Perjalanan untuk berdikari

18 Feb 2022 | Cetusan

Hari Jumat, 11 Februari 2022 lalu menjadi hari yang bersejarah bagi anak bungsuku, Elodia dan keluargaku. Pagi itu untuk pertama kalinya Elodia berani dan kamipun mengijinkannya untuk naik bus umum pergi ke sekolah seorang diri.

Kami sudah membicarakan hal ini sebelumnya sejak Desember tahun lalu. Aku dan istriku berpikir bahwa nanti ketika Elodia pindah sekolah baru, kita akan mulai melepas dia naik bis ketika berangkat sekolah dan pelan-pelan ketika dia sudah semakin percaya diri, kita akhirnya akan ijinkan untuk naik bus saat pulang sekolah juga.

Hal ini mengingatkanku dulu ketika di usia yang kurang lebihnya sama dengan Elodia, sembilan tahun, aku diberi ijin oleh Papa dan Mama untuk naik kereta api seorang diri dari Kebumen ke Klaten, berkunjung ke rumah Ibu (Eyang Pranyoto Putri) saat liburan cawu (catur wulan).

Ide ini terlecut oleh kabar para sepupuku yang tinggal di Jawa Timur. Mereka, sepantaran denganku tapi sudah berani naik kereta api seorang diri dari Blitar ke Surabaya.

Ketika aku utarakan niatan itu ke Papa dan Mama, awalnya mereka keberatan juga.

Berulang-ulang dan ulang mereka menanyakan keyakinanku. Berulang-ulang dan ulang pula mereka mengujiku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti,

Waktu turun dari kereta, kaki mana yang lebih dulu dipakai untuk menapak?

Kalau nggak dapat tempat duduk kamu gimana?

Kalau ditawari makanan atau minuman dari yang tidak kamu kenal, kamu menerima?

Kalau ditodong pisau kamu teriak atau gimana?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan remeh, tapi dari jawaban-jawabanku, Papa dan Mama bisa mendapat gambaran sesiap apa aku.

Ketika ijin diberikan dan Mama melakukan konsolidasi dengan ‘pihak Klaten’, tanggal pun ditentukan.

Keretanya kereta Purbaya, kereta ekonomi trayek Purwokerto – Surabaya.

Kenapa kereta itu yang dipilih? Pertama karena memang hanya kereta itu yang berhenti di Stasiun Kebumen dan melayani trayek hingga Klaten. Kedua, karena aku sudah berulang-ulang dan ulang kali naik kereta itu bersama keluarga maupun kerabat ketika hendak pergi entah itu ke Klaten atau ke Jawa Timur, berkunjung ke keluarga besar Papa.

Kereta Purbaya berangkat dari Stasiun Kebumen sekitar pukul 9:44 WIB. 

Dari rumah ke stasiun, pagi itu aku berangkat dibonceng Papa mengendarai sepeda motor Honda Astrea 800-nya. Mama tidak bisa mengantar karena Chitra masih dua tahun umurnya. Ia memberiku sangu tapi aku lupa jumlahnya pokoknya ada beberapa lembar ribuan yang diserahkannya. 

“Sing ati-ati yo, Le! 
Pokokmen nek neng sepur ra sah macem-macem. 
Iki mengko dinggo mundhut koran karo nasi ayam neng Jogja. Mas Kokok mengko methuk neng Klaten numpak sepeda dadi kowe ora usah nggolek becak. Minggu ngarep kowe mulih mrene diterke Ibu…”
Mas Kokok adalah adik Mama terkecil, Om Yohanes Widyatmika.

Sepanjang perjalanan Papa juga tak berhenti memberi wejangan, 

“Mengko nek kowe liwat lemah dhuwur ora usah nutup mripat nganggo tangan. Merem wae ndak isin..” 

Lemah dhuwur?
Ok kujelaskan. Aku dulu penakut. Setiap naik kereta dan melewati tebing bukit yang ada di sekitar Jenar, Purworejo aku selalu takut dan panik karena kereta seolah melewati terowongan karena posisi rel yang memang ada di tempat rendah. Setiap perjalanan aku selalu bertanya sudah sedekat apa dengan “lemah dhuwur” karena kalau sudah dekat, aku akan siap-siap menutup mata menggunakan jari.

Setelah memarkir sepeda motor, Papa mengantarku ke dalam stasiun. 

Pagi itu aku mengenakan kaos garis-garis horizontal dan celana pendek jeans warna biru, sepatu kets putih dan topi ‘andalanku’ bertuliskan CAT DIESEL POWER warna biru serta tas ransel lagi-lagi berwarna biru. Dari kecil aku memang sudah dididik untuk tampil modis oleh kedua orang tuaku!

Aku sempat ngeper ketika masuk ke stasiun karena ada banyak orang memperhatikanku. Tapi Papa tahu gelagatku dan bilang, “Kowe rasah wedi mengko tak titipke karo wong sing lungguh sebelahmu, Le!”

Sambil menunggu kereta tiba, menggunakan uang yang diberi Mama, aku membeli koran Kompas. Jaman dulu belum ada internet apalagi handphone. Membeli, memegang dan membaca koran harian selalu menimbulkan gairah sambil membunuh waktu.

Begitu kereta tiba, aku bersiap menunggu naik. Kereta tak terlalu penuh dan aku didorong Papa untuk naik ke dalam. “Munggah, Le!“

Aku tak melawan dorongan itu. Aku masuk ke dalam gerbong yang pagi itu tak terlalu penuh dan segera mencari tempat duduk di sebelah jendela. 

