Pipis

17 Feb 2011 | Cetusan

OK, sekarang soal pipis.
Simpanlah dulu kesan ‘menjijikkan’ karena aku akan tanya pada kalian, “Penting nggak sih pipis itu?”
Bagiku pipis adalah perkara yang penting. Aku pernah mencoba nahan kencing sekitar 2 jam lamanya karena memang tidak ada akses ke toilet selama itu dan akibatnya, untuk beberapa saat setelah kencing tersalurkan, aku menderita anyang-anyangen, kata orang Jawa untuk mengistilahkan ‘pipis yang tak lancar’. Tak hanya soal ‘anyang-anyangen’, pentingnya pipis bisa dilihat dari perspektif lain, yaitu bahwa tubuh perlu dibersihkan dari racun hasil proses pencernaan kan? Tinja adalah untuk produk solidnya, dan air seni yang dikeluarkan selagi kita pipis adalah untuk produk cairnya. Jadi, sekali lagi, pipis adalah penting dan kuyakin kamu setuju dan percaya padaku :)
Saking pentingnya, di sini, nyaris di setiap tempat, terutama di pusat perbelanjaan dan perkantoran, dibangunlah tempat pipis umum yang digratiskan penggunaannya bagi siapa saja pengunjungnya. Tak hanya di tempat-tempat ‘tertutup’ seperti itu, di beberapa ruang terbuka yang banyak diakses publik seperti lapangan dan halte bus juga dibangun kubus tertutup untuk sarana tempat pipis.
Namun demikian, pernah suatu kali aku sangat kebelet pipis sementara aku ‘hilang arah’, mana toilet terdekat yang bisa kupakai. Wah, sempat bingung juga hingga akhirnya aku menemukan bangunan lalu masuk ke dalamnya dan berharap ada toilet ‘nganggur’. Beneran memang ada meski sayang waktu kubuka ternyata toilet itu terkunci. Kok bisa? Yup, karena hari itu adalah hari minggu, banyak kantor yang tutup meski ‘building’ tetap buka dan karena si building management company-nya barangkali beranggapan bahwa tak ada yang perlu mengakses toilet di minggu siang bolong seperti itu, mereka lantas menguncinya. Lalu bagaimana? Ah! Akhirnya aku memilih pakai ‘cara lama’ yang detailnya tak perlu kuungkap di sini :)
Ngomong-ngomong soal toilet umum, kalian tak bisa bilang bahwa apa-apa yang dari luar negeri pasti lebih bagus dan lebih bersih dari yang ada di Tanah Air. Memang banyak yang lebih bersih dan lebih bagus, tapi percayalah, yang kotor-kotor juga banyak. Kalau kamu ke toilet stasiun kereta api di kawasan-kawasan tertentu yang tak bisa kusebutkan di sini, toilet mereka sama saja amburadulnya. Mulai dari air yang berceceran di lantai (soalnya kebanyakan toilet di sini model kering jadi melihat air di atas lantai toilet jenis ini adalah sesuatu yang ‘tak wajar’), tempat dudukan closet yang tak kering, tissue berkeliaran dimana-mana, noktah-noktah hitam entah apa itu dan tak ketinggalan rambut-rambut yang rontok dan berceceran :)
Semua tak lain karena tergantung pada komunitas rata-rata penggunanya…semoga persepsiku ini benar. Toilet yang berada di kawasan elite biasanya lebih bersih meski belum tentu karena penggunanya yang takut kotor tapi setidaknya, kaum elit mau dan mampu membayar pasukan penjaga kebersihan toilet untuk selalu membersihkan toilet bahkan di saat toilet tak tampak kotor sekalipun.
Sementara pada kawasan menengah ke bawah, meski tak semuanya kotor tapi kalaupun iya, kita toh tak bisa menyalahkan mereka yang barangkali tak mampu membayar tukang bersih-bersih seperti yang dilakukan para elite. Untuk yang ini sebenarnya kita bisa menyalahkan mentalitas mereka yang tak mau menjaga kebersihan. Seyogyanya, di saat kondisi ekonomi belum cukup mapan untuk membayar tukang bersih, kita toh harus memulai diri dengan secara sawada menjaga kebersihan. “Belum kaya aja udah nggak bersih… gimana kalau ntar kaya? Kalau mainnya tetap nggak bersih entar kena tangkep KPK!” *eh
Nah, sekarang mari kita bicara soal bentuk toilet itu sendiri.
Adakah preference dari kalian (maaf kali ini khusus pria karena aku tak memiliki akses untuk masuk ke toilet wanita dan kata istriku, toilet wanita ya closet itu sendiri!) untuk memilih toilet ketika hendak pipis?
Beberapa saat sebelum mempublikasikan tulisan ini, aku sempat berlagak seperti orang gila karena hampir di setiap toilet umum yang kuhampiri, aku mengeluarkan gadget lalu memotret deretan toilet yang kosong. Berikut adalah foto-foto yang bisa kutampilkan sebagai pembanding bentuk antara satu dengan lainnya.

Suka yang mana?


Dari sekian banyak, setelah aku banding-bandingkan, sebenarnya tak ada yang menjadi toilet favorit dari sisi bentuk. Sepanjang itu adalah tempat yang diijinkan untuk di-pipis-i, sebenarnya tak masalah.
Hanya saja, lantas perhitungan favorit-non favorit itu jadi subyektif ketika ada faktor-faktor luar yang ikut mempengaruhi preference toilet itu tadi. Taruhlah soal ramai-sepinya toilet, becek-keringnya permukaan lantai, macet-lancarnya air penggelontor maupun air untuk mencuci tangan, bau pesing yang hebat atau justru bau parfum yang menyenangkan? Pokoknya banyak.
Dari kesemuanya itu, bagiku, yang paling mempengaruhi nyaman-tidaknya bertoilet justru adalah ramai-tidaknya. Aku sedikit bisa tahan bau, tahan becek dan tahan untuk membaui bau pesing tapi tidak dengan toilet yang ramai lagi bising. Paling nggak bisa andai harus pipis bersebelahan dengan orang lain. Bagiku, jika tak ada pilihan lain, lebih baik menunggu sesaat atau kalau perlu masuk ke closet dan kencing disitu ketimbang harus bersebelahan dengan orang yang sama-sama memiliki ‘senjata’ yang sama. Entah ya, rasanya risih saja, seperti tak nyaman sedang pipis kok diperhatikan orang lain? I know, ini cuma perasaanku saja tapi tetaplah!
Lalu bagaimana kalau pas lagi kosong dan kamu kencing disitu tapi tiba-tiba di tengah proses kencing berjalan ada seorang datang dan kencing di sebelahmu?
O well, aku memilih terpejam karena bagiku dengan mata terpejam, tercipta dua hal. Pertama, aku nggak melihat senjatanya… dan yang kedua, aku tak melihat ketika andaipun ia melihat senjataku. Fair enough, eh?
Adakah pengalaman burukmu menggunakan toilet umum? Untuk yang di Indonesia aku sudah banyak yang terlupa, tapi selama di sini aku pernah dapati yang terburuk kira-kira 2 bulan lalu. Waktu itu aku berkunjung ke sebuah ‘pasar’ yang sangat identik dengan daerah yang banyak dihuni suku bangsa tertentu. Setelah pesan makanan, mendadak aku kebelet pipis dan perasaan itu tak tertahankan. Maka, dengan bersicepat, aku pergi ke toilet dan membuang hajat seperti biasa. Bentuk toiletnya sendiri sebenarnya cukup awam di sini. Cuma dinding yang dilapisi stanless steel dan diberi aliran air serta saluran pembuangan di bawahnya, jadi kalau kita mau pipis ya tinggal dibuang ke situ dan air akan membawanya turun lalu hilang ke saluran pembuangan. Sialnya, kebanyakan toilet model seperti ini digunakan bersama-sama tanpa sekat pembatas.
Nah, ketika sedang asyiknya kencing dan memilih sisi terpinggir supaya tak ‘terkontaminasi’ ramai orang, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak dengan terburu-buru berdiri di sebelahku. Tampaknya ia sedang sangat kebelet dan dengan tergesa-gesa ia membuka ritsleting celana dan mengeluarkan senjatanya. Entah karena terlalu panjang (senjatanya) atau bagaimana, tangan yang seharusnya dipakai untuk ‘mengarahkan’ senjata itu kok ya seperti kehilangan kontrol dan alhasil, si senjata bebas menumpahkan air seni nyaris kemana-mana…

