Sebagian orang yang suka bernostalgia, pada akhirnya memang tak bisa dipersalahkan kalau begitu merindukan ‘kenyamanan’ yang didapat ketika Pak Harto almarhum masih berkuasa.
Saking rindunya, mereka tak segan menuliskan pesan di pantat bak truk pengangkut material. Dengan bahasa super kenes dan personifikatif, mereka seolah ‘menghidupkan’ kembali sosok The Smiling General itu melalui pertanyaan menohok yang ?dilontarkan? nya, “Piye, Ngger? Kok isih penak jamanku?” (Bagaimana, Nak? Kok masih enak jamanku? -jw)
?Pemerintah jaman sekarang ini ngelakuin banyak kebodohan yang dulu juga dilakukan Orde Baru, tapi sayangnya mereka nggak melakukan kepandaian-kepandaiannya Soeharto..”
Bukannya membela rejim yang sekarang, tapi kupikir orang yang berperilaku seperti itu tadi adalah orang-orang yang perlu dibangunkan dari tidur.
Kenapa? Yang pertama, Pak Harto telah tiada. Kedua, dan kupikir yang lebih penting dari soal ketiadaan “Si Bapak” adalah, kenyamanan itu perkara subyektif kok; tergantung siapa yang memandang? wang-sinawang bahasa Jawanya.
Contoh nih, orang yang ketika jaman Pak Harto ditindas habis-habisan tentu bisa berkoar-koar menganggap bahwa tak ada jaman yang mampu menandingi kebengisan aparat Orde Baru hingga nanti ketika ia dibengisi aparat orde-orde yang lainnya, dan ketika itu terjadi barangkali ia akan mengenang orde yang membengisinya itu sebagai suatu orde yang lebih begis ketimbang Orde Baru.
“…belum bisa dibandingkan dengan Orde Baru karena kita toh masih berjalan dan belum lagi sampai di tujuan…”
Sebaliknya, orang-orang yang sekarang tak kebagian ‘kue’; tak seperti jamannya Pak Harto, tentu dengan mudah kalau punya truk angkut akan membuat grafiti yang tak kalah ‘nyinyirnya’ dengan apa yang kusebut di atas tadi sampai akhirnya ia kembali mendapat ?kue?nya.. sesuatu yang tak mungkin lah kan pemerintah sekarang bersih dan tanpa korupsi ya? Ya nggak sih? Hehe…
Tapi meski demikian, pemerintah toh tetap harus mencari tahu kenapa makin banyak ada kerinduan seperti itu muncul dan menggejala? Indikasi apa?
Jangan-jangan hal itu mengemuka karena kenyataan begitu banyak orang-orang merasa jengah dengan keterpurukan yang multidimensi yang terjadi akhir-akhir ini.
Jalan keluarnya barangkali pemerintah harus meyakinkan masyarakat bahwa mereka ini memang belum bisa dibandingkan dengan Orde Baru karena kita toh masih berjalan dan belum lagi sampai di tujuan; bertransformasi dari keadaan yang terpuruk oleh rejim Orde Baru menuju orde apapun itu yang kelak, ya semoga kelak, akan kita capai itu.
Tapi yang namanya proses meyakinkan ya tak hanya berhenti di silat lidah di media. Proses meyakinkan itu harus diselaraskan antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan.
Jadi kalau belum apa-apa para pemimpin malah menunjukkan gaya hidup yang wah dengan standard hidup yang tak menunjukkan bahwa kita sedang sama-sama di jalan ?keprihatinan?, pun melalui jalur korupsi (tak semuanya memang), bagaimana mungkin rakyat bisa diyakinkan bahwa kita belum sampai di ?tujuan??
Alih-alih berpikir bahwa kita masih di jalan, bisa-bisa rakyat malah berpikir sebaliknya, kita memang masih di jalan tapi jangan-jangan mereka, para pemimpin itu telah sampai di tujuan dan kita ditinggalkan?
Nah, kalau demikian ya jangan heran kalau tiba-tiba sosok Pak Harto jadi sosok yang begitu dikangeni banyak orang.
Simply, seperti kata teman saya, “Pemerintah jaman sekarang ini ngelakuin banyak kebodohan yang dulu juga dilakukan Orde Baru, tapi sayangnya mereka nggak melakukan kepandaian-kepandaiannya Soeharto.. setidaknya demikian!”
Ada yang tak setuju?

Tinggalkan Balasan