Kalian masih ingat Gempa Jogja kan?
Jumat lalu (27/5/2011), lima tahun sebelumnya, gempa dahsyat menggoncang Jogja membawa lebih dari 6000 korban jiwa serta kerugian materiil dan moril warga yang tinggal di kawasan selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang susah untuk dimasukkan ke dalam tataran angka. Saat itu, aku masih tinggal di Jogja, bersyukur aku tak masuk ke dalam kalangan yang ‘6000-an’ meski trauma akan kedahsyatan gempa itu masih terasa bahkan sampai sekarang.
Namun yang kuangkat di tulisan ini bukan bagaimana detail kejadian itu karena kalian toh bisa menemukan di banyak posting blog lain serta linimasa di Twitter maupun Facebook hari-hari ini.?Apa yang akan kusarikan dari tulisan ini lebih pada ekses yang kuterima dari kejadian yang sebenarnya agak jauh kaitannya, tapi karena aku sedang mau mengkait-kaitkan ya kudekatkan saja.
“…Hey, ini lho penulisnya, yang sedang membaca buku lain di depanmu!”
Sekitar sebulan setelah gempa, sebuah penerbit menghubungiku dengan tawaran membukukan tulisan-tulisan sekitar gempa yang waktu itu kupublikasikan di blog lama, donnie.or.id.
Tawaran itu bagai penawar duka akibat gempa!
Bayangkan, setelah bertahun-tahun ingin memiliki buku ‘sendiri’ , sekonyong-konyong ada orang datang menawarinya. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu! Aku meng-iya-kan ajakan penerbit dengan satu syarat yang lantas dipenuhi yaitu bahwa aku tak mau mengambil untung uang sepeser pun dari hasil penjualan buku itu nantinya dan aku harus menuliskan hal tersebut pada bagian Pengantar buku.
“…akulah sang pembiar pencurian kemuliaan itu terjadi.”
Tak sampai dua minggu, buku selesai dicetak dan diedarkan ke toko-toko buku nasional.
Lalu tanpa diminta oleh penerbit (seingatku aku hanya diminta sekali talk show launching bukuku -red) aku lantas ikut sibuk mempromosikan bukuku baik dari mulut ke mulut maupun melalui banyak media. Bisa ditebak sesudahnya, feedback positif berlomba-lomba masuk, rata-rata melontarkan pujian kepadaku semacam “Wah, selamat Don akhirnya punya buku juga!” atau yang seperti ini “Bukunya bagus… merakyat sekali bahasanya..” bahkan tak jarang yang menemukan pernyataan bahwa aku tak mengambil untung sepeserpun uang penjualan buku lalu berkomentar indah seperti ini, “Wah, mulia Mas (niat untuk tak menerima uang -red).. Tuhan yang membayar upahmu!”
Senang? Jelas!
Aku lantas semakin bersemangat untuk melakukan hal-hal yang menurutku, lima tahun sesudah kejadian itu, tak masuk akal untuk kulakukan. Pada banyak sore hari di masa itu, sepulang bekerja aku sering nongkrong di toko buku tepat di depan rak tempat bukuku dipajang. Sambil pura-pura baca buku yang lainnya, aku menunggu orang datang dan membaca bukuku. Melihat pemandangan ini, hatiku senang! Lalu seseorang datang, membaca buku sebentar lalu membawanya pergi ke kasir… wah, hatiku tambah senang!
Pernah pula ada serombongan ABG, cewek tentu saja, datang beramai-ramai lalu satu dari mereka berujar,
“Eh, aku nyari buku yang gempa itu .. ketemu di sini!”
Lalu seorang lagi berujar, “Yo wes… aku mau beli sekarang aja!”
Dua yang lain menimpali, “Eh, kalo udah selesai aku pinjam ya..”
Mereka lalu berlalu dan membawa sebuah buku untuk ditebus di kasir. Melihat kejadian itu, aku tak hanya senang, tapi melambung lupa daratan! Ingin rasanya berteriak Hey, ini lho penulisnya, yang sedang membaca buku lain di depanmu!
Kalian boleh bilang aku terlalu idealis ketika aku menyatakan bahwa apa yang kualami waktu itu adalah sebuah usaha ‘mencuri kemuliaan’ dari pihak lain. Kemuliaan membuatku melambung tenar namun pada dasarnya aku tak berhak sama sekali untuk menyandangnya.
Barangkali kalian masih bisa mengelak “Eh, tapi kan kamu tak ada niatan untuk mencuri?” Betul, tapi setidaknya aku membiarkan hal itu terjadi dan ini lepas dari idealis atau tidak idealis. Ini perkara bagaimana aku membiarkan diriku membohongi kenyataan yang aku sendiri sebenarnya tahu waktu itu.
Statemen “Aku merelakan semua keuntungan untuk para korban” lantas seperti kujadikan tameng melindungi satu kebusukan bahwa akulah sang pembiar pencurian kemuliaan itu terjadi. Aku tak lebih dari sekadar oportunis pecundang yang di muka tampak saleh penderma dan sosok tanpa cacat padahal nyatanya aku memanfaatkan momen itu untuk semakin mengangkasa, mencari popularitas diri.
Tulisan ini bukan dalam rangka mengutuk penerbitan buku itu.?Malah lepas dari perkara penerbitannya sama sekali karena ini semua menyangkut pemahaman terhadap satu kesalahan yang kulakukan di masa lalu. Kalau waktu boleh berulang, barangkali aku akan memilih nama samaran di buku itu sehingga aku akan terjerat pada kenyataan bahwa aku ‘tak ada di sana’. Bisa juga barangkali, kalau waktu boleh berulang, aku meminta ‘lupa’ khusus pada hal pembuatan buku itu sehingga meskipun aku kelayapan di toko buku, aku toh tak tahu bahwa itu adalah bukuku sendiri.
Tapi hidup bukan perkara ‘barangkali’ dan tak ada yang bisa diulang, kan??Nasi telah mendingin dan membubur. Kemanusiaanku mengisrayatkan “Sudahlah, ambil sisi positifnya!” dan kuyakin ada banyak nilai-nilai positif yang tersemat di dalam buku itu untuk kemajuan kemanusiaan serta kehidupannya seberapapun kecil skala besarnya.
Toh setidaknya, melalui tulisan ini aku bisa mengupayakan bagaimana mengembalikan kemuliaan dan ketenaran itu pada mereka yang lebih berhak; para korban gempa yang telah kehilangan harta, kesempatan termasuk hidupnya sendiri… dan kalian, para pembaca, kutunjuk kalian sebaga saksinya.
Hmmm, kalian bersedia kan?
Tinggalkan Balasan