Pivotal Moment, bagaimana mengambil keputusan terbaik secara sadar?

11 Okt 2016 | Cetusan

Kalau hidup masing-masing dari kita ini adalah jalanan, barangkali hampir setiap detik dan inci, di dalamnya kita akan menemui lampu pengatur lalu lintas. Kenapa? Hidup ini sejatinya terdiri dari begitu banyak ruas pertigaan, perempatan atan bahkan perlimaan!

Pagi hari kita sudah dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan tidur atau bergegas untuk bekerja.?Siang hari, kita harus memutuskan mau makan apa, malam hari, kita pun lagi-lagi harus berpikir apakah sebaiknya pipis dulu atau nanti aja di tengah malam buta kamu terbangun hanya untuk pipis. Berkesimpulan. Berkeputusan.

Nah, catatan ini adalah tentang bagaimana kita berproses untuk mengambil keputusan. Aku menyebutnya sebagai pivotal moment karena kita berada di persimpangan. Ada banyak pivotal moments yang ada dalam hidup. Beberapa hal besar yang bisa kubagikan di sini di antaranya adalah saat aku pindah ke Jogja pada 1993, pilihan kuliah di tahun 1996, memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja pada 1998, membangun Citraweb dua tahun kemudian, keputusan untuk kuliah lagi di tahun 2006, menikah 2008, pindah ke Australia 2008 dan yang paling barangkali adalah keputusan untuk tidak pulang saat Mama meninggal, Maret 2016 silam.

Aku mau berbagi caraku mengambil keputusan sejauh ini. Simak di bawah, semoga berguna!

sadar

1. Sadar!

Raih kesadaranmu!
Jangan mabuk dan jangan pula membuat rangkaian pengambilan keputusan saat sedang tertidur dan bermimpi. Jauhi emosi dan jangan ada dalam buaian maupun tekanan. Ketika memutuskan untuk pindah ke Jogja, 1993, silam, aku yang baru lulus SMP memutuskan dengan sadar tanpa ada buaian ataupun tekanan dari orang tuaku. Bersyukur Papa dan Mamaku dulu adalah orang yang amat menghargai anak-anaknya untuk memutuskan yang terbaik. Mereka tak menekanku untuk pergi ke Jogja demi gengsi di mata kawan-kawannya, mereka juga sebaliknya tak melarang ego untuk berlama-lama hidup bersamaku padahal waktu itu aku baru 15 tahun mudanya.

2. Identifikasi persoalan beserta kemungkinan keputusan-keputusannya.

Dalam keadaan sadar, kenali persoalannya dan pilihan-pilihan keputusannya. Persoalannya adalah, ekonomi orang tuaku ambruk di tahun 1997. Pilihan-pilihannya adalah, aku bekerja atau aku menyelesaikan kuliah secepatnya. Itu contohnya!

list

3. Bikin daftar positif

Mulai segala sesuatunya dari hal yang positif. Ambil kertas, pensil lalu tuliskan sisi positif semua kemungkinan yang bisa dan hendak kamu pilih. Pilih sebanyak-banyaknya dan jangan takut salah. Saat aku dulu akhirnya memutuskan menyambut tawaran teman-teman membangun Citraweb, aku membuat daftar seperti ini. Hal-hal positif yang kutemukan saat itu diantaranya adalah bahwa dengan punya perusahaan sendiri aku tak perlu mandi pagi sebelum ngantor hahaha…

4. Renungkan dan berdoalah

Ambil waktu untuk merenung dan berdoa. Sebagai orang yang percaya Tuhan, aku percaya dua hal: hidup ini sudah diatur tapi di sisi lain Tuhan yang mengatur hidup juga memberikan kebebasan kita untuk memilih. Jadi, tanya padaNya! Tapi jangan berharap kamu akan mendapatkan bisikan-bisikan gaib dariNya meski untuk hal itu karena Ia Maha Besar tentu Ia juga Maha Bisa. Berharaplah bahwa Tuhan akan menyertai kita dalam proses pengambilan keputusan ini.

