Pertemuan

10 Feb 2011 | Cetusan

Pernahkah kamu pergi ke almamater sekolah kamu, berkeliling sebentar lalu dengan jumawa berujar “Ah, sudah banyak berubah dan tak seperti dulu lagi. Payah!” Aku dulu pernah dan rasanya bangga betul membandingkan dan menghakimi alamater dengan cara itu. Seperti ada rasa bahwa sehebat-hebatnya murid-murid di situ saat ini, masaku dulu adalah yang superior.
* * *
Segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki masa edar masing-masing. Ketika kedua hal saling bertemu, seperti halnya kamu dengan kawanmu, kamu dengan komputermu, kamu dengan almarhum kakekmu, atau kamu dengan almamatermu, kalian berada pada masa edar yang sama. Sekalinya berpisah, berpisah pulalah masa edar itu dan masing-masing memiliki ‘pertemuan’ yang lain dengan sesuatu yang lain pula.

“Segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki masa edar masing-masing.”

Selama berada pada masa edar yang sama, secara otomatis, benak dan hati kita menangkap kesan terhadap ‘pertemuan” tersebut. Namun sayang, kadang kita terlampau cepat menyematkan kesan itu pada “sesuatu” ketimbang pada pertemuan itu sendiri.
Katakanlah kesan yang muncul ketika kamu bertemu kawan lamamu.
Kamu bertemu dengannya sesaat setelah ia diputus pacar. Ia tampak murung, sering membuang muka dan sedikit-sedikit berkeluh kesah tentang peristiwa di malam jahanam ketika ia diputus pacarnya. Sejak saat itu kamu memiliki kesan “Dasar! Lelaki kok nggak ada kuat-kuatnya… adanya mengeluh dan mengeluh terus!”
Padahal kamu tahu, kamu pun juga akan melakukan hal yang sama kalau sedang kedapatan nasib seperti itu, kan?
Atau mari kita ambil contoh kesan yang baik.
Komputermu misalnya. Kamu begitu mencintai komputermu karena selain ia adalah kado ulang tahun dari Papa, kamu memiliki kenangan romantis ‘bertemu’ pacar lewat chat box yang terinstall di dalamnya. Lalu otak dan hatimu merekam kesan yang begitu indah dengan komputer itu.
Hingga di titik ini semuanya sebenarnya baik-baik saja, kan?
Tapi apakah semuanya akan tetap baik-baik saja? Simak tulisan di bawah.
Tiga tahun tak pernah bertemu dan akhirnya kamu bertemu lagi dengan kawan lamamu yang mudah mengeluh itu tadi. Alangkah kagetnya kamu ketika mendapati ia sekarang telah berubah menjadi seorang manager sebuah perusahaan bonafit di kotamu? Prestasi dan tongkrongannya membuat cewek-cewek menggelanyut di lengan kekarnya. Akankah kamu mengubah kesan “mudah mengeluh” itu serta merta, atau malah kamu bergumam, “Cih! Si Pengeluh itu paling juga kembali berkeluh-kesah ketika tak ada lagi wanita di kelilingnya!”
Pilih mana?
Atau, singkat cerita soal komputer kesayanganmu tadi, sesaat setelah kamu lulus dan bisa beli komputer sendiri, Papa akhirnya mewariskan komputermu tadi ke saudara di kampung. Tiga tahun sesudahnya, kamu berlibur bersama keluarga ke kampung itu dan mendapati betapa komputer kesayanganmu dulu telah berubah. Ada sticker yang dipasang di sudut monitornya dan kamu menggumam, “ih, norak!”
Ada aplikasi yang tak kamu kenali sebelumnya serta, …Oh no! Saudaramu memasang foto pemandangan ala kalender rumah makan sebagai wallpapernya menggantikan gambar hati dan foto kamu serta pacarmu yang dulu kamu taruh sebagai wallpaper.
Sepertinya aku bisa menebak reaksimu! Kamu pasti akan berujar, “Ih, norak banget nih komputer!”
* * *

“Kenyataan yang terus-menerus berubah, kenyataan yang kita hindari dan kita memilih untuk terlelap pada mimpi masa silam yang statis.”

Menurutku, semua ini kembali ke soal ego.
Kita, dengan ego kita itu, seolah memiliki kuasa untuk menjadikan segala sesuatu di sekitar kita statis, atau setidaknya perubahannya sesuai kontrol kita. Semua demi menjaga kesan, kesan kita terhadap mereka entah itu baik maupun buruk.
Semakin kukuh ego kita, semakin kuat daya atur kita terhadap sesuatu di sekitar kita namun sebenarnya justru semakin kuat dan tinggi tembok yang kita bangun dan membatasi diri terhadap kenyataan yang ada. Kenyataan yang terus-menerus berubah, kenyataan yang kita hindari dan kita memilih untuk terlelap pada mimpi masa silam yang statis.
Pada awalnya, semula tampak kita yang memegang kontrol, tapi ketika kita terbangun dari mimpi dan menyadari betapa kita tak mampu membiasakan diri dengan perubahan, kita akan menyadari betapa kita telah jauh tertinggal dari kenyataan…
* * *
OK, sekarang aku lanjutkan cerita soal almamaterku di awal tadi.
Setelah puas menghakimi perubahan yang tak kuingini, aku dipanggil kepala sekolah yang tak lain dulu adalah guru matematika ketika aku masih bersekolah di sana. Sembari berjalan bersamanya ke ruangannya, aku melewati koridor dengan lemari kaca di sisi kanannya mempertontonkan puluhan piala dan piagam yang tak sempat kubaca detailnya.
“Ojo nggumun, Don! ( Jangan heran, Don – jw)“? ujar kepala sekolah membangunkanku dari ketertarikan mengamati piala demi piala.
“Oh, apa Pak?”
“Itu piala-piala yang diraih adik-adik kelasmu! Mereka banyak mendapat penghargaan di beberapa bidang studi!”
“Oh ya?”
“Iya! Tak hanya di tingkat kabupaten lho…ada yang nasional dan malah ada dua yang dari tingkat internasional!”
“Hmmm…”
“Pinter-pinter kan? Nggak kayak jamanmu dulu! Hehehehe…”
“Heh.. kenapa pak dengan jamanku?”
“Lha iya.. kamu dan teman-temanmu dulu kan bisanya cuma mabuk, ngrokok di kantin… trus pulang sekolah berkelahi dengan anak sekolah lain!”
Pak kepala sekolah tersenyum, bibirnya yang berhias kumis di atasnya melebar, sederet gigi yang masih rapi berbaris ditampakkan… dan aku… aku tertampar!

Sebarluaskan!

27 Komentar

  1. Komenku cuman ini: kapan bisa nampar kamu, Don? Dengan cinta kasih, pastinya.. Hihihi..
    Komen seriusnya:
    Yaa. Aku setuju. Setiap orang punya masa edarnya masing2. Dan tulisanmu ini nyentil aku. Personally :)

    Balas
    • Hehehe, aku ngga niat nyentil padahal.. niatku nggaplok :)

      Balas
  2. Hahahaaaa….
    Kita memang perlu tahu sudut pandang orang lain thd kenangan kita yang kita bangga2kan itu. Sama nih, baru2 ini temanku jg mengeluh, bahwa jaman kita dulu lebih enak dibanding sekarang (dlm konteks mendidik anak), tapi aku pikir dunia kan ber-rotasi terus ya. Boleh dikenang, tp semuanya punya masa keemasan masing2, jd tidak ada yg salah pula dgn jaman sekarang.

    Balas
    • Bener banget :) Tapi tetep viva 90-an ya :)

      Balas
  3. Andai saja setiap pertemuan dapat dimaknai untuk meraih kebaikan bersama, tentu lebih berharga , ya Om, serupa pertemuan Om Don dengan kepala sekolah itu. Bukankah pertemuan itu akhirnya mampu menggerakkan Om Don untuk berintrospeksi diri? Hahahahaha……
    Salam kekerabatan.

    Balas
    • Hehehe… *bingung mo ketawain apa :)

      Balas
  4. wah bener tuh…apalagi kalau proses inisiasinya kuat macam jurusan sayah…makin kuat pulak tuh ego “jaman kita dulu”. Dan cenderung menganggap rendah masa-masa sesudahnya. :)

    Balas
    • Wah, komentar ini memperkaya konten.. waktu menulis, saya melupakan unsur “inisiasi” :) Thanks!

      Balas
  5. jamanku..gak begitu ah.. *biar keliatan alim..* :P
    so ini yo.. apa pun itu ada expiry date nya.. hmm..hmm…
    hihi..

    Balas
    • Hmmm extended conclusion-nya ya emang soal expiry date sih.. tapi tulisan ini ngga ngupas ke sana :)

      Balas
  6. Ya memang begitu Don, waktu aku berkunjung lagi ke sekolah itu setelah hampir 20 tahun meninggalkannya, banyak yang beda, misalnya bakso pak Man sudah tidak jualan di pinggir lapangan bola dibawah pohon, tapi sudah punya kapling di kantin. Anak2 pakai seragam putih abu-abu, beda dengan jamanku yang boleh pakai celana jin kruwis-kruwis, kaos oblong yang bolong-bolong, rambut gondrong bahkan kribo ala Ahmad Albar, dan ciri khas lagi yang sesuai dengan ordo sekolah kita : sandal jepit !
    Kita memang terbaik pada masa-nya, sama halnya dengan adik-adik kelas kita, terbaik pada masa-nya. Itu justru akan memperkaya dan memberikan dinamika kehidupan. Bayangkan kalau saat ini masih pakai seragam ala punk… dianggep cah uedian dab ! Dan karena kita terbaik, maka kita juga harus bisa memberikan yang terbaik melalui apa yang kita lakukan saat ini dan seterusnya, karena nilai terbaik telah kita terima dalam diri kita “man for others”.
    AMDG

    Balas
    • Sakjannya ini bukan cuma tentang sekolah kita lho, Mas.. tapi bolehlah kan kita sama2 manukers :)

      Balas
  7. Kadang klo kita mengenang masa lalu itu bisa ketawa sendiri… apalagi waktu liat jaman-jaman sekolah ya mas don :D
    Rasanya pengen ngulang kenakalan di masa sekolah dulu.. :D

    Balas
    • Hehehe, saya sih ndak pengen nakal lagi hehehe

      Balas
  8. Aku suka sekali dengan ulasanmu ini, Don…
    Sejujurnya, aku juga selalu melakukan hal yang sama denganmu setiap kali berkunjung ke almamater lama. Selalu saja ada gumaman di hati; “ini kok begini ya sekarang?”. Setelah membaca tulisanmu ini, aku baru tersadar bahwa hal itu salah besar. Perbandingan yang aku lakukan itu tidak tepat. Dan terlalu egois jika mengatakan bahwa zamanku lebih baik dari zaman ini.
    Dari tulisanmu ini aku dapat mengatakan bahwa tidak ada yang berubah dalam kehidupan ini, yang ada hanyalah perkembangan. Semua berkembang sesuai dengan situasi yang mengitarinya… :)

    Balas
    • Makasih, Uda…
      Kuyakin kita punya sentimen yang sama.. aku dengan sekolahku dan kamu barangkali dengan pondok pesantrenmu…

      Balas
  9. kembali ke sekolah, belum pernah semnjak lulus.
    tapi ketemu dan berkumpul dengan teman2 lama, teman2 sekolah, sering.
    Lucu, ada temen saya, terkenal tajir dulu waktu jaman sekolah.
    kita gak dianggap sebagai temen.
    seiring dengan berjalannya waktu, kita semua sudah lulus kuliah. kerja sana, kerja sini. Tibalah saatnya untuk kumpul, awalnya dia ogah untuk ikutan kumpul. Akhirnya ikutan juga sih.
    Kumpul pertama kali, masih ada aroma kek jaman sekolah dulu.
    eh, pasti saling tau keadaan yang sudah sangat berubah dan berbeda pada masing masing diri, dia yang justru nyari. dan kalo gak mau ketemu, kita dibilang sombong. hadeuuhhh….

    Balas
    • Hehehe.. bahasa jawanya, “Wolak-waliking jaman”

      Balas
  10. tulisanmu ini mengingatkan kembali bahwa semuanya bisa dan akan berubah. kita secara pribadi sama sekali tidak punya kuasa untuk menahan perubahan itu. atau kita juga tidak bisa mengerangkeng masa lalu yang indah agar senantiasa enak dipandang dan dirasakan. perubahan itu entah yg tampaknya baik atau buruk, biarlah terjadi dan sebaiknya memang tak perlu menghakimi. tak perlu ada kelekatan..

    Balas
    • Ah, kata akhirmu itu menohok, kelekatan….

      Balas
  11. saya malah kebalik don..terkagum2 dengan masa sekarang..kayak ke kampus setelah 10 tahun lulus…cuman bisa bengong2 aja dengan fasilitas yg wow serta mahasiswa/winya juga, lebih pinterr…..kalo dulu pada naik motor ama mobil biasa, sekarang jaguar, mercy pada jejer kayak showroom mobil….heee…jaman sudah berubah, kalo saya tugasnya sekarang bagaimana menyadarkan para lulusan muda untuk memupuk mentalitas dalam dunia pekerjaan yg digelutinya karena jaman sekarang semua lulusan muda ambisi banget pingin jadi boss di usia muda.

    Balas
    • Wehehehe.. kasus yang langka nih, Bro!

      Balas
  12. ahahahahah, tertampar karena gigi pak guru lebih putih, rapih serta bersih ya dari sampeyan mas?

    Balas
  13. Semua ada jamannya Don…
    Bahkan pemimpin pun ada masanya…
    Ada orang yang bisa mengikuti jaman, namun ada juga yang istirahat aja….apalagi perubahan begitu cepatnya sekarang ini….
    Kadang kita perlu berhenti sejenak, merenung…agar kita bisa memahami diri sendiri dan perubahan disekitarnya…

    Balas
  14. Jujur, saya juga kadang merasa seperti itu, ada semacam rasa tidak bisa menerima perubahan yang terjadi pada suatu hal. Lalu memori otak pun selalu bernostalgia pada masa dimana kita merasa nyaman saat itu.

    Balas
  15. Cah Kolese memang ngono kabeh. Persis koyok semangat e pendiri Jesuit, Ignatius de Loyola. Masa mudanya kemaki, kemlinthi, nganggap awak e dewe sebagai tentara paling hebat. Tapi bar ketembak, pincang, dan sakit keras, barulah dia sadar. Kabeh cah Kolese mewarisi kesombongan masa muda pendiri Jesuit yang satu itu, mas Don. AMDG!

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.