Perlawanan yang migunani tumraping liyan

29 Des 2017 | Cetusan

Sebagai alumni SMA Kolese De Britto, rasa banggaku membuncah ketika tahu acara reuni tahunan yang digelar 27 Desember 2017 lalu sukses besar!?Acara reuni tahunan yang disebut sebagai ?Manuk Pulang Kandang? atau MPK kali ini sejak lama memang digadang-gadang bakal menghadirkan atmosfir yang berbeda dari biasanya.

Nyatanya memang beda!

Mengambil tema cukup ?berat? meski aktuil,? ?de Britto untuk Kebinekaan?, MPK kali ini menghadirkan orator pihak luar. Tak tanggung-tanggung oratornya adalah Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian yang juga adalah putri Presiden Republik Indonesia IV, Abdurrahman Wahid, Mbak Alissa Wahid.

Aku sendiri tak datang dalam acara itu tapi ?hadir streaming? alias mengikuti jalannya acara dari Australia.

manuk pulang kandang

manuk pulang kandang

Orasi Mbak Alissa menarik.
Tidak berapi-api tapi sarat makna. Dan jika aku boleh menyimpulkan, benang merah paling kentara dari orasinya adalah bagaimana kita, anak bangsa, khususnya alumni SMA Kolese De Britto tidak boleh diam dan harus terus melawan maraknya aksi konservatisme dan radikalisme yang dikhawatirkan bisa menggoyahkan kebinekaan bangsa.

Persoalannya sekarang bagaimanakah wujud perlawanan itu?

Karena kita ini ?anak De Britto?, sudah selayaknya perlawanan kita pun juga ?nDe Britto?! Perlawanan haruslah berlandaskan pada semangat Man For Others yang kita pelajari dan hidupi sejak bersekolah di sana. Perlawanan yang jika kuterjemahkan secara bebas dalam Bahasa Jawa (supaya lebih membumi -red) adalah perlawanan yang Migunani Tumraping Liyan (Berguna untuk sesama -jw).

Gambaran untuk melawan yang migunani tumraping liyan itu tergambar sempurna dalam apa yang pernah dilakukan almarhum Sinuhun Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

manuk pulang kandang

Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Saat Jepang menjajah Indonesia, Sinuhun yang Raja Jogja itu memutar otak bagaimana caranya untuk melawan rencana Jepang mengaplikasikan sistem kerja paksa romusha di Jogja. Lalu munculah ide membangun Selokan Mataram sebagai sistem irigasi yang mengelilingi Jogja sisi utara.

Di hadapan Jepang, Sinuhun berkata bahwa orang-orang Jogja sedang sibuk membangun proyek irigasi jadi tak bisa ikut romusha. Jepang menerima alasan logis Sinuhun, bahkan mereka ikut membantu menyelesaikan proyek Selokan Mataram.

Itulah perlawanan yang migunani tumraping liyan! Perlawanan yang berguna bagi sesama. Bagi pria-pria Jogja yang terbebas dari romusha dan bagi warga Jogja secara umum karena bisa mendapatkan saluran irigasi hingga kini.

Dalam konteks perlawanan terhadap konservatisme dan radikalisme, pertama-tama melawanlah dengan? melanjutkan serta menularkan kesadaran pentingnya berbineka itu dalam hidup dan lingkungan kita masing-masing. Dengan tidak membedakan satu-sama-lain apapun asal-usulnya hal itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan pijakan awal dalam melawan.

Tapi kalaupun harus head-to-head dengan kaum itu, utamakan tata-cara hukum karena sekali lagi kita ini alumni dari sekolah yang bermartabat, tidak ndeso dan tidak mengutamakan okol ketimbang akal.

Melawan konservatisme dan radikalisme adalah juga dengan melawan nilai-nilainya dalam praktek hidup sehari-hari. Bukan melawan orang-orangnya karena dalam ?Migunani tumraping liyan?, semua orang termasuk mereka yang berlawanan paham adalah ?liyan? adalah sesama yang jadi obyek yang harus diperhatikan dan dijadikan tujuan kegunaan (migunani).

Rasanya juga tak elok kalau kita melawan secara frontal. Misalnya dengan menunjukkan sikap ketidaksukaan kita (contohnya walkout) saat seorang pejabat yang kita cap anti kebinekaan datang ke almamater dan berpidato. Seberapa besar faedah perlawanan yang seperti itu terhadap sesama? Seberapa dahsyat aspek manfaat yang kita sumbang untuk melawan radikalisme dan konservatisme itu sendiri?

Sebaliknya, dengan frontal seperti itu, apakah tidak jadi bumerang bagi kita dan almamater yang kita cintai? Bukankah tidak mungkin hal itu jadi senjata bagi kaum konservatif dan radikal untuk lebih menekan dan menghabisi kita?

Jadi, mari teruskan melawan dan jangan hanya diam! Resapi apa yang dituturkan Mbak Alissa dan jadikan sebagai pitutur yang kuat untuk masuk ke tahun yang baru nanti. Junjunglah tinggi prinsip migunani tumraping liyan demi kemuliaan Allah yang lebih besar, Ad Maiorem Dei Gloriam!

De Britto! De Britto! De Britto!

Donny Prima Verdian, alumni 1996

Berita terkait acara MPK di atas bisa dibaca di sini.

Orasi selengkapnya bisa dilihat di sini:

 

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.