Perkara Etika

8 Feb 2024 | Cetusan

Akhir-akhir ini banyak orang bicara etika. 
Sesuatu yang bagi sebagian orang membingungkan sementara bagi segelintir dipakai untuk membuat orang lain bingung meski dia sendiri juga barangkali kalau ditodong tentang apa dan bagaimana itu etika… ya bingung juga. 

Beberapa percakapan yang muncul terkait “etika” akhir-akhir ini dalam wujud pernyataan dan pertanyaan kira-kira begini,

Lho yang penting kan gak melanggar hukum?

Dimana letak tidak etisnya?
Kalau dianggap tidak etis bagaimana dengan yang lain?

Tapi sepertinya tidak ada yang lebih memiliki signature tersendiri ketimbang ucapan jenderal pecatan yang maju untuk kesekian kalinya dalam pemilihan presiden, “Etik?! Ndasmu etik!”

Aku sendiri sebenarnya tak paham betul tapi nukilan kisah masa laluku di bawah ini barangkali bisa membuatku ingat lagi tentang apa itu etika dan semoga juga buatmu.

Pada suatu hari minggu di tahun 1984, aku yang saat itu berumur enam tahun diajak bertamu oleh kedua orang tuaku ke rumah kerabat di daerah Manjungan, Klaten.

Setelah lima menit duduk, istri sang tuan rumah yang kupanggil Budhe dan dipanggil Mbak oleh Bapak dan Ibu menawari kami minum. Aku dibikinkan es setrup rasa jeruk kesukaanku. “Tak gawekke es setrup yo Lik!” ujarnya kepadaku. Aku menelan ludah. membayangkan cuaca panas siang itu yang bakalan lumer digelontor es setrup rasa jeruk manis!

LIma menit minuman terhidang tapi Bapak dan Ibu tak kunjung menyeruputnya sementara aku semakin haus. Embun yang menetes di sisi luar gelas es strup seolah ngawe-awe (istilah ini beda dengan ‘cawe-cawe’, cari aja artinya di kamus Bahasa Jawa) untuk kuminum.

Tanpa ba-bi-bu, tanganku mengambil gelas lalu kutenggak begitu saja. Glek… glek… glek… gle… dan pada glek keempat, tangan Ibu meraih gelas itu dan menjauhkannya cepat-cepat. “Saru!” tegurnya dengan suara tertata tapi emosinya kurasa meletup-letup di balik senyum manisnya.

Ibu segera meminta maaf kepada Pakdhe dan Budhe, “Nyuwun ngapunten, Mas lan Mbak. Donny punika jan saru tenan….”

Pakdhe dengan senyum nggeleges berujar, “Pun kajenge, Dik Tyas. Lare alit kok hehehe… ngelak yo Lik… ayo dimimik meneh mengko nek entek Budhe ngejok’i meneh…”

Errr…. Tolong kalian mencari tahu sendiri arti percakapan itu ya, aku tak hendak menerjemahkannya karena takut nuansanya jadi berbeda.

Sepulang dari situ aku dimarahi habis-habisan dan dianggap sebagai anak yang memalukan!

“Tapi kan minumannya sudah dihidangkan Budhe? Kenapa gak boleh diminum, Ma?” belaku.

“Saru! Sebagai tamu, kita harus nunggu Pakdhe memberi aba-aba ‘Monggo diunjuk!’ Selama itu tidak ada, kita tidak elok untuk meminumnya!”

Ketika kemudian aku bertumbuh semakin dewasa, semakin sadar pula betapa pentingnya ajaran-ajaran seperti itu. Ajaran bukan tentang hitam-putih dan salah benar tapi tentang memper lan pener kalau dalam istilah Jawa.

Ajaran yang terkadang tak bisa kita temukan dalam perpustakaan-perpustakaan besar tapi ada dalam pustaka cinta yang ditumbuhkan dalam keluarga kita.

Ada begitu banyak ilmu pengetahuan dan pelajaran di semesta. Kita bisa mengenali bintang di angkasa, kita bisa mencari tahu kapan hujan tiba dengannya. Tapi jika tanpa diletakkan dalam kerangka etika dan moral, syukur-syukur spiritualitas keagamaan, semua pelajaran-pelajaran itu hanya akan jadi pelijaran.

Apa itu pelijaran? Ah, untuk yang satu ini, kamu cari di kamus bahasa jawa pun tak bisa kau temukan. Tanyakan pada kawanmu yang orang jawa apa arti pelijaran. Tanyakanlah sambil berbisik, kalau keras-keras takutnya kamu akan dibilang, “Woooo! Saru! Tidak etis kata itu disebutkan!”

Haha…

Sydney, 6 Februari 2024

Ilustrasi: Kendra Paramita

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.