Percaya pada bukti-bukti nan indrawi

7 Apr 2018 | Kabar Baik

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.
(Markus 16:14)

Temanku, kakak angkatan di SMA Kolese De Britto, berjualan mie di Yogyakarta. Mie Lethek namanya. ?Lethek? dalam bahasa Jawa berarti kusam.

Awalnya aku tak percaya mana ada mie kusam yang enak? Tapi sejak jauh hari kawan-kawan membicarakan mie lethek. Di Facebook, di Twitter hingga di grup-grup WA, pembicaraan dan foto-foto tentang mie lethek bersliweran. Hal itu membuatku akhirnya memberanikan diri untuk percaya kepadanya. Harapanku, ketika pulang ke Indonesia, aku bisa membuktikan bahwa kepercayaanku itu tidak salah.

Waktu yang dinantikan tiba.
Juni 2016 aku berkesempatan pulang ke Indonesia, mampirlah aku ke warung Mie Lethek di Jogja sana. Rasanya? Josss!, kata orang Jawa.

Hari ini Tuhan Yesus menampakkan diri pada sebelas muridNya. Sebelumnya, pendapat para murid tentang kebangkitanNya terbelah; ada yang percaya, ada pula yang tidak. Yang percaya karena mereka melihat dan mendengar, yang tidak percaya karena mereka belum melihat dan tak percaya pada pendengaran.

Percaya itu berbasis indera, indrawi. Percaya butuh bukti. Dosakah? Bagiku itu manusiawi dan wajar.

Percayaku pada rasa nikmat mie lethek terbayar setelah hidung menerima aroma dan lidah mencecap rasa. Percayaku pada kebangkitan Tuhan pun juga percaya yang memerlukan pembuktian.

Tapi kapan?
Menunggu mati lalu bertemu denganNya? Takutku terlambat! Takutku justru karena tak percaya sejak masih ada di dunia, kita tak berkesempatan untuk bertemu denganNya kelak.

Kepercayaan pada Tuhan adalah kepercayaan yang sejatinya juga bisa dibangun secara inderawi. Tuhan bukan sosok yang sembunyi, Ia muncul dalam banyak hal. Ia mewujud dalam pengalaman-pengalaman hidup yang kita lalui. Bahkan secara kasat mata, dalam perayaan Ekaristi, kita berkesempatan melihatNya, bahkan menyantap tubuh dan darahNya.

Kepercayaanku padaNya juga bukan kepercayaan yang dibayar didepan lalu ditagih belakangan. Kepercayaanku justru adalah tanggapan atas pembuktian kasihNya! Kasih yang terpancar sejak dulu, sejak Ia rela untuk disalibkan karena di sana janjiNya yang luhur untuk menyelamatkanku dan kita semua sudah ditunaikan?

Masih tak percaya?

Sydney, 7 April 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.