Penyebaran Injil dan kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar

27 Apr 2019 | Kabar Baik

Hari ini Markus mencatat bahwa Yesus yang sudah bangkit dari mati meminta para muridNya untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.? (lih. Markus 16:15)

Sebagai murid Tuhan, kitapun diajak untuk mengemban tugas perutusan tersebut: menyebarkan Injil kepada segala makhluk. Kenapa? Kabar Baik Tuhan tidak boleh terhenti pada diri kita. Ia harus disebarluaskan bukan untuk mengkristenkan orang tapi untuk mengabarkan bahwa Tuhan itu begitu baik bagi kita.

Macam-macam bentuk penyebaran

Lalu bagaimanakah menyebarkan injil itu?

Macam-macam!
Waktu kecil dulu, aku ingat pernah diajak Mama datang ke sebuah acara yang diadakan gereja yang bukan katolik. Sepulang dari sana, kami diberi kitab suci kecil bersampul warna biru muda. Bagiku, itu adalah wujud menyebarkan injil secara harafiah, mencetak buku injil lalu membagi-bagikannya.

Aku dan beberapa kawan dari komunitas ?Kabar Baik? membagikan renungan harian yang diambil dari Injil hari itu melaui beberapa grup WhatsApp, grup-grup dan halaman Facebook, Twitter dan berbagai macam cara lainnya. Lagi-lagi, itu adalah contoh bagaimana Injil diberitakan.

Tapi bagaimana kalau kamu tidak bisa menulis renungan sepertiku dan kawan-kawanku? Apakah itu berarti kita tidak perlu terlibat dalam pemberitaan Injil?

Tentu tidak!
Hidup kita adalah cerminan bagaimana Tuhan berkarya.

Belum tentu aku yang bisa menulis renungan dan menyebarluaskannya kemana-mana sudah lebih menyebarkan injil daripada kalian yang merasa tidak pernah dan tidak bisa menulis sama sekali.

Penyebaran Injil dan pelestarian lingkungan

Mengabarkan Injil juga bisa dilakukan dengan turut serta dalam kepedulian pelestarian lingkungan.

Untuk itulah Yesus menggunakan frase ?beritakanlah Injil kepada segala makhluk? dan bukan ?beritakanlah Injil kepada segala manusia?

Siang tadi aku dikejutkan oleh sebuah foto yang diunggah kawanku di Facebook. Dalam foto itu tampak seekor macan jawa yang tertangkap kamera yang terpasang secara tersembunyi.

Kawanku sengaja tak mau menyebut dimana lokasi ditemukannya macan tersebut karena ia peduli. Macan Jawa secara resmi sudah diumumkan sebagai hewan yang sudah punah sehingga ketika ternyata masih ditemukan ada yang hidup dan tempatnya diketahui takutnya hal itu akan memancing orang yang tamak untuk memburu, membunuh untuk diambil kulit dan taringnya lalu dijual mahal sebagai hiasan.

Bagiku, kawanku tadi telah menyebarkan Injil kepada makhluk dan lingkungan.

Beberapa waktu lalu aku juga pernah berdiskusi dengan seorang pastor Indonesia yang tinggal di sini.

Pastor itu bertanya kepadaku, ?Donny, kamu ada buku Injil di rumah??

Aku menggeleng. ?Nggak ada, Pastor!?
?Loh kamu ini gimana? Katanya sering nulis renungan tapi kok nggak punya Injil??

Aku lalu mengeluarkan handphone dan menunjukkan aplikasi Injil yang kuinstall di sana. ?Ini injil saya?Saya nggak punya injil versi cetak, Pastor.?

Aku menjelaskan kenapa memilih tak menggunakan injil cetak. Karena selain alasan kepraktisan, bagiku mencetak buku termasuk Injil itu membutuhkan ongkos lingkungan yang tak sedikit. Kecuali menggunakan kertas daur ulang, setiap lembar buku yang dipakai berarti mengurangi jumlah pohon yang harusnya bisa ditanam untuk pelestarian lingkungan di sekitarnya.

Tentu hal ini tak bisa diaplikasikan pada semua orang. Masing-masing dari kita memiliki alasan tersendiri untuk memilih Injil ?versi cetak? atau ?versi digital?. Kesadaran adalah wujud kedewasaan iman kita yang dipertanggungjawabkan langsung nantinya kepada Tuhan.

Sydney, 27 April 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.