istilahnya.
Aku pun langsung mengikuti solusi yang ditawarkan pada situs web itu, namun hingga beberapa kali kuulang, semuanya gagal.
“Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan apabila cara di atas tidak berhasil adalah pergi ke Apple Service Provider!” demikian ungkap situs web yang saya baca.
“Mampus!” pikirku.
Aku semula berpikir bahwa ini berarti aku harus kembali ke Sydney Australia karena iPod-ku ini dibeli di sana.
Padahal ketika melakukan checking pada akhir masa garansi-nya, jatuh temponya adalah 1 November 2008!
Pada tanggal itu aku baru akan turun tangga dari pesawat yang membawaku dari Denpasar ke Sydney bersama istri!
Sementara aku harus ngelayap ke Chatswood atau ke city dengan tenaga yang sudah pasti terkuras karena kurang tidur malam sebelumnya di pesawat?
Dan lagipula, ketika mengintip kalendar, oh God! Itu adalah hari minggu, sangat kecil kemungkinan EStore buka di sana pada hari minggu!
Aku mulai putus asa… lalu kuputuskan untuk tidur.
Kadang ketika aku menemui masalah yang cul-de-sac seperti itu aku memilih untuk tidur karena biasanya setelah bangun dengan otak yang lebih segar aku menemukan solusi baru.
Kurang lebih pukul 10.00 WIB keesokan harinya aku terbangun.
Ketika mata terbuka, hal yang pertama langsung kupikirkan jelas nasib iPod U2-ku.
Aku pun segera bergegas menuju ke kantor dan mencoba mengulangi beberapa trik dan tips yang ditawarkan internet semalam. Beberapa kali mencoba dengan cara yang berbeda dan gagal
hingga akhirnya aku menyadari sepertinya memang sudah bukan kapasitasku lagi untuk mereparasinya.
Ketika harapan sudah semakin mengecil, tiba-tiba ilham datang.
Kali ini bukan dari Tunggonono, si preman ndeso itu tapi dari Yono, sahabatku yang juga Mac zealot sejati :)
“Bawa aja ke EStore Sagan, Don nanti kamu dapat replace di sana…” ujarnya lewat jendela YM.
“Lho, tapi ini kan barang Australia, Yon. Lagipula apa EStore itu Apple Registered Dealer?”
“Hehehe, nggak ngaruh mau barang dari manapun kan sama-sama Applenya. Iya, EStore itu ASP kok, Apple Service Provider.”
PRAISE TO THE LORD, Sodara-sodara!
Tak tunggu waktu lama, aku langsung bergegas ngeblas ke EStore dengan menggenggam jasad iPodku.
Dan benar saja, sesampainya di sana, tak butuh waktu dan omong-omong lama, mbak-mbak dan mas-mas pegawai EStore dengan ramahnya sudah mengatur dan menjelaskan proses replacement iPodku.
Akupun dibuatkan tanda terima bukti penyerahan jasad iPod untuk direplace kan dengan iPod yang baru.

“Pak Donny, sekitar 1 – 2 minggu iPod baru Bapak akan sampai di Jogja,” tukas mbak pegawai di sana menjelaskan dengan ramah.
“Oh, baik Mbak, saya berterimakasih sekali…”
“Sama-sama Pak Donny..” Akupun bergegas melangkah keluar dari toko.
Tapi tak sampai lima langkah, kuurungkan niatku untuk pergi dan berputar arah kembali ke meja kasir.
“Eh, tapi Mbak.. hmmm seandainya iPod dengan tipe yang sama dengan yang saya punya itu nggak ada stock di Jakarta, bagaimana?”
“Oh, kami belum pernah menemukan kasus seperti itu, Pak. Bahkan untuk iPod Classic yang model paling lama pun, mereka tetap ada stock.” Senyum simpul kembali menghias bibir mbak-nya.
“Hmm, tapi iPod saya itu kan special edition yang takutnya sangat limited, Mbak, Nanti kalau barangnya benar-benar sudah out of stock, piye?”
“Ya mungkin saja nanti Pak Donny akan dapat iPod seri lainnya. Tapi tak tahu juga, nanti saya kabari saja Pak begitu kami mendapatkan kabar dari Jakarta.” jawabnya sambil tetap tersenyum.
Ya sudah, aku yang sudah sedemikian terforsirnya pikiran memikirkan iPodku sejak semalam, hanya bisa menyerah pasrah.
Pasrah andai saja aku harus mendapatkan iPod yang bukan seri U2, aku akan tetap menerimanya sebagai satu kebaikan yang luar biasa dari Apple Inc.
Itung-itung jadi pemompa semangatku untuk sesegera mungkin menjemput konser U2 di Sydney nanti karena siapa tahu malah nantinya pada saat yang bersejarah itu aku
mendapatkan tanda tangan Bono dan ketiga kawannya di iPodku yang baru itu nanti?
Meski khayalan akan tetapi kalau itu benar-benar terjadi tampaknya iPodku bakalan jadi iPod yang benar-benar limited edition.
Ya, nothing impossible, kan ?

Tinggalkan Balasan