Pertobatan membutuhkan kecerdikan

10 Nov 2017 | Kabar Baik

Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.
(Lukas?16:8)

Bendahara yang tidak jujur dalam Kabar Baik hari ini dipuji Yesus bukan karena ketidakjujurannya tapi karena kecerdikannya.

Bendahara itu diancam dikeluarkan oleh majikannya. Ia berpikir apa yang harus dikerjakan setelah kehilangan pekerjaan sementara ia tak mau mengemis, mencangkul pun tidak ada dalam keahliannya.

Ia bisa saja menagih piutang-piutangnya dari orang-orang yang meminjam. Tapi hal itu dihindarinya. Lebih baik baginya untuk mendapatkan yang lebih dari sekadar piutang itu yaitu kebaikan hati orang-orang di sekitarnya pasca pemecatan termasuk yang berhutang kepadanya.

Orang-orang yang berhutang kepadanya pun mendapatkan diskon. Yang harusnya bayar hutang 100 tempayan minyak, didiskon 50% jadi 50. Ada yang berhutang 100 pikul gandum mendapat potongan 20 pikul jadi tinggal membayar 80 saja!

Aku punya seorang kawan, sebutlah N, pria, 40an tahun, menikah. Suatu waktu, melalui kawan, N berkenalan dengan Z, wanita, 30an, sudah menikah juga.

Awalnya biasa saja, lama-lama hubungan N dan Z dekat. Awalnya saling bertukar kabar termasuk kabar keluarganya masing-masing, lama-lama jadi teman curhat ketika masing-masing sedang cekcok dengan pasangannya.

Hati bertaut dengan hati, N sampai pada satu titik dimana ia tersadar telah membagi cintanya. Bagi N, Z tak lebih sebagai figur pelarian karena dalam diri Z, ia tak menemukan sosok istrinya yang dibencinya.

N berada di persimpangan. Melanjutkan perselingkuhan tentu menyenangkan tapi ia sadar bahwa belum tentu kebahagiaan akan didapat lebih besar ketimbang kalau ia tetap setia pada istrinya.

N cerdik. Pelan-pelan ia menjauh dari Z namun tidak memusuhinya. Hingga akhirnya ia bisa kembali fokus pada keluarganya dan menyemangati Z untuk melakukan hal yang sama.

N tidak suci. N pendosa. N tidak jujur sebagaimana si bendahara itu. Tapi ia cerdik. Kecerdikan bagiku bukan berarti kepandaian. Kecerdikan adalah bagaimana kita akhirnya berani memutuskan memilih yang benar saat diri terjepit tawaran menyenangkan untuk jatuh ke dalam godaan.

Pertobatan membutuhkan kecerdikan.

Sydney, 10 November 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.