Kulihat Papa dari balik kaca mengamati pergerakanku. 

Ia lalu mendekat ke arah kaca jendela dekat tempat dudukku dan bicara dari luar dengan orang yang duduk di depanku, seorang bapak-bapak yang usianya se-Papa. “Pak, nitip anak kula nggih… ajeng dolan teng Klaten…”

Si bapak dengan penuh senyum mengangguk, “Nggih, Pak. Ampun kuwatir… “ Sepanjang perjalanan aku sama sekali tak mengajaknya bicara meski ia beberapa kali mengajakku untuk membuka percakapan.

Suara peluit petugas stasiun dibunyikan. 

Papa menempelkan tangannya ke jendela gerbong, “Ati-ati, Le…” Aku mengangguk.

Kereta bergerak dan berderak. 
Detaknya berpacu bersicepat selekas degup jantungku.  Papa makin jauh tertinggal di belakang bersama orang-orang se-stasiun, mengecil, menitik lalu menghilang dari pandangan. Dunia seolah membaru karena kini aku sendirian di tengah riuh suara orang di gerbong ditingkahi ritme suara kereta yang muncul dalam benakku seperti seseorang memainkan perkusi, berirama dengan ajeg!

Sepanjang perjalanan, aku praktis menutup wajahku dengan koran. Meski tak selamanya aku membaca apa yang ada di depanku tapi dengan bermanuver seperti itu, aku merasa aman dan nyaman untuk menutupi wajahku dengan koran.

Pada setiap stasiun dimana kereta berhenti, pada itu pula aku menghitung tentang berapa stasiun lagi hingga lemah dhuwur, berapa stasiun lagi hingga Jogja tempat aku akan beli nasi ayam dan berapa stasiun lagi hingga Klaten.

Strategi untuk tidak menutup mata dengan jari ketika lewat lemah duwur pun berhasil karena aku menutup wajah dengan koran. Hal itu membuatku otomatis tak tahu kapan lewat lemah duwur. Pokoknya ketika suara kereta tiba-tiba menggema dan sinar matahari agak terhalang berarti aku sudah melewatinya.

Ah iya, gema!
Karena dari pengenalan gema aku juga jadi tahu kapan sudah melewati Kali Progo. Ketika ‘gema jembatan’ nya panjang berarti sebentar lagi sudah masuk Jogja. Lalu ketika ada suara lonceng stasiun yang memainkan nada lagu Hampir Malam di Jogja… hmmm Sepasang Mata Bola maksudku, berarti aku sudah sampai Jogja. Simple!

Aku menutup koran dan menunggu rombongan penjual nasi ayam menempel di jendela gerbong. “Nasi ayam nasi ayam naseeeee…” teriak mereka.

Hampir setiap perjalanan menggunakan KA Purbaya, aku selalu membeli nasi ayam di Stasiun Tugu Jogja. Aku membeli sebungkus dan seplastik es teh. Tanpa menawari bapak-bapak yang duduk di depan yang tadi kepadanya Papa menitipkanku, aku langsung makan saja dengan lahapnya.

Lima belas menitan berhenti di Tugu, kereta mengalur pelan hingga Stasiun Lempuyangan. Selepas Lempuyangan, kereta menambah kecepatan untuk masuk ke Maguwo lalu Kalasan ketika nasi ayamku sudah habis dan es teh sudah kuminum hingga setengahnya.

Lepas Kalasan sampai di Prambanan yang pada plakat stasiunnya tertulis Brambanan. Tak berhenti lama kereta melaju dan tak berhenti di Srowot tapi stasiun itu jadi penanda untukku mulai bersiap turun.

“Mau turun, Dik?” tanya si Bapak.

Aku buru-buru menyapa, “Iya, Pak. Saya turun Klaten. Maturnuwun…” aku mengangguk dan dia pun juga.

Pandangannya dalam kepadaku dan mengikuti setiap gerakku. Dalam hati kecil aku bersyukur karena dari sorot mata itu menandakan ia tak main-main menyanggupi permintaan Papaku tadi; mengawasiku.

Aku berjalan ke bordes bergabung bersama orang-orang lain yang juga akan turun di Klaten. Ketika kereta benar-benar berhenti, orang-orang ternyata mendahulukanku, “Awas… anak-anak.. turun dulu. Ayo Dik, duluan Dik…”

Dari kejauhan, tangan Mas Kokok sudah melambai-lambai dan aku jadi begitu lega karena perjalanan awal tanpa orang tuaku berjalan dengan mulus.

Hari itu jadi titik yang sangat berharga bagiku. 
Waktu itu aku menyadarinya sebagai hari keberhasilanku pergi ke Klaten seorang diri.

Lama sesudahnya, aku meletakkan hari itu lebih sebagai landasan berpikir bahwa cepat atau lambat aku harus mempersiapkan diri untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Tak hanya dalam perjalanan dari satu titik ke titik lain tapi dari satu titik ke setiap titik dalam hidup hingga membentuk jadi garis yang masih kutoreh sampai sekarang.

Sama seperti Jumat lalu, Elodia barangkali hanya menganggapnya sebagai hari dimana dia nggak harus naik mobil lagi untuk diantar ke sekolah. 

Tapi di lain waktu nanti, catatan ini semoga membantunya untuk melongok hari itu sebagai hari dimana iapun sama seperti milyaran orang lampau, yang sekarang dan yang akan datang untuk mandiri. Menjadi anak panah yang dilepaskan dan menjemput masa depannya sendiri-sendiri…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.