Niatnya mau makan enak, tapi gara-gara harus berhadapan dengan orang yang kurang berbudaya luhur, makanan seenak apapun jadi tak terasa enak karena hati jadi jengkel dan mulut yang seharusnya mengunyah makanan jadi mengunyah kata-kata ‘mutiara’, mengumpat apa yang semestinya memang harus diumpati.
Tulisan ini sebenarnya hanya jadi muara saja karena apa yang kurasakan ini sudah berlangsung sejak lama dan ketika ingin kutulis aku selalu lupa, terlalu asyik dengan topik yang lainnya.
Masalahnya sederhana, sliding door yang banyak dipasang di resto-resto yang kerap kudatangi di sini.
Karena tempat makan yang sudah penuh pada jam-jam makan siang/malam, tak jarang aku sekeluarga mendapat tempat duduk di tempat paling pinggir berdekatan dengan pintu sliding door dan itulah awal mula?segalanya. Kenapa? Karena biasanya ketimbang menikmati santapan, kami malah sibuk menggerutu dan memperhatikan bagaimana orang-orang menutup/membuka pintu itu.
Bagi sebagian orang, mengakses pintu sliding door adalah membuka, melewatinya lalu lupa menutup dan ini menjengkelkan karena pintu terbuka berarti suara bising jalan raya akan masuk dan udara yang rata-rata dingin karena kami berada di area sub-tropis akan mengalahkan panasnya masakan berkuah yang kami santap. Awal-awalnya kami biasa bersikap manis meminta mereka untuk menutup pintu. Tapi lama-kelamaan jadi menyebalkan.
Nah, iseng nih! Setelah sekian lama mengamati tipikal orang menutup pintu geser, ini adalah kriteria yang bisa kubagikan kepada kalian.
1. Sempurna
Ini tipe ksatria. Tak peduli apakah pintu sebelumnya dalam keadaan tertutup atau terbuka, setelah melewati pintu, tanpa disuruh, ia segera menutup pintu rapat-rapat.
2. Tutup separuh
Adalah mereka yang setelah melewati pintu, tanpa disuruh mereka menutup pintu tapi tak terlalu rapat. Entah apa alasannya? Barangkali pintu itu terlalu berat untuk ditutup atau barangkali ia merasa tak enak kalau sampai kegiatan menutup pintunya mengeluarkan suara “Brak” atau “Bruk” karena pintu bertabrakan dengan kusen.
3. Tutup! Masa perlu disuruh!?
Adalah mereka yang setelah melewati pintu, tanpa alasan apapun melenggang begitu saja nggak menghiraukan apakah pintu itu harus ditutup kembali atau tidak. Menghadapi orang seperti ini, aku biasa bersikap menegur mulai halus sampai kalau perlu agak sedikit kasar. Mulai dari, “Excuse me, can you please close back the door for me?” lalu “Sorry, close the door please!” sampai ke yang tensinya lebih tinggi, “Eh, tolong dong tutup pintunya lagi! (pake bahasa Indonesia karena tahu mereka dari mana)”
Nah, bagaimana cara mereka menanggapinya? Baiknya kita bagi dalam aras yang berbeda lagi.
3A. Oh maaf person
Mereka yang setelah kuminta menutup pintu kembali dan kumasukkan ke kategori ini adalah mereka yang akan kaget polos (ada kaget yang dibuat-buat soalnya) lalu berujar manis, “Oh maaf…” lalu kembali ke pintu dan menutupnya.
3B. Tuli seketika
Aku yakin mereka tak tuli karena sebelum masuk/keluar pintu mereka bercakap-cakap dengan kawannya tapi ketika lewat pintu, lupa nutup dan kuminta mereka tetap acuh saja. Kalau ngadepin orang seperti ini, kalau jaraknya belum jauh, ia kudatangi dan kuminta menutup pintu. Biasanya mereka mau sebagai tanda bahwa mereka memang bukan orang tuli!
3C. Ngeles person
Kalau yang satu ini beda. Ketika kuminta menutup pintu, mereka tak menutup pintu, tak pura-pura tuli melainkan menanggapiku. “Oh sorry tapi ada orang di belakang juga mau masuk!” Kalau ngeliat orang kayak gini rasanya piring di meja itu ingin kusematkan ke jidatnya ya!
Ada yang pernah ngalamin seperti apa yang kualami? Gimana reaksi kalian?
Tinggalkan Balasan