Persepsi buruk? Jungkirbalikkan!

5 Jan 2018 | Kabar Baik

Hidup ini sering bersinggungan dengan persepsi, baik maupun buruk. Seorang yang dipersepsikan baik ternyata pembunuh. Pejabat yang dipersepsikan jujur dan religius, tertangkap KPK. Sementara itu seorang bertattoo yang biasa dipersepsikan preman ternyata berhati emas.

Jangan terbuai oleh persepsi baik, jangan takut ketika dipersepsikan buruk. Yesus pun hari ini dalam Kabar Baik, dikisahkan dipersepsikan buruk oleh Nathanael dengan berkata, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:46)

Apa yang salah dari Nazareth? Bagi Yahudi, kota Nazareth bukanlah kota penting. Dalam konteks dan istilah kekinian, mungkin Nazareth identik dengan ?ndeso? atau ?kampungan? , apa ada yang baik yang datang dari ndeso dan kampung?

Tapi Yesus menjungkirbalikkan semua itu. Ia menjungkirbalikkan persepsi ?ndeso? dan ?kampungan? dengan melakukan kerja, kerja dan kerja! Mengajar di banyak rumah ibadah, bertingkah laku sesuai prinsip yang Ia ajarkan, membuat banyak mukjizat dan yang paling ultimatum, Ia mengorbankan diri di atas kayu salib untuk menyelamatkan semua orang termasuk mereka yang mempersepsikan buruk tentang diriNya.

Ketika kita dipersepsikan buruk, jangan menjungkirbalikkan dengan letupan emosi karena hal itu justru membuat persepsi mereka benar adanya. Pertarungan melawan keburukan tak akan bisa dimenangkan dengan keburukan yang lainnya. Jadi penjungkirbalikan persepsi buruk hanya bisa dimenangkan dengan perjuangan kasih seperti yang Yesus lakukan.

Seperti kisah seorang pengusaha.?Ia dipersepsikan macam-macam oleh pegawainya hanya gara-gara ras dan agamanya, ?Ih! Udah cina, kristen lagi! Pasti pelit! Pasti nggak merhatiin kita deh!?

Tapi ia tetap teguh pada Kasih Allah yang jadi pegangan hidupnya. Pengusaha itu menjungkirbalikkan persepsi itu dengan terus-menerus berbuat baik kepada sesama tanpa pandang bulu termasuk karyawan yang mencemooh berikut keluarganya. Ketika karyawan sakit, ditengok dan dibantunya. Ketika anak karyawan butuh pinjaman uang untuk biaya sekolah, diberikannya. Itulah penjungkirbalikan persepsi.

Apa persepsi orang terhadapmu? Persepsi baik? Pertahankan dan pertanggungjawabkan dengan berkarya lebih baik lagi.

Persepsi buruk? Jungkirbalikkan dengan kasih! Karena seperti kata Ebiet G. Ade, mumpung kita masih diberi waktu?

Sydney, 5 Januari 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.