Pilih sehat atau sakit? Pilih benar atau dosa?

6 Jul 2018 | Kabar Baik

Ketika Yesus sedang santai-santai makan bersama banyak pemungut cukai dan orang berdosa, yang kebakaran jenggot malah orang Farisi.

Begini katanya kepada para murid Tuhan, ?Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (lih. Matius 9:11)

Yesus mendengar, Iapun membalas, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.? (lih. Matius 9:12)

Jawaban itu telak mengena!
Yesus datang memang bukan untuk orang yang benar (sehat) tapi yang berdosa (sakit).

Tapi kalau kita amati, ketetapan ini sering dijungkirbalikkan dan justru dijadikan alasan orang untuk tetap berdosa. Sebagian kalangan menganggap pentingnya untuk tetap berdosa dengan alasan, Yesus toh datang tidak untuk orang benar tapi untuk orang berdosa.

Anggapan ini tentu salah kaprah. Apa yang terjadi dalam Kabar Baik hari ini harus ditaruh dalam konteks pentingnya pertobatan yang ditawarkan Yesus.

Yesus datang memang untuk orang berdosa tapi Ia tidak mau seseorang terus-menerus berkutat dengan dosa. Untuk itu Ia menawarkan pemaafan seraya memberi kesempatan si pendosa untuk bertobat.

Justru kalau kita tetap keukeuh berkubang dalam dosa lalu apa gunanya pertobatan yang Yesus tawarkan?

Lantas bagaimana yang benar?
Karena Yesus menggunakan analogi orang sehat dan orang sakit, baiklah aku mau bercerita sedikit tentang hal ini.

Setahun terakhir aku melakukan diet ketat untuk alasan kesehatan. Makan dan minum benar-benar kujaga, tidur malam pun kuperpanjang. Olahraga juga bisa dibilang kulakukan setiap hari. Kurang apa coba?

Tapi musim dingin ini aku kena flu juga!
Udah berusaha menghangatkan tubuh, minum air yang banyak dan tetap diet serta olahraga, tapi tetap kena flu.

Dari situ, bagiku memahami Kabar Baik hari ini adalah,? kita tetap berusaha menjadi orang benar, orang sehat tapi tidak merasa sok sudah benar karena sebenar-sebenarnya kita suatu waktu ada salahnya juga. Sesehat-sehatnya kita bukankah sakit tetap ada dalam kemungkinan?

Kuncinya?
Merendahkan hati di hadapan sesama dan merendahkan diri di muka Allah.

Orang-orang Farisi dan Ahli Taurat kebanyakan gagal bukan karena kebenarannya karena kebenaran mereka berasal dari Taurat para nabi yang juga dihormati Yesus. Kejatuhan mereka karena tidak rendah hati pada umat dan rendah diri di muka Allah.

Oh, begitu Don? Gini aja deh? gimana kalau kita tetap jadi pendosa tapi rendah diri dan rendah hati?

Ih, nawar!

Sydney, 6 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.