Pergi! Mati atau melayani?

29 Des 2018 | Kabar Baik

Simeon orang percaya. Ia bertemu Bayi Yesus di Bait Allah Yerusalem.? Sambil menatangNya, Simeon berkata, ?Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (lih. Lukas 2:29-31).

Pergi = mati
Frase ?pergi dalam damai sejahtera? bisa dan kerap diartikan sebagai mati, meninggal. Simeon orang yang sudah tua dan lukisan Lukas hari ini mengesankan demikian, bahwa ia siap mati sesudah melihat keselamatan yang datang daripadaNya.

Kemarin aku berjumpa dengan seorang ibu yang amat bijaksana. Anaknya seorang pastor, kawanku. Ia bercerita bagaimana ibunya atau nenek dari kawanku tadi sangat ingin melihat cucu kesayangannya menjadi imam. Setelah ditahbiskan, kawanku itu lantas mengadakan misa di rumah keluarga besarnya dimana neneknya tinggal.

Ketika akhir acara, sang nenek berkata, ?Aku sudah nggak pengen apa-apa lagi, aku sudah melihatmu jadi pastor ya sudah??

Sang nenek punya cita-cita sebagaimana Simeon punya keinginan untuk melihat Bayi Tuhan.

Tapi lantas bagaimana mengartikulasikan Kabar Baik hari ini bagi kita yang ?belum ingin mati?? Yang merasa masih muda dan kadang berpikir sempit bahwa kematian hanyalah milik kaum yang sudah lebih tua?  Baca poin berikutnya ya.

Pergi = melayani
Frase ?pergi dalam damai sejahtera? bisa pula diartikan sebagai titik awal untuk melakukan pelayanan dalam hidup sehari-hari. Kita diutus pergi untuk mengabarkan Kabar Baik dalam hidup sehari-hari, maka ?melihat keselamatan yang dari pada-Mu? seperti kukutip di atas menjadi bekal supaya bisa? ?pergi dalam damai sejahtera? untuk ?melayani dan berguna bagi sesama!?

Prakteknya bagaimana?

Aku punya kawan. Cita-citanya setelah lulus kuliah begitu mulia, ia ingin bekerja di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di Amerika Serikat sana. Tapi apa daya hal itu tak tercapai karena berbagai banyak hal meski ia telah mempersiapkan begitu lama. Pada akhirnya ia menjadi dosen di sebuah universitas kecil di pinggiran kota, belum terakreditasi pula.

Pada suatu waktu aku bertemu dan bertanya kepadanya, ?Bagaimana kamu pada akhirnya bisa ?menerima nasib? mau menjadi dosen di tempat begini??

Ia tersenyum dan berkata, ?Don! Melayani bisa dimana saja! Nggak di PBB nggak di sini. Setiap pagi aku selalu berdoa dan meyakinkan diri bahwa kalau aku masih boleh bekerja di sini berarti Tuhan mau aku melakukan sesuatu untukNya dan sesamaku ya di tempat ini!?

Hal itu begitu menamparku!
Terkadang kita terpancing untuk melakukan pelayanan di tempat-tempat yang kita sukai saja, yang kita idam-idamkan. Kalau dapat? Bagus! Tapi kalau nggak dapat adakah kita berhenti untuk melayani?

Kenapa semua bisa terjadi? Karena kita melibatkan nafsu dan ukuran-ukuran duniawi untuk melakukan hal-hal yang menurut kita baik. Kalau kita mendasarkan pelayanan pada keselamatan yang datang dari padaNya, kita akan merasakan damai dan sejahtera seperti kawanku yang nyantai aja ketika cita-citanya kerja di PBB harus kandas dan sebagai gantinya ngajar di kampus yang tidak terkenal sama sekali!

Tapi adakah kawanku tak berbahagia?

Tentu tidak!? Kebahagiaan dikembalikannya kepada keselamatan yang datang dari Bapa! Siapa? Yesus! Begitu?

Selamat menjelang akhir tahun.

Lereng Merapi-Merbabu, 29 Desember 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.