Pilihannya dua: mengecilkan rumah atau mengeraskan pondasimu

28 Jun 2018 | Kabar Baik

Yesus menggunakan analogi rumah dan pondasi untuk menjelaskan kaitan antara iman dan perbuatan seseorang.

Orang yang beriman dan melakukannya dalam hidup layaknya mereka yang mendirikan rumah di atas batu (lih. Mat 7:24). Untuk kalangan ini, Yesus menyebut sebagai Si Bijak. Sementara itu, mereka yang tak mempraktekkan imannya adalah yang mendirikan rumahnya di atas pasir (lih. Mat 7:26). Yesus menganggap mereka sebagai ?si bodoh?.

Kedua jenis itu sama-sama punya rumah. Yang membedakan adalah saat hujan, banjir dan angin datang. Yang berpondasi batu tentu akan lebih kokoh ketimbang yang pasir.

Melalui analogi itu Yesus memberikan kita gambaran yang utuh tentang bagaimana seharusnya figur orang beragama.

Banyak orang berpikir sempit bahwa mereka yang lekat dengan simbol-simbol ritual adalah mereka yang agamis. Padahal tidak demikian adanya. Mengakrabi simbol-simbol ritual itu penting tapi kita juga perlu menghidupinya dengan mempraktekkan pada level hidup sehari-hari.

Dalam renungan kali ini aku tak ingin jauh-jauh menggunakan contoh orang lain. Seperti kata Dilan, ?Biar aku saja!?

Kawan, setiap menulis dan merilis Kabar Baik di blog ini atau setiap diundang untuk pelayanan di Gereja dan persekutuan-persekutuan doa di Australia sini, kadang terbesit rasa khawatir meski tak banyak.

Khawatirnya?
Karena menggunakan analogi rumah yang dikatakan Yesus, melakukan hal-hal tersebut seperti halnya membuat bangunan rumahku semakin luas, semakin tinggi. Tapi persoalannya sekarang adalah, hingga titik apa keluasan dan ketinggiannya tidak menjadi titik lemah ketika hujan, banjir dan angin datang?

Nah kalau begitu kenapa nggak berhenti aja pelayanan supaya rumahmu tak semakin luas dan ketika ketiga hal di atas datang rumahmu akan baik-baik saja, Donny?

A-ha! Ini godaan namanya yang sejujurnya kerap muncul. Tapi setiap godaan itu hadir, buru-buru aku berpikir bahwa Tuhan telah memberiku talenta dimana aku bisa menulis, bermain musik, bernyanyi, memberi sharing iman dan sedikit pengajaran. Kalau tak kuoptimalkan untuk kemuliaanNya, dengan cara apakah nanti aku mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan?

Jadi tantangannya bukan berhenti melayani, bukan berhenti ?meluaskan dan meninggikan rumah?. Tantangannya ada pada pondasi!

Sebagai manusia lemah, aku tak tahu terbuat dari apa ?pondasi rumah yang kubangun.? Aku tak berani menjamin bahwa itu batu semata karena aku tak tahu apakah hujan, angin dan banjir yang kualami selama ini adalah yang paling berat atau tidak.

Tapi apapun itu aku tertantang untuk mengeraskannya supaya setidaknya kokoh seperti batu. Caranya? Berguna bagi sesama; melaksanakan semua kewajiban-kewajibanku bagi keluarga dan masih banyak lagi karena hanya dengan seperti itu pondasiku mengeras dan menguat laksana batu dan semoga benar-benar membatu.

Sydney, 28 Juni 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.