Piala Dunia 1990 di Italia adalah ajang kejuaraan sepakbola yang teramat sangat membekas dalam ingatan.
Waktu itu umurku 13 tahun dan kami baru saja pindah ke rumah baru di Jl Kaswari No. 24 Kebumen. Aku baru saja lulus dari SD Pius Bhakti Utama Kebumen dan diterima di SMP 1 Kebumen. Sambil menunggu hari pertama masuk SMP, 52 pertandingan yang digelar di Italia mulai dari 8 Juni sampai 8 Juli 1990 itu aku tonton semua melalui tayangan televisi bersama alm Papa padahal pertandingan diadakan sekira jam 1 dinihari.
Saking semangatnya, beberapa waktu menjelang kejuaraan, aku membuat kliping berita terkait Piala Dunia yang kukumpulkan dari Harian Kompas dan Tabloid Bola langganan Papa. Di belakang pintu kamar, kutempel juga foto semua kesebelasan tim yang berlaga.
Aku dan Papa membela Belanda tapi juga Argentina.
Kami masih sama-sama terkesima dengan trio Belanda, Marco Van basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard yang menjuarai Piala Eropa dua tahun sebelumnya.
Sementara kalau Argentina karena Papa menjagokannya konon sejak ia mulai tergila-gila pada bola di Piala Dunia 1978 berlanjut ke 1982 dan 1986.
Sayangnya kedua tim itu kalah.
Belanda kalah di 16 Besar melawan tim yang sama yang mengalahkan Argentina di final, Jerman Barat.
Aku ingat betul, saat penutupan setelah final, saat To Be Number One dikumandangkan terakhir kalinya oleh Gianna Nannini dan Edoardo Bennato, mataku sebak berkaca. Gak cuma karena Argentina kalah tapi juga karena event itu harus berakhir begitu saja.
Sejak saat itu ajang Piala Dunia tak lagi sama gregetnya di mataku.
Tahun 1994, aku sudah di Jogja. Tahun 2010, aku sudah pindah ke Australia. Waktu itu anak pertamaku baru empat bulan dan Papa bertanya lewat saluran telepon, “Kowe ora nonton bal, Le? Disiarke langsung ra nek neng Ostrali?”
Setahun kemudian Papa sudah nggak ada, meninggal dunia.
Sejak saat itu, sepakbola tak lagi sama bagiku karena aku kehilangan tandem dalam menyenangi sepakbola.
Piala Dunia 2022, greget itu kembali kurasakan.
Mungkin separuhnya karena nostalgia. Tahun 2022, sama halnya dengan tahun 1990, aku pindah rumah. Kali itu bukan rumah Papa tapi rumahku sendiri bersama keluargaku.
Tahun 2022, Argentina menjelma menjadi tim yang sangat kuat dan akhirnya juara setelah 36 tahun.
Di akhir final yang menegangkan melawan Perancis, aku membayangkan nonton bersama Papa dan menggumam, “Pa, Argentina akhirnya juara!”
Tentu bayangan itu buyar setelah sadar lagu penutupnya beda, Hayya Hayya (Better Together) yang sama sekali gak nempel di kepala. Aku pun sudah lupa lagunya seperti apa!
Piala Dunia 2026 sebentar lagi. Kamu jagoin siapa?
Tinggalkan Balasan