Di tempat inilah pengalaman buruk itu terjadi! Jangan tanya, "Kok sempat-sempatnya motret?!" :))


Sempat terdengar ujarnya pelan, “Upsss.. sorry!” Dan aku ya hanya mbatin, “Hmmm… munyuk!” karena tersadar lengan luarku yang tedekat dengan sisinya merasai percikan sesuatu.
Kalian tentu bisa menebak apa jenis percikan itu… tapi waktu itu, demi sebuah peace of mind dan pemikiran bahwa hidangan nikmat telah menungguku di meja makan restaurant, aku segera mengalihkan pikiran dan setelah menyudahi pipis, aku buru-buru mencuci tangan ke wastafel berulang kali banyaknya hingga kurasakan apapun percikan itu tadi sudah tak menempel di badan sama sekali.
Ada yang lebih buruk dari itu? Ngacung!

Sebarluaskan!

16 Komentar

  1. Hm..karena wanita, jadi aku tidak mengalami yang kau tulis di paragraf terakhir itu, Don :)
    Paling-paling..aku sebel kalau udah sangat kebelet sementara mesti antri, giliran udah dapet ruang, yang barusan pake lupa mengguyur limbahnya.

    Balas
  2. Kalau saya sedang kebelet pipis, dalam waktu tertentu masih dapat saya tahan, akan saya tahan terus, Om, jika itu berada di ruang publik. Sebab, jujur saja, saya teramat sulit mengeluarkan pipis di ruang-ruang umum itu. Entah kenapa ya, sepertinya telah menjadi sugesti tersendiri? Baru setelah sampai di rumah, atau di tempat yang lebih tertutup karena ada pintu dan terisi satu orang, langsung terluncurlah pipis itu.
    Saya ingat, anyang-anyangen itu rupanya dapat juga disebabkan oleh terlalu lamanya kita duduk di tempat yang panas, ya Om.
    Salam kekerabatan.

    Balas
  3. aku jadi penasaran pengen delok toilet e lanang :P

    Balas
  4. Iiwww!!!
    G banget sih bapak2 itu. Plis deh, masa lengan orang dikencingi. Melihat model toilet di atas, yg tanpa sekat keknya bukan fave orang2 deh. Aku rasa laki2 jg punya rasa risih, kan kesannya kek intip2an size ama sebelah. Lol. Dan rasa tdk nyaman jg apabila sebelahan dgn gay or bencong kali ya.
    Kalau aku paling jijik wkt ke toilet di lounge bandara Polonia Medan. Udah lamaaa bgt, gt keluar ternyata pegawai situ juga. Dan aku intip toiletnya, itu pupnya ada di atas closet! Buset. Kambing memang tu orang. Langsung aku keluar. Bagus tahan aja, pipis di pesawat!

    Balas
  5. untung gue perempuan…..
    *walaupun ga semua toilet perempuan bersih juga..*
    setidaknya………………
    hahahahaha…

    Balas
  6. wakakaka … aku bener2 takjub dengan tampilan foto2 tempat pipis di sini. bener2 deh. kok kowe sempet motret sih, don?
    aku ingat, di jogja aku pernah kebelet pipis. lokasinya di depan stasiun tugu. padahal, kalau mesti masuk stasiun kan ribet tuh. soalnya selain jalan masuknya jauh, mesti bayar peron. setelah tanya ke tukang parkir warung soto depan st tugu, aku diberitahu ada toilet di seberang. toilet itu memang sederhana, tapi cukup bersih. tak ada penjaganya. cukup bayar seribu … lega deh!

    Balas
  7. Waduhh Donny….saya tukang beser, jadi dimanapun berada mesti mencoba yang namanya toilet.
    Benar katamu, di LN tak selalu sama dengan kebersihan. Saya pernah ke London, waduhh..susah sekali….jadi sekalinya ketemu toilet, maka rame-rame ke sana walau belum kebelet. Pas ke Perancis, pakai coin dan kita nggak bisa memasukkan…hahaha.
    Lucunya saat naik kapal melayari sungai Seine, teman bisik-bisik…”ada toilet dibawah…” langsung deh kita antri ke sana….saya pernah menulis di awal-awal ngeblog
    http://edratna.wordpress.com/2006/12/08/mr-dan-mrs-toilet/
    Yang saya suka saat ke Malaysia, biarpun di pasar, toiletnya bersih…atau kemungkinan saya belum ketemu yang kotor ya?

