Pepeng dan bangkitnya arwah Jogja

4 Sep 2014 | Cetusan

blog_pepeng

Kita akan kehilangan esensi sebuah pagi jika kita tak mendapatkan cinta dari orang terdekat kita, udara segar yang kita hirup, cahaya matahari yang menghangatkan dan… ruapan aroma kopi yang siap kita sesap untuk memutar roda kehidupan.

Mungkin lebay! Mungkin kamu bilang bahwa kamu tak doyan kopi?!
Bisa jadi, tapi aku ngopi, dan kamu terkait denganku.
Setidaknya jika aku tidak ngopi pagi, kerjaanku akan sedikit amburadul dan keamburadulan itu akan membuat aku butuh lebih banyak berkonsentrasi dalam bekerja sehingga blog ini terbengkalai dan kalian? akan kehilangan bacaan sedap, kan? :)

Tapi kopi, suka-tak-suka memang menjadi bagian dari hidup kita dan sebagai bentuk ?penghargaan?ku terhadapnya, aku mewawancarai kawan lamaku yang kini banyak berkutat dengan dunia ?perkopian?, Firmansyah yang biasa akrab disapa Pepeng.

Aku mengenal Pepeng sejak dia adalah Pepeng EsCoret, itu dulu nama situs webnya ketika masih rajin ngeblog tapi kini orang mengenalnya sebagai Pepeng Klinik Kopi.

Klinik Kopi, dalam bahasaku adalah seperti ?koreksi? terhadap coffee shop-coffee shop yang bertebaran di Jogja. Aku sendiri belum pernah ke sana, tapi dari testimoni kawan-kawan dan utamanya juga dari hasil wawancaraku dengan Pepeng, Klinik Kopi memang berbeda.

Nah, kalian penasaran kan? Simak obrolanku dengan Pepeng di bawah ini…

DV: Peng, apa yg membedakan Klinik Kopi dengan coffee shop lainnya…
Pepeng: Coffee shop biasa hanya menyajikan kopi saja, kalau Klinik Kopi nggak seperti itu?

Nggak seperti itunya itu gimana, Peng?
Di Klinik Kopi kita minum kopi, belajar tentang kopi, dan kembali kepada ?Jogja? yang semula?

Wah, apik iki! Coba jelaskan satu-per satu, Peng…
Di Klinik Kopi orang nggak cuma minum tapi juga belajar tahu tentang bagaimana sebuah kopi diproses, sejarahnya, dimana ditanamnya, malah aku juga mengajak peminum untuk ikut panen biji kopi.

Orang kalau tahu tentang knowledge soal apapun termasuk kopi pasti akan diingat dan dibawa sampai mati? abadi, bukan soal rasa saja.

Intinya lebih pada kekuatan berbagi (pengetahuan -red) sih. Misalnya, ada pelangganku, dia sering datang ke klinik. Karena dia sudah tahu sejarah kopi yang diminumnya, ia lalu menjelaskan ke pengunjung lain yang masih ?baru? soal kopi dan demikian seterusnya juga memberikan penjelasan kopi yang diminum itu berasal dari mana, roasting berapa dan sejarahnya?

Kalau yang soal kembali kepada ke-Jogja-an itu, bagaimana?
Jogja sudah mulai industrial bagiku, sudah nggak ada bedanya dengan kafe-kafe di Jakarta dan aku ingin membawa kembali jati diri Jogja itu pelan-pelan salah satunya melalui Klinik Kopi.

Prakteknya?
Prakteknya pada konsep bahwa coffee shop itu tak harus mahal untuk mendapatkan rasa yang istimewa. Klinik Kopi menggunakan mesin manual, Presso dan bukan mesin yang sering dipakai di banyak coffee shop lainnya.

Di Klinik Kopi juga kami tak menyediakan meja dan kursi, semua lesehan dan tidak ada wifi serta tak ada pula musik.

Oh ya? Wah ini anomali sekali kan sekarang dimana-mana coffee shop penuh sajian live musik dan wifi?
Ya konsep seperti itu yang kuyakin akan membuat arwah Jogja bangkit!
Bukan dengan duduk saling megang gajet atau sibuk dengan laptop masing-masing seperti di tempat lain.

Memanusiakan manusia….

Dari rasa kopi yang ditawarkan Klinik Kopi sendiri gimana?
Wah,kalau soal rasa coba tanya ke pembeliku. kalau tanya aku nanti pasti kubilang yang paling enak hahahaha?.

Ide Klinik Kopi sendiri bagaimana dan kapan berdirinya?
Klinik Kopi berdiri sejak 14 Juli 2013 dan konsep awalnya hanya untuk ngopi dengan teman-teman dekat saja tapi malah nyebar seperti sekarang dan akhirnya kita investasi mesin roasting segala dan tahun ini kita malah sudah punya lahan untuk menanam kopi sendiri…

Sekarang kita malah bekerja sama dengan para petani kopi untuk ikut membantu mengolah kopi?

Modal awal berapa Peng dan sekarang sudah balik modal?
Modal awal sekitar tujuh jutaan dan balik modal hanya dalam waktu dua bulan hehehe?

Salah satu yang menarik dari Klinik Kopi, kamu memberi nama jenis minuman kopi berdasarkan nama ?penemu? nya yaitu pelangganmu sendiri. Ide awalnya bagaimana kok bisa dapet ide sekeren ini?
Ide awalnya karena bosen dengan menu-menu ?standard? kafe hehehe?
Lagipula dengan memberi nama ?personal? ke menu kopi, orang yang dipakai namanya akan bangga trus dia akan menjelaskan ke orang lain yang diajak ke Klinik Kopi soal menu kopi itu.

Power of lambe! Jadi yang jual bukan aku tapi kekuatan lambe peminumnya hahaha?