5. Kumpulkan informasi

Ketika akhirnya aku memutuskan untuk kuliah lagi, aku mengumpulkan informasi. Dari pilihan untuk kembali ke kampus yang sama atau mencari kampus yang baru, aku mengumpulkan informasi-informasi terkait dua pilihan itu. Bertanya pada yang lebih tahu dan tak meragukan suara yang kita pikir “Ah mereka tak tahu apa-apa” adalah hal yang baik karena tak selamanya yang kita anggap tahu itu benar dan siapa tahu justru di balik hal yang remeh-temeh itu ada kebenaran?

pray

6. Renungkan dan berdoalah

Lagi? Ya, lagi! Tanya, tanya padaNya! Dari semua yang sok tahu dan paling tahu, Ia yang Maha.. sekali lagi M-A-H-A Tahu.

7. Buat daftar negatifnya dan lawan sisi positifnya!

Tantang segala pemikiran positif yang kamu dapat di poin tiga dengan hal-hal negatif! Beranikan diri untuk memebuat daftar hal-hal kurang baik terhadap segala kemungkinan keputusan yang akan diambil.

Keputusan untuk pindah ke Australia adalah salah satu keputusan terbesar dan terberatku! Dulu aku memasukkan banyak hal negatif bila aku pindah ke Australia termasuk beberapa di antaranya adalah, “Nggak bisa nongkrong di Djendelo Kafe lagi tiap malam!”, “Nggak bisa begadang lalu makan nasi pedasnya Pak Doel Gejayan” hingga “Nggak bisa minta tolong Mas Darman (office boy) minta dibikinin teh dan dibeliin gado-gado pedas!”

Apa tujuannya? Membiarkan ide positif bertarung dengan ide-ide negatif memudahkan kita untuk melihat mana yang paling positif yang mengalahkan semua hal-hal negatifnya. Pertarungan dalam benak tentang kedua kubu adalah lebih baik ketimbang kamu sudah memutuskan lalu menyesal di kemudian hari hanya gara-gara kamu tak berani berpikir negatif tentang hal yang paling positif sekalipun!

8. Evaluasi

Tibalah masa untuk meng-evaluasi, tahap akhir sebelum memutuskan berdasarkan semua langkah yang sudah kita ambil di atas. Hal terpenting yang harus dilakukan saat ini lagi-lagi adalah kesadaran. Sadar bahwa kamu akan memutuskan, sadar bahwa keputusanmu akan merepresentasikan banyak hal, dirimu, diriNya dan orang-orang di sekelilingmu yang akan terkena imbas dari keputusanmu. Saat memutuskan untuk tak pulang ke Klaten waktu Mama meninggal, Maret 2016, aku hanya punya waktu sekitar setengah jam untuk melakukan proses pengambilan keputusan ini. Prosesnya sudah kuceritakan di tulisan yang kutuang di link ini, dan itu barangkali adalah proses tercepat untuk sebuah keputusan terberat karena aku melewatkan kesempatan terakhir melihat jenasah Mama tapi untuk hal yang lebih baik.

keputusan

9. Putuskan!

Pada akhirnya semua terbatasi tenggat… waktu! Putuskan! Jangan jadi banci dengan menunda-nunda keputusan atau meminta orang lain untuk memutuskan. Ini hidupmu! Hal terburuk yang akan kamu putuskan telah tertuang dalam rangkaian proses ini, jadi jangan ragu untuk mengambil yang terbaik! Dan ini barangkali yang paling menghangatkan hatimu, berpikirlah bahwa apapun keputusanmu, meski ada enam milyar orang meninggalkanmu karena keputusan itu, Tuhan yang menguasai kehidupan enam milyar manusia itu akan selalu bersama denganmu hingga akhir.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.