    Balas
  8. Wah, aku gak pernah lihat bentuk urinoir seperti yang ada di fotomu Don. Ya iyalah, itu adanya di toilet pria ya? :) . Aku juga baru tahu, ada to toilet pria yang jejer-jejer tanpa penyekat gitu, jadi bisa terjadi ‘pameran senjata’? :D
    Aku termasuk sering pipis. Tapi di tempat umum, kalau toiletnya kotor, aku mending nggak jadi pipis (kecuali kalau bener-bener sudah nggak tahan … :( ). Dua minggu yang lalu aku ke Tunjungan Plaza di Surabaya. Toilet di food courtnya bagus dan bersih, tapi ajaibnya di dalam toilet tidak ada kran air maupun tissue. We lha, terus piye? Tisu memang disediakan, tapi hanya di satu tempat dan di luar ruang-ruang toilet (yang jumlahnya sekitar 10 buah). Lha kalau sudah terlanjur ‘buang-buang’ dan nggak bawa tisu (karena nggak tahu kalau nggak disediakan di dalam toilet), gimana dong? Aneh … :-o

    Balas
  9. pagi2 abis mandi seger, wangi pake parfum trus baca tulisanmu…hiii..langsung tutup hidung tanpa sadar…harusnya tak baca abis pulang kerja nih…heee….

    Balas
  10. yang lebih buruk ada gan, paling engga ente habis pipis langsung “nyubur”, lha ane pernah ngitung ternyata ngga semua cowo “nyubur” kalau habis pipis…
    yukkss….jadi waspada kalau salaman yaa….

    Balas
  11. btw, Mas Donny, di Bali pipis itu artinya uang, hehehe *OOT
    Saya jadi teringat sewaktu kecil, bersama sepupu saya yang lebih besar, saya menjahili salah seorang sepupu lainnya, tempat air minumnnya (botol terbuat dari plastik) diisi air pipis oleh seorang sepupu yang lain. Alhasil, baunya jadi pesing tak terkira, dicuci sekian kali tidak bisa hilang, hehe.

    Balas
  12. Aku koq malah ngakak baca ini, bukannya malah prihatin sama dirimu yg terciprat air itu yah :)) hahaha
    btw soal rambut2 yg tercecer di toilet itu.. mungkin ada yg ML di toilet trus ya gitu deh :D #nyengir #Frontal :D

    Balas
  13. Sama dengan Bu Tuti…
    aku paling nggak bisa BAK di toilet yang kotor… kecuali kepepettttt…bianget… dan aku biasanya sangu tissue sendiri, lebih yakin bersihnya gitu..

    Balas
  14. Kamu kok menginspirasi gue buat bikin tulisan blog tentang pipis-mempipis ini sih XD
    Kalo pengalaman pipis terburuk gue, hmmm standar sih kalo di toilet cewek, suka ada yang buang pembalut bekas sembarangan, atau tidak di-flush dengan baik, jadi perasaan campur aduk antara kebelet dan jijik itu sungguh menyiksaaaa… oohh dewaaaa kenapaaa tidak dikutuk ajaaa itu orang jadi ganjel pintu.

    Balas
  15. pernah Mas
    mungkin bisa jadi pencerahan juga
    waktu dapat kesempatan ziarah ke Yerusalem, salah satu turnya adalah ke King David’s Tomb
    ndilalah kebelet pipis akut
    ada toilet tp harus bayar dulu untuk masuk ke toiletnya sekian sen
    dan tidak menerima mata uang asing
    jadi kita mesti ngantri dua kali, nuker uang dulu baru ngantri lagi buang hajat..
    bisa kebayang kalau itu sudah mintip2..

    Balas
    • Bwakakakakka.. pipis ngenggon wae karo ngomong “Nyuwun sewu mbah Daud… kula pun mboten tahan niki” :) Mengko paling mung dibomb karo yahudi wakakaka…

      Balas

Trackbacks/Pingbacks

  1. Kemelut di Toilet Wanita | Ratri Adityarani - [...] di Toilet Wanita Tulisan ini agak-agak terinspirasi dari tulisan di blog-nya Donny Verdian. Gue jadi inget tentang kemelut yang…

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.