Perjalanan ke Emaus dan penyelarasan cara pandang kita dengan Tuhan

24 Apr 2019 | Kabar Baik

Perjalanan dua murid ke Emaus yang dilukis Lukas hari ini bisa jadi adalah gambaran perjalanan hidup kita selama ini.

Kedua murid Yesus adalah pribadi-pribadi yang dekat denganNya. Mereka hidup bersama Yesus saat Ia masih berziarah di muka bumi.

Sesuatu yang menghalangi

Bahkan dalam perjalanannya ke Emaus, sekitar lima hari sesudah wafatNya, yang dibicarakan pun tak lepas dari sosok yang menjadi Guru mereka itu.

Namun meski demikian, mereka tak sadar bahwa Yesus yang telah bangkit datang, menemani mereka berjalan dan mengajaknya berbicara. Ketidaksadaran mereka tidak dijelaskan secara gambang sebab-musababnya oleh Lukas. Ia hanya menulis begini, ?ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.? (lih. Lukas 24:16)

Tapi justru bagiku Lukas memberi kita peluang bagi untuk merenungi, apakah ?sesuatu? itu? Apa yang membuat mereka tak bisa mengenali Yesus? Apa yang menghalangi mereka?

Cara-cara manusiawi

Kedua murid itu, meski mereka mengakui Yesus adalah nabi yang dipilih Allah yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan tapi mereka punya cara pandang sendiri tentang bagaimana seharusnya Yesus bekerja.

Cara pandang mereka adalah cara pandang duniawi dimana Yesus seharusnya tidak menyerah ketika ditangkap. Yesus seharusnya melawan ketika hendak dihukum, Yesus seharusnya menyelamatkan bangsa Israel dari penjajahan seperti halnya raja-raja lain di dunia. 

Padahal, sebagai murid, mereka seharusnya tahu bahwa Yesus datang dan berjuang tidak dengan cara-cara seperti itu. Ia menyelamatkan manusia bukan dari penjajahan di muka bumi saja tapi bagaimana seseorang nantinya bisa bebas merdeka dari belenggu dosa dan hidup selama-lamanya.

Dalam hidup sehari-hari kita juga jangan-jangan seperti itu?

Menyelaraskan cara pandang

Barangkali kita beragama, barangkali kita begitu rajin beribadah. Kita tidak mencuri, tidak korupsi, hidup jujur dan tidak berbuat jahat terhadap sesama. Tapi semuanya itu tak menjamin kita punya cara pandang yang selaras dengan cara pandang Tuhan.

Barangkali kita beragama dan beribadah supaya dengan status itu maka kita dipandang oleh masyarakat? Barangkali kita tidak mencuri, tidak korupsi dan tidak berbuat jahat semata karena kita takut hak milik kita dicuri dan supaya kita tidak dijahati orang lain?

Semua cara pandang dan sikap hidup haruslah kita selaraskan dengan cara pandang dan sikap Tuhan karena Ialah satu-satunya tujuan kita.

Jangan sampai kita jadi orang yang seolah dekat dengan Tuhan pada sekalipun kita tak pernah bisa mengenali kehadiranNya.

Dan yang paling akut, jangan sampai bahkan ketika Yesus berkata, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!? kitapun tak mendengarnya?” (lih. Lukas 24:25)

Paskah belum terlalu lama kita tinggalkan. Saatnya untuk berkaca. Apa yang menurut kita sudah OK adakah hal itu sudah OK juga di mata Tuhan Perjalanan masih ada di depan mata, pastikan kita selaras denganNya.

Sydney, 24 April 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.