Pernahkah kamu pergi ke almamater sekolah kamu, berkeliling sebentar lalu dengan jumawa berujar “Ah, sudah banyak berubah dan tak seperti dulu lagi. Payah!” Aku dulu pernah dan rasanya bangga betul membandingkan dan menghakimi alamater dengan cara itu. Seperti ada rasa bahwa sehebat-hebatnya murid-murid di situ saat ini, masaku dulu adalah yang superior.
* * *
Segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki masa edar masing-masing. Ketika kedua hal saling bertemu, seperti halnya kamu dengan kawanmu, kamu dengan komputermu, kamu dengan almarhum kakekmu, atau kamu dengan almamatermu, kalian berada pada masa edar yang sama. Sekalinya berpisah, berpisah pulalah masa edar itu dan masing-masing memiliki ‘pertemuan’ yang lain dengan sesuatu yang lain pula.
“Segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki masa edar masing-masing.”
Selama berada pada masa edar yang sama, secara otomatis, benak dan hati kita menangkap kesan terhadap ‘pertemuan” tersebut. Namun sayang, kadang kita terlampau cepat menyematkan kesan itu pada “sesuatu” ketimbang pada pertemuan itu sendiri.
Katakanlah kesan yang muncul ketika kamu bertemu kawan lamamu.
Kamu bertemu dengannya sesaat setelah ia diputus pacar. Ia tampak murung, sering membuang muka dan sedikit-sedikit berkeluh kesah tentang peristiwa di malam jahanam ketika ia diputus pacarnya. Sejak saat itu kamu memiliki kesan “Dasar! Lelaki kok nggak ada kuat-kuatnya… adanya mengeluh dan mengeluh terus!”
Padahal kamu tahu, kamu pun juga akan melakukan hal yang sama kalau sedang kedapatan nasib seperti itu, kan?
Atau mari kita ambil contoh kesan yang baik.
Komputermu misalnya. Kamu begitu mencintai komputermu karena selain ia adalah kado ulang tahun dari Papa, kamu memiliki kenangan romantis ‘bertemu’ pacar lewat chat box yang terinstall di dalamnya. Lalu otak dan hatimu merekam kesan yang begitu indah dengan komputer itu.
Hingga di titik ini semuanya sebenarnya baik-baik saja, kan?
Tapi apakah semuanya akan tetap baik-baik saja? Simak tulisan di bawah.
Tiga tahun tak pernah bertemu dan akhirnya kamu bertemu lagi dengan kawan lamamu yang mudah mengeluh itu tadi. Alangkah kagetnya kamu ketika mendapati ia sekarang telah berubah menjadi seorang manager sebuah perusahaan bonafit di kotamu? Prestasi dan tongkrongannya membuat cewek-cewek menggelanyut di lengan kekarnya. Akankah kamu mengubah kesan “mudah mengeluh” itu serta merta, atau malah kamu bergumam, “Cih! Si Pengeluh itu paling juga kembali berkeluh-kesah ketika tak ada lagi wanita di kelilingnya!”
Pilih mana?
Atau, singkat cerita soal komputer kesayanganmu tadi, sesaat setelah kamu lulus dan bisa beli komputer sendiri, Papa akhirnya mewariskan komputermu tadi ke saudara di kampung. Tiga tahun sesudahnya, kamu berlibur bersama keluarga ke kampung itu dan mendapati betapa komputer kesayanganmu dulu telah berubah. Ada sticker yang dipasang di sudut monitornya dan kamu menggumam, “ih, norak!”
Ada aplikasi yang tak kamu kenali sebelumnya serta, …Oh no! Saudaramu memasang foto pemandangan ala kalender rumah makan sebagai wallpapernya menggantikan gambar hati dan foto kamu serta pacarmu yang dulu kamu taruh sebagai wallpaper.
Sepertinya aku bisa menebak reaksimu! Kamu pasti akan berujar, “Ih, norak banget nih komputer!”
* * *
“Kenyataan yang terus-menerus berubah, kenyataan yang kita hindari dan kita memilih untuk terlelap pada mimpi masa silam yang statis.”
Menurutku, semua ini kembali ke soal ego.
Kita, dengan ego kita itu, seolah memiliki kuasa untuk menjadikan segala sesuatu di sekitar kita statis, atau setidaknya perubahannya sesuai kontrol kita. Semua demi menjaga kesan, kesan kita terhadap mereka entah itu baik maupun buruk.
Semakin kukuh ego kita, semakin kuat daya atur kita terhadap sesuatu di sekitar kita namun sebenarnya justru semakin kuat dan tinggi tembok yang kita bangun dan membatasi diri terhadap kenyataan yang ada. Kenyataan yang terus-menerus berubah, kenyataan yang kita hindari dan kita memilih untuk terlelap pada mimpi masa silam yang statis.
Pada awalnya, semula tampak kita yang memegang kontrol, tapi ketika kita terbangun dari mimpi dan menyadari betapa kita tak mampu membiasakan diri dengan perubahan, kita akan menyadari betapa kita telah jauh tertinggal dari kenyataan…
* * *
OK, sekarang aku lanjutkan cerita soal almamaterku di awal tadi.
Setelah puas menghakimi perubahan yang tak kuingini, aku dipanggil kepala sekolah yang tak lain dulu adalah guru matematika ketika aku masih bersekolah di sana. Sembari berjalan bersamanya ke ruangannya, aku melewati koridor dengan lemari kaca di sisi kanannya mempertontonkan puluhan piala dan piagam yang tak sempat kubaca detailnya.
“Ojo nggumun, Don! ( Jangan heran, Don – jw)“? ujar kepala sekolah membangunkanku dari ketertarikan mengamati piala demi piala.
“Oh, apa Pak?”
“Itu piala-piala yang diraih adik-adik kelasmu! Mereka banyak mendapat penghargaan di beberapa bidang studi!”
“Oh ya?”
“Iya! Tak hanya di tingkat kabupaten lho…ada yang nasional dan malah ada dua yang dari tingkat internasional!”
“Hmmm…”
“Pinter-pinter kan? Nggak kayak jamanmu dulu! Hehehehe…”
“Heh.. kenapa pak dengan jamanku?”
“Lha iya.. kamu dan teman-temanmu dulu kan bisanya cuma mabuk, ngrokok di kantin… trus pulang sekolah berkelahi dengan anak sekolah lain!”
Pak kepala sekolah tersenyum, bibirnya yang berhias kumis di atasnya melebar, sederet gigi yang masih rapi berbaris ditampakkan… dan aku… aku tertampar!
Tinggalkan Balasan