Penggenapan nas dan mission impossible

27 Jan 2019 | Kabar Baik

Yesus pulang ke Nazareth dan diberi kesempatan untuk mengajar di sebuah rumah ibadat di sana. KepadaNya diberikan kitab Yesaya, dan Ia berkata,

?Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.? (Lukas 4:18-19)

Yang dibaca Yesus adalah yang ditulis dalam Yesaya 61:1-2. Hal yang lantas membuat orang terkejut adalah karena Ia berkata, ?Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Apa yang dimaksud Yesus dengan mengatakan hal itu? Apakah nas dan kenapa harus digenapi?

Penggenapan Nas

Nas adalah apa yang tertulis dalam kitab. Penggenapan yang dilakukan Yesus adalah dalam rangka menjawab bahwa Ialah sosok yang ditulis Yesaya, yang diutus, diurapi dan disertai Roh Allah utuk menyampaikan Kabar Baik kepada orang miskin, tawanan dan tertindas untuk memberitahukan bahwa Tahun Rahmat Tuhan telah datang!

Lalu sebagai umat, apakah kita diajak untuk menggenapi nas-nasNya juga? Menurutku, iya! Kalau Yesus adalah ?Yang Dijanjikan Allah?, kita adalah ?Yang menjalankan? hal-hal yang sudah digenapi oleh Yesus. Untuk itulah pentingnya pemahaman akan Kabar Baik karena jika tidak, bagaimana mungkin kita menjalankan nas-nas yang ada di dalamnya?

Menjalankan penggenapan nas

Bagaimana cara menjalankan hal-hal yang digenapi Yesus?

Misalnya adalah ayat favoritku dimana Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama seperti halnya kita mengasihi diri sendiri (lih. Lukas 10:27). Ketika kita memberi bantuan pada tetangga yang membutuhkan, ketika kita menyumbang rekan yang berkesusahan, kita telah menjalankan ayat/nas itu.

Tapi kalau sudah menjalankan satu nas, kita tak boleh berhenti karena masih ada begitu banyak nas lain yang juga harus dijalani. Misalnya seperti yang ditulis dalam Lukas 6:27 dimana kita diminta untuk mengasihi tak hanya yang ?sama? tapi juga yang ?berbeda? yaitu musuh-musuh kita.

Setelah berhasil mengasihi tetangga dan kawan yang berkesusahan, kita juga diajak untuk mengasihi musuh. Bagaimana dengan tetangga yang memfitnah kita? Adakah kita juga tetap mau memberikan bantuan? Jika tidak maka kita belum menjalankan apa yang sudah digenapiNya.

Demikian terus-menerus hal itu harus dilakukan karena kitab suci ditulis tidak untuk dilaksanakan sebagian dan asal comot melainkan secara keseluruhan.

Mission Impossible?

Tapi apa mungkin seumur hidup kita bisa menggenapi semua itu?

Tentu tidak! Umur manusia terbatas dan kuasa Tuhan yang termaktub dalam Kitab Suci hanya sedikit yang bisa kita tafsirkan dan lebih sedikit lagi yang bisa kita jalankan. 

Jadi apakah ini sebuah tugas yang tak mungkin alias mission impossible?

Berpikir positif saja, meski tidak mungkin tapi setidaknya ketika kita memasrahkan seluruh waktu hidup untuk menjalankan Kabar BaikNya, kita sudah memberikan semuanya.

Sydney, 27 Januari 2019?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.