Pete

Baginda Raja diraja pernah berkata bahwa apa yang masuk ke dalam tubuhmu adalah tidak lebih penting dari apa yang keluar dari mulut dan sikap hidupmu.

Lalu banyak dari kalangan kita menggunakan itu sebagai tameng pelindung bahwa sejatinya makan daging apapun termasuk babi tak mengapa meski leluhur Israel sebenarnya justru sangat mengharamkannya.?Tapi mari menyelami apa yang ?menghampiriku? kemarin pagi saat aku menggosok gigi.

Pete.
Suka pete tapi tak suka ketika sesama kita yang sama-sama suka pete bernafas sebau dengan aroma pete adalah hal yang lumrah, biasa.

Pada kenyataan itulah perkataan Sang Baginda tadi kusandarkan. Pete yang masuk ke mulutmu tak kan menjadi masalah tapi ketika abab yang kau keluarkan daripadanya membuat sesamamu merintih dan menyumpahimu… ya jangan makan pete lagi.

Simple, eh?

Sebarluaskan!

Comments

10 responses to “Pete”

  1. suka pete, risikonya harus rajin gosok gigi mas

  2. @_kohchin_

    pandhito nyabdo: sing kharom kui sejatine tumindakmu sing culiko marang liyo

    1. Apik iki. Salam!

  3. Segala sesuatunya punya konsekuensi

  4. Pendek dan jelas tulisannya… setuju sama koh chin diriku….

  5. pete enak kok,,gak bisa kalau harus menghindarinya hehehe…

  6. Zizy Damanik

    Sama seperti mereka yang sama-2 menerima gratifikasi. Menerima mau, makan uangnya mau, tapi tidak ingin bila ketahuan habis terima gratifikasi.
    Makan pete mau tapi ga mau orang lain tahu. Lol.

  7. wah aku anti pete :D dan untungnya belum pernah harus menciumi pete yang keluar dari orang lain :D

  8. Saya tak suka pete Don……
    Dan semoga tak mencium bau pete dari orang lain.

    1. Hehehe jangan-jangan Ibu belum pernah dan belum kenal bau pete ya? :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses