Tulisan ini kuawali dengan catatan sebuah peristiwa yang terjadi hampir 27 tahun silam. Nenekku, waktu itu berujar padaku, “Le, kalau kamu liburan kemari Natal nanti, Eyang mau sembelihkan ayam yang paling gemuk buatmu!” Akupun girang bukan kepalang dan meski waktu itu masih Mei, tapi aku tak sabar menunggu Natal tiba dan berharap supaya ayam yang akan disembelih itu akan menggemuk hingga hari ‘eksekusi’ tiba.
Tapi lain dulu, lain pula sekarang. Kalau saja Nenekku yang kemarin 19 November 2011 berulang tahun ke-81 itu (Sugeng Tanggap Warsa, Bu!) berujar padaku demikian, barangkali aku tak kan sesenang dulu! Aku pasti akan menganjurkan supaya ayam kesayangannya itu dijual saja atau aku toh dengan mudah bisa membeli satu set ayam panggang/goreng ‘siap saji’. Alasannya? Kasihan ayamnya!
Eh, sebentar… apakah kalian merasakan sesuatu yang ‘absurd’ ketika aku bilang ‘Kasihan ayamnya!‘ ?
Oh tidak? Baiklah, kujelaskan saja sekarang. Nilai absurd dari kalimat di atas adalah pada bagaimana aku menempatkan posisi di ‘tengah-tengah’. Maksudku, di satu sisi, aku mencoba untuk ‘sok solider’ terhadap ayam yang hendak disembelih itu tapi di sisi lain aku malah menyarankan eyanngku untuk menjual saja ayam itu ke tukang potong ayam yang jelas naga-naganya juga akan dipotong, disembelih. Tak hanya itu, aku malah menyarankan Eyang untuk membeli saja ayam panggang yang sudah matang padahal jelas-jelas bahan bakunya ya ayam yang semula hidup lalu disembelih… sama dengan ayam yang coba ku-solider-i itu.
“Terlepas dari faktor “Yah, mau diapakan lagi kan sudah takdir!”, pemerintah harus bergerak…”
Pernahkah kalian merasa seperti apa yang kurasakan? Berada di ‘tengah-tengah’? Kuyakin ku tak sendirian untuk berujar bahwa hubungan kita dengan hewan itu terkadang memang penuh dengan hal-hal yang absurd seperti itu. Di satu sisi kita meyayangi binatang namun di sisi lain, kita juga ‘sayang’ untuk melewatkan kesempatan menyantap dagingnya. Sama halnya ketika aku mengumpat orang yang bercerita bagaimana mereka menyembelih babi yang menurutku sangat menyakitkan itu namun di waktu lain aku dengan lahap menyantap dagingnya dan seketika itu juga lupa atau pura-pura lupa dengan bagaimana cerita ‘pembunuhan’ babi tadi.
Hal-hal seperti ini pula yang kurasakan ketika beberapa waktu lalu mencermati cepatnya derap media memberitakan penganiayaan yang berujung pada pembantaian massal orang utan di beberapa daerah di tanah air serta kematian beberapa satwa langka di sebuah kebun binatang ternama.
Aku memilih cepat-cepat beralih channel televisi ketika tahu sajian berita berikutnya adalah mengenai dua hal itu. Rasa iba atas terbunuhnya hewan-hewan itu meremang ke permukaan dikombinasi dengan rasa geram terhadap pelaku pembantaian maupun mereka yang seolah membiarkan satwa langka terjadi di lingkungan kebun binatang; sebuah kebun yang seharusnya didedikasikan sebagai tempat hidup yang nyaman bagi para binatang.
Secepat kilat aku langsung mencari sumber berita di internet tentang apa sebab orang membantai orang utan! Usut punya usut, sebagian besar didominasi oleh karena ‘bayaran’ dari beberapa perusahaan yang ingin lahan kerjanya bebas dari gangguan orang utan. Sementara sebagian lainnya yang justru menurutku cukup mengejutkan sekaligus memprihatinkan, ada begitu banyak awam yang ikut membantai orang utan semata-mata karena tanaman yang mereka tanam diusik oleh orang utan.
