Pilih bodoh atau bijaksana tapi egois?

17 Sep 2018 | Kabar Baik

Sebelum merenungi, aku akan membuat beberapa poin penting tentang Kabar Baik hari ini.

  • Ditulis oleh Matius, Kabar Baik hari ini menyoal tentang Kerajaan Sorga yang menurut Yesus seumpama sepuluh gadis yang membawa pelita untuk pergi menjemput mempelai pria.
  • Lima di antaranya bodoh, lima lainnya bijaksana. Dikatakan bodoh karena meski membawa pelita mereka tidak membawa minyak. Dikatakan bijaksana karena mereka membawa keduanya, pelita dan minyak.

  • Menjelang tengah malam, mempelai pria datang. Gadis yang bijaksana santai saja karena mereka sudah punya minyak untuk menyalakan pelita guna menjemput mempelai.

  • Yang bodoh? Kelabakan karena tak punya minyak.

  • Para gadis bodoh lantas meminta minyak pada yang bijaksana, tapi tak diberi. Perhatikan poin ini karena akan kupakai sebagai landasan renungan hari ini.

  • Tak ada jalan lain, para gadis bodoh itu lantas pergi membeli minyak. Sayangnya ketika mereka kembali, pintu telah terkunci karena mempelai pria telah dijemput masuk.

Apa yang kurenungi hari ini adalah, seandainya para gadis bijaksana itu mau untuk berbagi minyak dan tidak egois, akankah cerita di atas berubah?

Atau seandainya para perempuan bijaksana itu dengan kebijaksanaannya mempersilakan para gadis yang bodoh untuk tetap diam di tempat dan membiarkan mereka saja yang menjemput mempelai pria, akankah cerita di atas berubah?

Adakah kita pantas menamai lima perempuan itu bijaksana kalau mereka tampaknya tega dan egois terhadap lima yang lainnya?

Mempelai pria bagiku adalah representasi Yesus. KedatanganNya yang kedua nanti tak terduga dan kita diminta untuk berjaga-jaga karena ketidaktahuan kita atas kapan datangNya.

Pelita dan minyak bagiku adalah iman dan perbuatan. Pelita tiada berguna jika tak diminyaki, sama halnya dengan iman akan mati jika tak dilaksanakan.

Apakah kalau begitu memang benar kita harus saling egois terhadap sesama untuk meraih hidup kekal?

Bagiku tidak demikian.
Lima perempuan bijaksana dan lima perempuan bodoh adalah cerminan keping-keping wajah di dalam diri kita.

Ada sisi dari kita yang bijak namun ada pula yang bodoh. Sisi bijak kita haruslah egois dan tak kenal kompromi terhadap sisi bodoh kita karena hanya dengan begitu kita bisa menghidupi iman melalui perbuatan-perbuatan kita.

Dari sini, aku semakin dikuatkan dengan apa yang dikatakan Paulus kepada Timotius tentang mengakhiri pertandingan,?

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7-8)

Pertandingan yang dilukiskan Paulus bukan pertandingan antara kita dengan orang lain, bukan kita yang sok bijaksana dengan mereka yang kita anggap bodoh. Pertandingan itu antara sisi kita yang bijaksana dengan sisi kita yang bodoh.

Kamu pilih mana?
?Mengakhiri pertandingan kehidupan sebagai orang bijak atau orang bodoh?

Sydney, 17 September 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.