Ada banyak orang menyalahkan pagi!
Terutama setelah mengevaluasi betapa buruknya hari yang baru saja ia hadapi, tak jarang mereka dan kita berujar “Ini gara-gara kejadian tadi pagi!”
Dan kalau sudah seperti ini, alangkah beruntungnya malam!
Meski ia menjadi waktu mengumpat seorang yang mengevaluasi pagi, tapi setidaknya ia tak ikut diumpat.
Malam adalah sepi, waktu dimana pagi dimimpikan sebagai sesuatu yang lebih baik lagi ketimbang pagi sebelumnya.
Mari kita menamainya dengan istilah persoalan pagi.
Adalah persoalan yang kita dapatkan pada pagi hari, karena apa yang dilakukan ataupun didapatkan pada saat-saat pertama kita bangun pagi nyatanya memang sangat mempengaruhi keseluruhan hari, bukan?
Segelas kopi yang mengecewakan, sebutir telur yang terlalu asin digarami sebagai sarapan ataupun sepotong.. ya hanya sepotong tai tak lebih yang dapat dikeluarkan di WC karena perut sembelit tadi pagi.. semua seperti menjadi pemicu buruknya hari ini.
Ada pula bapak-bapak yang seharian jadi bete hanya karena ia menemukan satu lipatan kusut di lengan atas kemejanya yang semalam telah disetrika oleh istrinya dengan begitu halus serta rapi.
Persoalan pagi yang “mem-betei” hari barangkali adalah contoh dari kekurangkerjaan kita untuk menulari hal lain yang semula bukan masalah menjadi satu persoalan baru hanya gara-gara satu soal yang barangkali tak ada sangkut pautnya. Meski sebenarnya, persoalan pagi itu adalah juga tanda betapa kita adalah tetap manusia dan bukan robot yang bisa memiliki kemampuan untuk auto-koreksi terhadap satu kesalahan yang baru diperbuat hingga 100 persen lalu berjalan untuk melakukan hal lainnya dengan seperti tidak pernah mendapatkan masalah sebelumnya.
Tapi bukannya kita sebagai manusia dituntut untuk menjadi semakin baik hari demi hari dan dalam persoalan ini kita melihat bahwa barangkali menjadi seperti robot adalah pilihan yang terbaik ?
Tapi manusia kan bukan robot?
Dimana manusia memiliki tatanan moral, agama dan nurani yang menemani logika sedangkan robot hanya memiliki logika saja ?
Ah, sudahlah!
Sepertinya kalian mulai pusing membaca tulisan ini, demikian pula halnya denganku yang ketika tulisan ini dibuat, ketika ini pula memikirkan apa yang sedang kutuliskan.
Mari kita berpikir seandainya kita jadi presiden saja!
Masih dalam konteks persoalan pagi, kita seharusnya iri sekaligus salut pada mereka.
Persoalan pagi yang ia hadapi tentu kalau mau mengikuti kata hati adalah satu gundukan batu yang mudah goyah lalu menggelindung menimpa hari yang akan ia lalui.
Bagaimana kalau kita bayangkan, ia begitu bangun dan ditemani secangkir kopi lalu membuka koran edisi hari ini dan membaca kaum oposisinya memrotes gila-gilaan kebijakan yang dikeluarkannya kemarin ?
Bagaimana ia begitu bangun mendapatkan sms dari menteri ekonomi dan bilang “Bos, mata uang kita kena depresiasi lagi nih!”
Atau, masalah-masalah “sepele” lainnya seperti misalnya, semalam ia ditinggal tidur lebih dulu oleh istrinya karena rapat hingga larut dan ketika hendak melakukan “serangan fajar” ehhhh, tiba-tiba kok ya pas istrinya sedang kedatangan bulan?
Itulah!
Itulah kenapa kita yang kroco-kroco ini tidak bisa jadi presiden!
Kalau kita dihadapi persoalan pagi saja sudah meronta-ronta untuk sehari, sepertinya mimpi-mimpi menjadi presiden atau jabatan-jabatan lain yang membutuhkan konsentrasi tinggi setiap waktu akan hanya terlalu dekat dengan alam tidur saja namun jauh panggang dari api!
Ok, segitu dulu…
Mari kita bekerja kembali, melanjutkan hari dengan berusaha tetap fokus meski tadi pagi mungkin kamu mendapati persoalan yang bisa menjadi kerikil yang menyandung lalu menggelincirkan kamu di permukaan hari yang bergerigi!
*halah*

Tinggalkan Balasan