Piye, Ngger? Kok isih penak jamanku?

27 Agu 2012 | Cetusan, Indonesia

Sebagian orang yang suka bernostalgia, pada akhirnya memang tak bisa dipersalahkan kalau begitu merindukan ‘kenyamanan’ yang didapat ketika Pak Harto almarhum masih berkuasa.

Saking rindunya, mereka tak segan menuliskan pesan di pantat bak truk pengangkut material. Dengan bahasa super kenes dan personifikatif, mereka seolah ‘menghidupkan’ kembali sosok The Smiling General itu melalui pertanyaan menohok yang ?dilontarkan? nya, “Piye, Ngger? Kok isih penak jamanku?” (Bagaimana, Nak? Kok masih enak jamanku? -jw)

?Pemerintah jaman sekarang ini ngelakuin banyak kebodohan yang dulu juga dilakukan Orde Baru, tapi sayangnya mereka nggak melakukan kepandaian-kepandaiannya Soeharto..”

Bukannya membela rejim yang sekarang, tapi kupikir orang yang berperilaku seperti itu tadi adalah orang-orang yang perlu dibangunkan dari tidur.

Kenapa? Yang pertama, Pak Harto telah tiada. Kedua, dan kupikir yang lebih penting dari soal ketiadaan “Si Bapak” adalah, kenyamanan itu perkara subyektif kok; tergantung siapa yang memandang? wang-sinawang bahasa Jawanya.

Contoh nih, orang yang ketika jaman Pak Harto ditindas habis-habisan tentu bisa berkoar-koar menganggap bahwa tak ada jaman yang mampu menandingi kebengisan aparat Orde Baru hingga nanti ketika ia dibengisi aparat orde-orde yang lainnya, dan ketika itu terjadi barangkali ia akan mengenang orde yang membengisinya itu sebagai suatu orde yang lebih begis ketimbang Orde Baru.

“…belum bisa dibandingkan dengan Orde Baru karena kita toh masih berjalan dan belum lagi sampai di tujuan…”

Sebaliknya, orang-orang yang sekarang tak kebagian ‘kue’; tak seperti jamannya Pak Harto, tentu dengan mudah kalau punya truk angkut akan membuat grafiti yang tak kalah ‘nyinyirnya’ dengan apa yang kusebut di atas tadi sampai akhirnya ia kembali mendapat ?kue?nya.. sesuatu yang tak mungkin lah kan pemerintah sekarang bersih dan tanpa korupsi ya? Ya nggak sih? Hehe…

Tapi meski demikian, pemerintah toh tetap harus mencari tahu kenapa makin banyak ada kerinduan seperti itu muncul dan menggejala? Indikasi apa?

Jangan-jangan hal itu mengemuka karena kenyataan begitu banyak orang-orang merasa jengah dengan keterpurukan yang multidimensi yang terjadi akhir-akhir ini.

Jalan keluarnya barangkali pemerintah harus meyakinkan masyarakat bahwa mereka ini memang belum bisa dibandingkan dengan Orde Baru karena kita toh masih berjalan dan belum lagi sampai di tujuan; bertransformasi dari keadaan yang terpuruk oleh rejim Orde Baru menuju orde apapun itu yang kelak, ya semoga kelak, akan kita capai itu.

Tapi yang namanya proses meyakinkan ya tak hanya berhenti di silat lidah di media. Proses meyakinkan itu harus diselaraskan antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan.

Jadi kalau belum apa-apa para pemimpin malah menunjukkan gaya hidup yang wah dengan standard hidup yang tak menunjukkan bahwa kita sedang sama-sama di jalan ?keprihatinan?, pun melalui jalur korupsi (tak semuanya memang), bagaimana mungkin rakyat bisa diyakinkan bahwa kita belum sampai di ?tujuan??

Alih-alih berpikir bahwa kita masih di jalan, bisa-bisa rakyat malah berpikir sebaliknya, kita memang masih di jalan tapi jangan-jangan mereka, para pemimpin itu telah sampai di tujuan dan kita ditinggalkan?

Nah, kalau demikian ya jangan heran kalau tiba-tiba sosok Pak Harto jadi sosok yang begitu dikangeni banyak orang.

Simply, seperti kata teman saya, “Pemerintah jaman sekarang ini ngelakuin banyak kebodohan yang dulu juga dilakukan Orde Baru, tapi sayangnya mereka nggak melakukan kepandaian-kepandaiannya Soeharto.. setidaknya demikian!”

Ada yang tak setuju?

Sebarluaskan!

33 Komentar

  1. wah kalau soal kepemimpinan, jelas the smiling general lebih canggih Don…
    pada waktu itu dan sampai sekarang kita butuh pemimpin seperti itu. Tapi yang salah hanya kelamaan saja.

    Secara ekonomi dan program programnya selalu berhasil dilaksanakan. Secara korupsi hanya diambil sama kroni kroninya saja. sekarang sudah kayak di rampok sama semua orang. hehehehe

    intinya kalau mimpin jangan lama lama..