Kamu sendiri belajar kopi sejak kapan dan bagaimana sejarahnya?
Gara-garanya aku berteman dengan seorang warga Australia. Dia datang ke Indonesia lalu kusuguhi kopi sachet dan dia tertawa dan berujar, ?negaramu itu penghasil kopi hebat kok kamu malah minum ?bukan kopi”??

Lalu aku diajari soal kopi mulai brewing, roasting hingga membedakan biji kopi.

Kapan itu?
2010

Mimpi besar kamu apa sih sebenarnya dengan Klinik Kopi ini Peng?
Aku ingin membuat culture kopi sendiri selain ingin juga membuat orang jadi sadar bahwa negeri kita ini kaya sekali akan potensi kopi.

Aku juga ingin orang mudah menemukan kopi enak di Jogja. Di warung-warung burjo ada kopi fresh ada roasted beans bukan kopi sachet seperti sekarang ini. Bersyukur juga sih sekarang mulai ada kafe-kafe kecil yang mengusung konsep seperti Klinik Kopi di Jogja.

Kopi enak itu sebenarnya bagaimana definisinya?
Bagiku, kopi itu seperti agama, soal selera dan relatif.

Kalau secara teknis, bagaimana mendapatkan kopi enak?
Semua tergantung cara memanggang (roasted)
Ada yang suka kopi yang nggak pahit itu bisa kita dapatkan dengan medium level roasted, ada rasa jeruk dan ada rasa jahenya.
Tapi ada juga yang suka dark roasted.
Nah, kalau di Klinik Kopi, setiap orang datang akan selalu kutanya, ?Kopi enak menurutmu bagaimana?? trus kalau mereka jawab suka yang pahit ya berarti aku kasih yang dark roasted.

Itulah kenapa di Klinik Kopi nggak ada menu.. menunya kita obrolkan tentang kopi apa yang disuka.

Sekarang tentang Jogja. Aku cukup kaget kamu tadi bilang Jogja mulai industrialis, pendapatmu yang lain tentang Jogja bagaimana?
Jogja sudah seperti Jakarta, kebak mall dan kafe-kafe.?Kita butuh lahan berkumpul yang murah!

Yang membuat Jogja tetap nyaman itu orang-orangnya. Nah Klinik Kopi konsen ke situ, di Klinik Kopi orang saling menyapa, balik dari Klinik pun mereka saling berpamitan.

Mana ada kafe seperti itu?

Sebarluaskan!

16 Komentar

  1. aku bukan peminum kopi yang fanatik. tapi sejak ke klinik kopi, setidaknya lidah dan hidungku lumayan tahu mana kopi yang menurutku enak dan tidak. kalau kopi enak, pasti lain rasa dan aromanya. sejak itu, aku juga lebih memilih punya persediaan kopi yang belum digiling. hanya sesekali saja kuminum kalau aku kangen ngopi.

    Balas
    • jadi pindah jogja nih? :) Biar deket dengan Klinik Kopi hahaha

      Balas
  2. Wah keren nih… akhirnya, Klinik Kopi di tulis juga sama mas Dony :D

    Saya kenal mas Pepeng sejak jaman dia ngeblog tentang cabe, dan menjadi pelanggan kopinya sejak Klinik Kopi masih menjadi kopi panggil. Menurut saya mas Pepeng ini luar biasa, misinya mengedukasi semua orang tentang kopi. Kembali ke kopi asli alami, bukan kopi instan sachetan. Karena kopi dari Indonesia itu sangat banyak dan kualitasnya sangat bagus, tapi hanya sedikit sekali orang-orang Indonesia yang tahu tentang kopinya.

    Dari Klinik Kopi saya belajar banyak hal, tentang kopi, berdiskusi, berbagi, berkomunitas dan mengenal berbagai macam orang baik dalam kota, luar kota maupun manca negara.

    Dalam seminggu hampir 4 kali saya ke Klinik Kopi dan kopi yang enak menurut saya adalah kopi yang berasal dari Indonesia timur seperti Kalosi Toraja, Flores Bajawa, Wamena atau Baliem dengan profil roasting medium to dark. Favorit saya Flores Bajawa karena pahitnya nya pas menurut saya.

    :)

    Balas
    • yang keren, klinik kopinya, pepengnya, blog ini atau saya? Hahahaha :)

      Balas
  3. the power of lambe.. :))

    Balas
    • Hehehe…. power of congor ;)

      Balas
  4. Harusnya di Klinik Kopi juga menyediakan “kolak” (nama lain kopi sachet menurut Pepeng), jadi pasiennya tahu bedanya dengan kopi sejati.

    Balas
    • Bwakakakakka… ‘Kolak’ sa suka itu…

      Balas
  5. Wah saya belum kesampaian ngopi di tempat Pepeng.
    Padahal pengin banget karena ada “kawruh” :)

    Balas
    • one day, Man.. one day…

      Balas
  6. Pepeng Cahaya Asia!

    Balas
    • hmmm…

      Balas
  7. Ketemu Pepeng pertama kali dan belum pernah ketemu lagi sampai sekarang saat acara #NgopiKere, dan tak banyak ngobrol dengannya. ;)

    Salam persahablogan,
    @adiwkf

    Balas
    • Sekarang Pepeng udah nggak kere lagi, Mas hehehe

      Balas
  8. Wogghhh, pantess…
    Mbiyen mas pepeng di twitter tanya soal, “Pada suka kopi apa sih?”.
    Tak reply, “kopi sachet, merk *ini*”.
    Trs meneng..
    Baru ngeh, ternyata maksud pertanyaannya soal kopi-asli-alami-Indonesia. Tak kira sombong mas pepeng saiki.. Ternyata beneran..
    Lohh. Piye tho. :))

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.