Percaya tanpa bukti? Mana bisa?

8 Apr 2019 | Kabar Baik

Hari ini kita dihadapkan pada kisah Thomas yang tak percaya bahwa Yesus, Gurunya, sudah bangkit dari maut.

Begini katanya, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Yesus pun datang dan Thomas dimintaNya untuk mencucukkan tangan ke dalam bekas luka-lukaNya untuk membuktikan bahwa yang dihadapi Thomas adalah Yesus, Gurunya!

Tersadar, Thomas pun berseru, ?Ya Tuhanku dan Allahku!? Lalu Yesus menanggapi, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Perlu bukti!

Bersikap seperti Thomas yang belum percaya kalau belum membuktikan itu sebenarnya adalah wujud kelemahan kita yang perlu bukti untuk percaya.

Contoh tentang sulitnya kita percaya tanpa melihat bukti adalah saat pacaran.

Ada seorang cowok bertanya pada pacarnya, ?Kamu sayang aku??

Lalu si cewek pun tersipu-sipu dan bilang, ?Sayang lah! Kan pacar sendiri, masa nggak sayang??

Si Cowok geleng-geleng kepala sambil berujar, ?Aku nggak percaya! Buktinya mana??

Sebuah kecupan pun dilayangkan si cewek ke pipinya dan hal itu membuat cowok tadi tersenyum dan mengangguk-angguk tanda percaya.

Tanpa kecupan? Bisa jadi si cowok merasa tak dicintai!

Belajar percaya

Lalu apa yang diharapkan Tuhan melalui Roh Kudus yang menuntun Yohanes untuk menuliskan Kabar Baik hari ini? Kita diajak untuk percaya kepada Tuhan meski belum pernah melihatNya secara fisik dan kasat mata. Ia mempersilakan kita untuk belajar dari pengalaman Thomas hari ini.

Secara manusiawi, percaya pada Tuhan itu tentu tak mudah dan lebih sulit ketimbang menuntut pacar untuk menunjukkan rasa sayang dengan mengecup.  Terlebih kalau saat keadaan ekonomi kita buruk, dikhianati pasangan atau saat sakit. Pada saat-saat seperti itu, kita barangkali akan bertanya, ?Tuhan, dimanakah Engkau??

Tapi kita perlu belajar dari seorang wanita yang pernah kudengar kesaksiannya.

Wanita itu pernah dikecewakan amat sangat oleh kekasihnya. Ia dihamili namun tak dinikahi, tak pula dinafkahi. Berjuang seorang diri membesarkan anak semata wayangnya, wanita tadi pun mencari cinta.

Alih-alih bertemu dengan cinta yang sesungguhnya, yang didapatkan justru seorang pria yang tak kalah menyakitkan hatinya. Ia diselingkuhi, harta yang tak seberapa yang dikumpulkan sekian lama pun dihabiskan diam-diam oleh pria tadi.

Hidup seolah tak pernah berpihak kepadanya. Namun pernyataannya amat kuat,

?Meski terlunta-lunta dan ditipu serta disakiti habis-habisan, saya tetap percaya pada penyertaan Yesus! Bagi saya, hidup di dunia ini seperti kita berada di bawah kain yang sedang dirajut. yang merajut adalah Tuhan sendiri. Di bawah kain yang dirajut, semua tampak acak-acakan. Benang-benang bersliweran, bertumpuk membuat gambar yang tak indah sama sekali! Ketika kita bertanya tentang gambar yang sedang dirajut, Tuhan menyampaikan pesan bahwa gambarNya adalah gambar terbaik.

Kita hanya bisa percaya hingga nanti ketika hidup kita selesai dan diijinkan untuk duduk bersama Sang Perajut, kita baru akan melihat bahwa tumpukan benang yang bersliweran dan tak indah itu sejatinya membentuk gambar yang memang benar-benar indah ketika dilihat dari atas!?

Sydney, 8 April 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.