Pendoa yang Baik

4 Jul 2022 | Cetusan

Aku bukanlah pendoa yang baik. Kalaupun kalian berpikir sebaliknya, lebih baik untuk memeriksa kembali benar-tidaknya pikiran itu.

Tapi lima hari yang lalu, sebuah pesan dari orang tak kukenal muncul di Facebook Messenger membuatku berpikir, benarkah aku ini bukan pendoa yang baik?

Nyaris sehari pesan itu tak kubuka dan dalam banyak hal yang mirip seperti ini sebelumnya, pesan-pesan tak kukenal itu kadang kulewatkan begitu saja; kuhapus tanpa baca. Tapi kali itu berbeda. Aku membuka pesan tersebut, entah kenapa.

Rupanya seorang wanita.
Tinggal di sisi utara Indonesia. Dalam nada penuh ketergesaan, wanita itu bilang, 

“Pak.. apakah bapak menerima pelayanan doa? Saya sedang mengalami pergumulan dalam keluarga, mohon doakan…”

Sebentar, mungkin kalian bertanya, kenapa aku bisa membaca ketergesaan padahal tulisan hadir tanpa intonasi? Ya karena belum apa-apa, kenal pun enggak tapi dia sudah  minta didoakan untuk urusan yang sangat privat dan sangat-sangat penting dalam khasanah hidup orang Katolik, keluarga. Bukankah itu sesuatu yang tergesa-gesa namanya?

Sampai di situ sebenarnya kalau mau menuruti ego, dari yang sudah-sudah, aku malas untuk meladeninya. 

Toh orang punya masalahnya masing-masing? 
Toh dia punya kawan yang bisa mendoakan? 

Atau.. 
Hey! Kenapa nggak yakin dengan doamu sendiri sih?

Tapi ya itu tadi, tumben-tumbennya aku berpikir lebih jernih, kenapa dia menghubungiku ya?

“Darimana kamu tahu aku?” tanyaku.

“Saya join ke salah satu grup facebook dan ada satu orang menyarankan saya untuk menghubungi Bapak!”

Nah, bener kan!
Apa kubilang di awal tadi!
Banyak orang mengira aku adalah pendoa yang baik hahaha!

Akupun jatuh dalam permenungan.

Sudah sekian lama aku tak pernah berdoa jika doa didefinisikan sebagai mengambil waktu khusus selain di Gereja untuk bercakap-cakap dengan Tuhan secara intens. Lalu kenapa tiba-tiba orang ini datang kepadaku?

Lalu kenapa pula tiba-tiba aku jadi mau memikirkannya dan mengabaikan kebiasaan yang kulakukan sebelumnya: menghapus pesan dari yang tak dikenal bahkan tanpa perlu membacanya terlebih dulu?

Tapi sebagai insan yang meski jarang berdoa, untungnya aku masih percaya bahwa tidak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup ini. Akupun berandai-andai, jangan-jangan orang ini adalah cara Tuhan untuk menunjukkan kerinduanNya kepadaku; orang yang ngakunya kenal dan dekat dengan Tuhan padahal selalu menjaga jarak terhadap Dia yang menciptakan.

Akupun menjawab wanita itu, “Ya kalau kamu percaya bahwa doaku didengar Tuhan, aku akan doakan!” Sengak ya jawabnya? Asuwok!

Lalu dia minta nomer WA-ku…
Tak seperti pendoa-pendoa lainnya, permintaan itu kutolak. “Lewat messenger saja…”

Lalu dia minta aku menelponnya meski lewat messenger, lagi-lagi permintaan itu kutolak, “Lewat ketikan aja…”

Jual mahal? Aku nggak dijual!
Lalu? Karena aku mau fokus pada doa, bukan orangnya. Mendoakan, bukan untuk kenal atau dikenal lebih oleh orangnya.

Iapun bercerita tentang masalah keluarganya. Cukup tragis dan panjang lebar. Jawabanku singkat, “OK! Aku akan doakan seminggu ke depan. Semoga Tuhan bekerja atas perkaramu ya!”

Jawabanku singkat, doa-doaku pun padat karena aku percaya Tuhan yang akan angkat persoalan itu cepat atau lambat.

Tulisan ini kubuat bukan untuk pamer bahwa akhirnya aku berdoa lagi tapi untuk mengingatkanku bahwa ada seorang yang minta kudoakan dan ada Dia yang mernindukanku dan ada aku yang mencoba menjawab kerinduan itu.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Mungkin hal seperti ini terjadi karena pas doa sendiri ngak di kabul kabul kali ya mas.

    Aku sekalinya di doakan ibuku “Semoga dapat pekerjaan yang dekat dari rumah”.
    Awal-awal mikir, “emang bisa model macam itu, enak sekali.”

    Auto terijabah,
    Jadi deh kerja dari rumah fulltime blogger.

    Mungkin pengalaman semacam ini yang membuat orang lebih suka didoakan orang lain.
    Karena kadang doa orang lain memang manjur :D chuaks

    Balas
  2. doa manjur adalah doa orang yang teraniyaya….hmmmm

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.