    Balas
  2. kangen timbul setelah berpisah… terasa berarti setelah pergi

    tentu akan ada juga yang kangen dengan jaman “sekarang” ketika jaman sekarang sdh menjadi masalalu

    salam,

    Balas
  3. hehehe untuk sekedar urusan perut mungkin iya… :)

    Balas
  4. orde yang sekarang memang harus banyak berbenah supaya dikenang orang dengan baik. sayangnya itu belum banyak dilakukan.

    kapan hari aku ketemu seorang ibu yg sudah berumur. dia bilang, orang mungkin banyak yg merindukan zaman pak harto. tapi zaman itu tembok pun bertelinga. kalau tidak hati-hati kita yg jadi korban. ya betul katamu, wang sinawang itulah yg terjadi sekarang.

    Balas
  5. mungkin yg dirindukan suasananya mas.. gak ada konflik perbedaan yg mencolok dan tentu keamanan bagi masyarakat yg lebih terasa..

    Balas
  6. yg jelas kita butuh p?mimpin otoriter tp baik hati, jawil @mbelgedez

    Balas
  7. Jaman Pak Harto itu saya masih kecil sampai SMA. Kalau ditanya jujur, enakan mana, rasanya sih sama aja.

    Mungkin tingkah polah pemimpin dan koruptor jaman dulu dan sekarang sama aja, bedanya cuma di informasi. Yang dulu mungkin ndak segamblang sekarang muncul di media massa.

    Balas
  8. hahaha… aku suka quote terakhirnya…
    ?Pemerintah jaman sekarang ini ngelakuin banyak kebodohan yang dulu juga dilakukan Orde Baru, tapi sayangnya mereka nggak melakukan kepandaian-kepandaiannya Soeharto.. setidaknya demikian!?

    setuju banget…! bahkan kebodohannya lebih parah dr orba… korupnya ga ketulungan…!

    Balas
  9. bukankah kekacauan sekarang warisan dari jaman dia semua?

    Balas
    • Jangan asal justifikasi. Jangan-jangan malah warisan mbahmu.

      Balas
  10. sistem kontrol rakyat ke pemerintah tidak berfungsi, ini yg dari dulu sampai sekarang masih sama, siapa pun yg memimpin, jika tidak ada koreksi dari yang dipimpin akan menuju arah yang sama, enak mana? subyektif, benar mana? subyektif. pertanyaanya apakah kita akan memperbaiki sistem yang salah, atau hanya mencerca sambil menunggu kesempatan menunggang awan.

    Balas
  11. nice bnget post nya :D

    Balas
  12. setiap era sepertinya ada plus dan minusnya.
    nostalgia pemerintahan lama sih boleh saja tapi tentu saja tidak mungkin gaya seperti itu diulang. pertama : pelakonnya sudah meninggal, kedua : tidak ada yang bisa menyamai reputasi si general bahkan keturunannya. ketiga : ini absurd sebenarnya, di era reformasi style korupsi sudah berbeda dengan dulu. kalau dulu terpusat di satu partai atau keturunan, sekarang tersebar sampai kaki tangan terkecil kecipratan. jadi jika dulu si general pelakon tunggal mudah dibuktikan kesalahannya, sekarang semua kasus menguap karena semua kebagian, semua bungkam. alhasil mereka lebih enjoy era pemerintahan sekarang (buat para pejabat dan partai).

    Balas
  13. iya.. kayaknya enakan zaman Pak Harto.. :)

    Balas
  14. Yang saya rasakan, presiden sekarang lembek dan lambat, tidak ada wibawanya di mata rakyatnya sendiri. Jadi bahan cercaan di media sosial. Dan… ah, sudahlah. ;|

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

    Balas
  15. Like this Om,… aku tahu zamannya ini enak walau waktu itu belum bisa banyak mikir :D

    Balas
  16. Jaman Soeharto mbah-mbahku ngomong enakan jamane pak Karno,lho, piye jal?

    Bagi banyak kalangan, kebaikan pak Harto lah yang menjadikannya “legenda”, namun bagi sebagian kecil pak Harto adalah batu sandungan. Demo sitik, culik! Ilang wes.

    Secara umum saya sih sependapat, enak jaman pak Harto karena saya tidak merasakan era pak Karno, jalan mulus-lus, pembangunan jelas, ada REPELITA (sekarang mana?), jaman masi SD dulu pasti dapat materi pembangunan jangka pendek, menengah, panjang. Jelas. Anak SD pun tahu kemana arah negeri ini nantinya.

    Piye Don? Kurang dowo ora?

    Balas
  17. Misal masih ada pak Soekarno mungkin beliau menjawab
    “Sak penak?e jamanmu to, isih tentrem jamanku, rakyatku podo jujur, polos ora kakean politik”.

