Penabur keluar untuk menabur

30 Jan 2019 | Kabar Baik

Hari ini aku terpana dengan perkataan Yesus, ??seorang penabur keluar untuk menabur.? (lih. Markus 4:2)

Secara lengkap, Kabar Baik hari ini (Markus 4:1-12) bercerita tentang perandaian Yesus akan bagaimana manusia ditaburi firman Allah. Firman diibaratkan sebagai benih yang ditabur Sang Penabur yang adalah Yesus sendiri. Ada yang tumbuh dengan baik, ada yang awalnya baik tapi ada juga yang tak sempat tumbuh lalu mati begitu saja.

Lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana kita hendak memposisikan diri dalam ?cerita? di atas? Adakah kita orang yang menerima taburan saja? Atau bisakah kita jadi penabur?

Iman proaktif

Beriman di dalam Tuhan adalah iman proaktif. Kita diajak untuk tidak saja menerima firman tapi juga menaburkanNya kepada dunia. Masing-masing kita diberi talenta dan kesempatan serta tempat masing-masing.

Seorang imam yang membawahi paroki, ia menaburkan Firman Tuhan melalui pelayanan kepada umatnya. Seorang tentara, ia menaburkan firman Tuhan dalam karya-karya kemiliterannya. Dokter, programmer IT dan semua memiliki tempatnya masing-masing.

Meski resiko untuk menabur adalah seperti yang diungkapkan Yesus di atas, tak semuanya berbuah baik. Dan hal ini yang kadang membuat kita malas-malasan untuk mengikuti Yesus, keluar dan menabur.

Ditulung menthung

Misalnya suatu waktu kita terpanggil untuk menolong sebuah keluarga. Keluarga itu mengalami kebangkrutan secara ekonomi lalu kita tergerak membantu.

Segala bantuan kita berikan mulai dari uang, perhatian, waktu. Tapi apa yang terjadi kemudian? Saat ekonomi mereka kembali naik, bantuan kita selama ini seolah dianggap tidak ada, dinafikan begitu saja.

Secara manusiawi kita tentu jengah! Perilaku mereka dalam bahasa jawa dikenal sebagai ?ditulung menthung.? alias ?Ditolong malah memukul balik.??

Tapi di sinilah kita dituntut untuk membuktikan bahwa kita ini benar-benar murid Yesus atau bukan.

Bagiku, kita sebagai murid Yesus berhak merasa kecewa kalau kita dihadapkan pada keadaan di atas. Kita ini kan bukan santo/santa, kita manusia biasa. Uang yang kita berikan bukan uang gratisan, perhatian dan waktu juga terbatas. Tapi sejauh mana kekecewaan itu mempengaruhi langkah kita berikutnya adalah yang penting untuk kita cermati.

Jika kekecewaan lantas membunuh kemauan kita untuk terus berbagi dan menabur, maka layaknya pelita nyala kita sudah padam. Kekecewaan justru harus dipakai sebagai pelajaran sehingga ke depannya saat ada yang mengecewakan lagi kitaharusnya lebih tenang dan berpikir bahwa kita sudah pernah dikecewakan.

Lagipula ketika menabur, yang kita lakukan sejatinya bukan antara kita dengan yang kita bantu tapi antara kita dengan Tuhan. Kok bisa? Menabur adalah menjalani panggilan kita sebagai penabur. Siapa yang memberi panggilan? Tuhan sendiri. Bukan orang lain bukan pula diri sendiri.

Kita diutus! Mari keluar dan menabur karena kita ini adalah para penabur!

Sydney 30 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.