Seorang pengangguran, suatu waktu berdoa di kuil.
“Tuhan, berilah aku pekerjaan! Aku berjanji 10 persen dari gajiku, berapapun besarnya itu, akan kuberikan kepadaMu!”
Ketika matanya masih terpejam, bibir Tuhan tersungging. Ia senang!?Lalu doanya dikabulkan. Si penganggur mendapat pekerjaan dengan upah 10 dollar sebulan.
Sesuai janjinya, ia lantas mengangsurkan sedollar untuk disumbangkan dan demikian seterusnya hingga setahun kemudian, ia mendapat kenaikan gaji, 20 dollar per bulannya.
“Terima kasih, Tuhan! Ini kuberikan 2 dollar sesuai janjiku tahun lalu!”
“Aku bisa membantumu berdoa supaya gajimu diturunkan sehingga kamu tak merasa keberatan lagi dalam menyumbang. Bagaimana?”
Mata Tuhan berbinar terang! Ia melipatgandakan gajinya. 30 dollar, 40 dollar.. 100 dollar hingga akhirnya beberapa tahun kemudian, si penganggur itu kini telah kaya raya dengan gaji yang fantastis, 10 ribu dollar per-bulannya!
Ia kembali ke kuil. Di depan altar, berdoa, tapi kali ini dengan mata terbuka.?”A… aku sumbangkan 1000 dollar, sesuai janjiku kepadaMu!”
Tuhan riang gembira!
Hingga bulan ketiga setelah kenaikan gajinya, orang tadi terus menyumbang setiap tanggal gajian tiba hingga suatu waktu masuk bulan keempat, ia datang ke kuil tapi tak menuju altar. Ditujunya tempat seorang tetua agama berdoa.
“Hi Tetua…”
Sang Tetua masih memejamkan mata. Parasnya tampak begitu tenang meski jasadnya telah semakin renta. “Hi, anak muda!” balasnya.
“Bolehkah kubertanya kepadamu?”
Sang Tetua tersenyum. Matanya tetap terpejam. “Tentu… bertanyalah!”
“Apakah dan adakah sangsinya untuk mereka yang mengingkari janji kepada Tuhan? Adakah tuhan lantas marah kepadanya?”
Si Tetua diam sejenak. Air mukanya tak berubah dan matanya tetap terpejam. “Hmmm.. coba lanjutkan pertanyaanmu.”
“Beberapa tahun lalu di sini aku pernah berjanji untuk menyumbang 10 persen dari penghasilanku untuk Tuhan. Tapi setelah kupikir-pikir, dengan gajiku yang sekarang, menyumbang 1000 dollar setiap bulan kepada tuhan itu bukan hal yang mudah…”
“Maksudmu?”
“Terlalu banyak! Aku ? aku ingin mengingkari janji itu. Bagaimana menurutmu? Bisa?”
Keheningan menyeruak hingga Tetua mendehem lalu menjawab, “Aku akan bantu sebisamu! Sejujurnya aku tahu apakah mengingkari janji kepada Tuhan itu bisa? Tak tahu juga apakah sangsinya kalau kamu tetap berniat untuk melakukannya? Tapi satu hal yang kutahu dan kupikir ini bisa membantumu keluar dari masalah.”
“Apa itu? Aku mau!”
“Aku bisa membantumu berdoa supaya gajimu diturunkan sehingga kamu tak merasa keberatan lagi dalam menyumbang. Bagaimana?”
Lidah si mantan penganggur itu mendadak menjadi kelu.
Thanks,?Maspolin untuk ceritayang indah ini. Istriku menuturkannya ulang sepulang pertemuan malam itu lalu kurangkai dalam benak dan hadirlah di sini!
Tinggalkan Balasan