    Walaupun ane ga ngalamin jaman Presiden Soekarno tapi ane mikir saat itu rasa nasionalisme rakyat Pak Soekarno sangat tinggi, bersatu memajukan bangsa tanpa ada pemikiran korupsi, kolusi dan nepotisme. Jadi budaya pola pikir korupsi, kolusi dan nepotisme diperkenalkan pada jaman siapa gan? Soeharto kah? sekarang nurun ke pemerintahan yang saat ini kita jalani hehe..

    Balas
    • salut untuk pumkin !!!

      Balas
  18. sekarang pada rusuh,,,, pada korupsi,,, bahkan menteri pun jadi koruptor,,,, presidennya kayak mayat hidup aja,,, ada to gak ngapa2in,,, cuek gitu,,,,

    presidene njaluk modar gan

    Balas
  19. suharto ahli fitnah.
    ahli hutang luar negri.
    Anjink

    Balas
  20. xa. Anda benar.
    Enak jamane pak harto.

    Enak enak mangan jatahe anak putu….!!

    Balas
  21. biarlah raakyat kecil mengatakan apa yang ia rasakan pada masa pak harto. tidaak usah kita memaksakan kehendak pemikiran kita kepada persepsip orang lain. untuk bisa mengetahui realias sesungguhnya perlu penelitian.namun gejala kerinduaan kepada zamannya pak harto memang realita yang ada. biarlah berjaalan secara alamiah. yg benci biarlah benci yang sayang biarlah sayang. semua ada tanggungjawabnya sendiri.

    Balas
  22. untuk semua orang yang taat sama kepentingan suharto, saya kira pantas mereka ngangeni su harto

    Balas
  23. Rakyat gak ada urusan korupsi kek,diculik kek,tpi tetap jauh lebih enak jaman suharto,dia mau turun ke petani,terjun ke sawah,dekat bgt sama kawulo alit,program2 nya jg jelas jangka pendek dan jangka panjang,keamanan pasti terkendali,yang buat rusuh lgs ciduk,rakyat butuh aman dan nyaman.hanya prabowo yang bisa menggantikan suharto.pinter,tegas,lugas, berani dan orang lapangan yg tidak segan2 turun ke sawah bersama petani.

    Balas
  24. hmmmm… penak kelon mas….,

    Balas
  25. Yes <3 <3 <3

    Balas
  26. jelassss…. enak sak iki……. q disik ra due motor saiki iso tuku

    Balas
  27. bagaimanapun Soeharto adalah sejarah INDONESIA

    Balas
  28. sekarang tingal kita nilai aj pemerintah
    bisa mensejahterakan, ngayomi, menetramkan dan bikin masyarakat tenang ngak
    kalau pemerintahan sekarang seperti itu ya kita rasakan saja

    kalau masa dulu pelajaran pmp pendidikan moral pancasila.
    pada masa itu
    kita harus hafal butir2 pancasila
    tau dan bisa memahami maksudy

    tapi sekarang gak sepenuhny tau tentang etika2 itu
    salah satu contoh:
    @ saling menghormati antar umat beragama
    @ mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi

    udah kita ambil dua butir itu aj
    apa sekarang sperti itu

    apa pemerintah mementingkan kepentingan umum dr pada kepentingan pribadi

    apa kah terdengar bahwa si A itu korupsi si B itu koruptor

    jangan lah lupa, panca sila
    dan butir2 pancasila

    pahamilah

    dulu dibuat sperti itu udah ada tujuany kelak

    yang berdapak pada masa sekarang

    JUJUR DARI HATI
    enak jaman PAK HARTO
    tapi ini hak asasi
    hak setiap orang berhak menila

    Balas
  29. monggo kerso panjenengan,,,,,,,
    nek aku tetep pengen sing luwih apik ketimbang jamane pak karno/pak harto/pak habibie/bu megawati/pak saiki mbuh kae sopo jenenge…………

    Sing penting urip ayem // kabeh urusan gampang // raono calo //persimpangan,indomart,lampumerah,depan mesin atm,d terminal,depan stasiun,pasar,dll===>gax ada lg orang yg ngaku sok-sokan preman ngatur parkiran atau lalulintas atau jaga keamananyg sok-sokan bs nanggulangi kerusuhan // kebutuhan hidup murah dan mudah serta terjangkau bisa didapat………

    Tiap kepemimpinan butuh proses masing2,,,,,

    silahkan rakyat menilai, jgn anarki dan saling membicarakan aib org lain itu sama saja kalian memakan bangkai org yg kalian perbincangkan…….

    @ugin///ane setuju pendapat ente ttg “PMP=Pendidikan Moral Pancasila”
    (–soal etika–)

    sokem

    Balas

Trackbacks/Pingbacks

  1. Jaman Dulu Hidup Lebih Mudah? « Menuliskan Sebelum Terlupakan - [...] entah tidak, itu tidak penting, posting saya kali ini terinspirasi posting mas Donny Verdian di sini. Dibilang nyontek juga…

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.