Wah! Kalau sudah demikian parahnya, berarti ini bukan perkara yang mudah ditangani. Untuk mengalahkan ambisi satu-dua perusahaan barangkali pemerintah bisa dengan mudah (meski sejatinya pun susah!) memberikan sanksi usaha bagi mereka, tapi ketika ‘gerakan’ pembantaian massal ini sudah begitu meng-awam dengan melibatkan masyarakat luas karena perasaan terganggu oleh para ‘orang utan’ tersebut, apa ya mungkin mereka dihukum semua? Satu per satu?
Aku sempat geram dan ingin rasanya menulis yang tidak-tidak di social media tentang kecamanku terhadap para pembantai orang utan ini. Tapi nafsu itu kuredam dengan dua pertanyaan di bawah ini,
“Kalau aku jadi anggota masyarakat yang terganggu tanamanannya oleh orang utan, apakah aku tak akan bersikap sama?”
“Kalau aku punya impian sebesar gunung untuk memperluas usahaku, haruskah aku kalah oleh karena sekawanan orang utan yang ‘mengganggu’ rencana perluasan lahan perusahaanku?”
Dan dua pertanyaan itu cukup manjur menjadi cermin. Aku tak mengatakan aku tak bisa untuk bersikap lebih baik dari mereka, para pembantai itu, tapi setidaknya dua pertanyaan di atas menyadarkanku bahwa setiap orang pasti punya pemikiran sendiri dalam memutuskan sesuatu dan bukan kewajibanku untuk menghukum mereka, para pembantai itu selain mengucapkan prihatin atas pilihan sikap mereka, barangkali.
Soal kematian satwa langka di kebun binatang ternama tadi perkara lain lagi.? Konon mata pusaran peristiwa ini adalah pertikaian di tingkat manajemen pengelola dan menyebabkan terlantarnya proses pemeliharaan kandang, pemberian makan hingga bagaimana cara mengurangi stress para hewan. Di satu sisi, jelas hal ini tak bisa ditolerir karena profil manajemen pengelola haruslah kuat dan tak boleh lemah dalam mengelola satwa hanya karena hal seperti ini saja! Tapi di sisi lain kembali aku berpikir, “Harus sih harus… tapi ketika tak sanggup lagi untuk mengelola, apa dan siapa yang harus dikorbankan terlebih dahulu?”
Ibarat kata, dalam sebuah kecelakaan kapal karena terjadi kebocoran di permukaannya, ada seratus orang penumpang dan lima ekor anjing dan hanya tersedia sebuah kapal penyelamat dengan kapasitas seratus orang saja maka siapa yang harus diselamatkan terlebih dahulu? Seratus orang diangkut dan lima anjing ditenggelamkan dengan terpaksa? Atau 95 orang plus lima anjing diselamatkan sementara lima orang lainnya dibiarkan mati? Tapi kalau demikian siapa yang bersedia menjadi ‘lima’ nya yang harus ditenggelamkan?
Jawaban yang paling tepat menurutku adalah jangan berpikir terlalu menyudutkan seolah telah terjadi ‘kecelakaan’. Lebih penting dari itu untuk berpikir bagaimana supaya pihak pengelola kapal melakukan segala daya dan upaya untuk merawat kapal sehingga tak rentan terhadap kerusakan yang mengakibatkan kecelakaan seperti itu sehingga tak perlu lima anjing ditenggelamkan dan tak perlu pula lima orang dikorbankan demi lima anjing yang harus dibawa ke daratan, kan?
Nah siapa pengelola kapal itu? Siapa lagi? Ya pemerintah!
Terlepas dari faktor “Yah, mau diapakan lagi kan sudah takdir!”, pemerintah harus bergerak untuk membuat ‘pagar’… menyusun rangka koridor yang jelas bagi masing-masing ‘stakeholder’ alam di wilayah negaranya untuk hidup berdampingan tanpa menyisakan persinggungan yang melukai satu terhadap yang lainnya.? Ini bukan perkara yang mudah memang, tapi sudah seharusnya sejak mencanangkan pencalonan untuk menang dalam perebutan tampuk pemerintahan, siapapun itu mulai dari presiden, gubernur, bupati, hingga lurah dan ketua RT sekalipun, hal-hal seperti itu harus masuk dalam daftar ‘Kemampuan Dasar’!
Rasa salutku untuk mereka yang berjuang dengan penuh totalitas terhadap konsumsi daging hewan dan mereka yang tergabung dalam komunitas-komunitas penyayang binatang. Tuhan memberkati kalian!
Tinggalkan Balasan