Tiga bulan sudah aku bekerja di perusahaan ini dan tak ubahnya aku tetap menjadi sosok Pin-Pin-Bo, Pintar-Pintar tapi tetap Bodo :)
Yang membuat Bodo terutama adalah menyangkut Bahasa Inggrisku.
Kantorku ini memang isinya bule semua sementara aku adalah satu-satunya Asia, berasal dari negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu dan berlidah Jawa.
Mereka berbicara, menulis bahkan berpikir menggunakan Bahasa Inggris. Sementara aku berpikir dan menulis dalam Bahasa Indonesia. Belum lagi, nyaris 8 jam kerja setiap harinya, 90 persennya kuhabiskan berbicara dengan komputer dan 10 persennya baru berbicara dengan mereka, melaporkan hasil pekerjaan, berdiskusi dan sedikit bercengkrama.
Sementara di rumah, aku berbicara dengan istriku dalam Bahasa Indonesia.
Pernah suatu kali istriku mengajakku berbicara dalam Bahasa Inggris, tapi aku cenderung malu dan lantas menolaknya sambil berujar “Pake bahasa kita aja Hon, pake English nggak romantis!” Teman-teman dekatku di sinipun lebih familiar dengan ungkapan “Eh, apa kabarmu?” ketimbang “Hi, mate! How is going?” meski mereka ya jauh lebih lama tinggal di sini ketimbangku.
Kalau ingin mengetahui seberapa parah Bahasa Inggrisku, berikut fragmen-fragmen yang bisa kuceritakan di sini:
Suatu waktu di Queen Victoria Building, aku pergi ke toilet.
Pada pintunya tertera tulisan “Push”. Aku lantas berusaha keras menarik kenop panel pintunya untuk membuka hingga akhirnya ada bule di belakang yang ternyata mengantri itu gusar berkata padaku “Hey, itu Push bukan Pull!”
O well, aku baru sadar Push itu ditekan, bukan ditarik.
Senin malam aku super bete dengan semuanya termasuk istriku.
“Kamu kenapa sih, Hon kok jadi bete gitu?”
“Besok aku presentasi!”
“Ya udah siapin!”
“Iya ini mau aku siapin, aku heran kenapa ya managerku cuma ngasih waktu tiga hari untuk persiapan, gila!”
Keesokan paginya, tergopoh-gopoh aku bertanya pada manajerku
“Jadi aku mesti siapin viewer buat presentasi sore nanti?”
“Ouh, presentasi apa?”
“Lho, update development phase yang kemarin itu!”
“Weh, kan Kamis… Thursday, bukan Tuesday!”
Dia tertawa, aku tertawa juga, tapi dalam hati aku merintih, bodohnya aku tak bisa membedakan Tuesday dan Thursday!
Beberapa waktu lalu, ada seorang sahabatnya istriku yang hendak menyumbang nikahku, ia mengaku telat tapi tetap keukeuh nyumbang meski nikahanku sendiri sudah Oktober yang lalu.
Dalam emailnya yang kebetulan ditujukan padaku, ia menuliskan “six hundred US Dollar”
Aku kaget sekaget-kagetnya, langsung kuangkat telepon menelpon istriku “Hon! Si itu nyumbang kita ENAM RIBU DOLLAR!
Gila nggak? Kita bisa belanja!”
Ah, aku tak perlu lanjutkan ceritaku bukan :)
Kadang aku merasa sangat tertekan dengan keadaan ini.
Setiap pulang kantor, di saat “bad english day”, aku selalu bertanya sambil merintih dalam hati “Kapan ya, Englishku bisa membaik dan cas-cis-cus tanpa harus bodo kayak gini?” atau yang lebih ekstrim lagi “Kapan ya para bule itu belajar Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa?”
Tapi untunglah itu hanya rintihan-rintihan sesaat.
Aku bukanlah tipikal orang yang mudah menyerah dalam keadaan apapun.
Maka yang kulakukan hanyalah berusaha dan terus berusaha. Setiap bangun pagi, aku selalu minta kepada Tuhan supaya Ia juga turut menjaga Englishku dan terutama membersihkan kotoran telingaku sehingga aku bisa paham apa yang mereka ucapkan.
Dan untunglah rekan-rekan kantorku adalah orang yang sangat mempedulikan hancurnya Englishku.
Mereka adalah guru-guru yang baik.
Setiap percakapan yang tak luput dari salah, mereka selalu menambahkan kata-kata pelengkap semacam “as well” dan akupun menirukan “eh iya… as well” dan mereka tersenyum.
Pernah pula aku mengeluhkan hal ini, eh tepatnya bukan mengeluh ya tapi bertanya pada manajerku.
“Gimana Bos, englishku kok payah gini, kamu ngerti apa yang kuomongin?”
“No worries! Kami semua ngerti kok!”
“Heh, ngerti apa? Ngerti apa yang kuomongin atau ngerti kalau englishku ancur?”
Manajerku tersenyum nggleges “Kami ngerti apa yang kamu omongin!”
Hal-hal seperti itu pada akhirnya menjadi sesuatu yang meng-energize-ku.
Membuatku berani untuk selalu mencoba berbahasa Inggris meski salah dan salah dan salah lagi.
OK sekian dulu ulasanku. Silakan termehek-mehek menertawakan Englishku!
Eh wait-wait, kalau demikian dimana letak pintarku kalau begitu?
Ah entahlah, as long as Bosku masih mau menggajiku itu sudah bisa kubilang cukup, meski tak terlalu pintar.

Tinggalkan Balasan