Pengalaman Pertama Menonton Stand-Up Comedy Live!

Pepatah lama bilang, selalu ada yang pertama dalam hidup.

Sabtu seminggu lalu, pertama kalinya aku nonton stand-up comedy show secara live. Show diadakan oleh perkumpulan mahasiswa Indonesia di dua universitas di negara bagian New South Wales, Australia. Mereka mengundang komika Indonesia, Raditya Dika, sesama blogger jaman kuda yang berhasil menyulap dirinya menjadi salah seorang stand-up comedian paling berpengaruh di Indonesia. Dia tak sendirian, Yono Bakri, tampil sebagai openernya.

Meski aku mengikuti standup comedy secara rutin di Youtube (dan Netflix) sejak beberapa tahun, kekhawatiran tentang “Gimana kalau nggak lucu ya?” tetap saja muncul sebelum datang ke show kemarin.

Maklum, Aku tumbuh di era slapstick comedy dimana dua grup komedi legendaris Srimulat dan Warkop DKI menguasai media.

Aku bisa terpingkal-pingkal hanya melihat Timbul yang jatuh dari sofa, Mamiek Slamet yang mencolokkan jari ke matanya sendiri atau Dono Warkop yang mengusap-usap bibir tonggosnya ketika melihat cewek-cewek berpakaian bikini di tepi pantai.

Sementara stand-up comedy itu basisnya konteks dan kata-kata yang dilontarkan. Rumit untuk memantik kelucuan.

Itu pula sebabnya aku gak pernah tertarik masuk ke stand-up comedy club di sini karena sebagai orang yang lahir dalam budaya yang menempatkan Bahasa Inggris sebagai bahasa ketiga (Bahasa pertamaku, Bahasa Jawa, bahasa keduaku Bahasa Indonesia) boro-boro mendapatkan lucu karena untuk mengerti apa yang mereka omongkan dalam Bahasa Inggris saja butuh waktu.

Pun ketika akhirnya terbiasa dan mengerti (apa yang mereka omongkan), tantangan kedua adalah dimana lucunya, karena standard lucu orang juga beda.

Nah, kekawatiranku terkait dengan Raditya Dika dan Yono Bakri juga sama. Bahasa tentu bisa dimengerti tapi konteks yang dikomedikan, apakah kegelisahan yang ditertawakan masih sehalaman denganku mengingat mungkin saja materinya adalah tentang kegelisahan para penonton lain yang kutaksir beda usianya sekitar 20 – 25 tahun di bawahku?

Tapi semuanya terjawab lunas.

Yono dan Radit berhasil menertawakan kegelisahan yang masih terhubung denganku.

Mulai dari perkara beda ras “cina” dan pribumi yang meski usang tapi tetap berhasil membuat ngakak kalau dikomedikan dengan baik hingga soal siapa saja tamu Radit di podcast yang selalu kuikuti di Youtube yang sebenarnya tolol!

Atau ketika tiba-tiba Radit bicara Gibran dan Jokowi serta ijasahnya, siapa yang gak terpingkal, kan?

Tapi yang menurutku paling memvalidasi kenapa acara kemarin menarik adalah pandanganku selama ini melihat sosok Radit yang di podcast begitu lurus, alim dan cenderung introvert, terpatahkan ketika melihatnya di atas panggung dengan setingan tertutup, Radit menjadi seorang nan tak terbayangkan sebelumnya. Ia membengkokkan pendapatku tentang dirinya dan bukankah itu letak komedi yang sesungguhnya? Menertawakan hal yang selama ini kita anggap lurus tapi ternyata bengkok tanpa bisa dinyana!?

On to the next one, dua minggu dari sekarang, Pandji Pragiwaksono bakal melucu di hadapanku, semoga Tuhan memberkatinya kelucuan sehingga tiket yang kubayar tidak hangus sia-sia!

Sebarluaskan!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses