Pemulung cilik dan pentingnya memilih pemimpin terbaik

10 Okt 2018 | Cetusan

Liburan di Indonesia tinggal tiga malam tapi satu pencerahan kutemukan secara tak sengaja.

Sejam setelah mendarat di Jakarta sepulang dari Jogja, aku sekeluarga bersama Mama mertua pergi ke sebuah restaurant penyaji mie ala Ujung Pandang (Makassar) di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sungguhpun malam itu adalah senin malam tapi kondisi lalu lintas beserta lalu lalang orang sesak tak menyisakan ruang. Bersusah payah, akhirnya kami mendapat tempat parkir yang tak cukup nyaman karena bersebelahan dengan tempat sampah besar dengan sampah meruah kemana-mana.

Setelah turun, dari jarak dua puluh lima meteran, muncul sesosok anak kecil perempuan berambut panjang sebahu. Umurnya kutaksir sama dengan Odilia, anak pertamaku, 8-9 tahunan. Parasnya cantik meski lusuh, mengenakan kaos bertema anak-anak berwarna kusam, bercelana abu-abu tanpa alas kaki, selembar kantong plastik berisi setengah di punggung sementara tangan menenteng setongkat besi. Ia, gadis sekecil itu, semalam itu memulung sampah.

Aku terpaku.
Barangkali ini pemandangan biasa bagi sebagian dari kalian. Barangkali kalian pernah melihat yang seribu kali lebih mengenaskan dari sekadar pemandangan yang kutulis di atas. Tapi rasa toh tak bisa diadili dengan perbandingan?

Pemulung kecil berwajah manis itu mengusik pikirku tentang apa yang bisa kuperbuat untuk menolongnya?

Memberinya uang?
?Berapa banyak?

Ia mungkin memang perlu uang tapi aku bukan pabrik uang. Lagipula, kalaupun kuberi semampuku, bagaimana kalau uang yang diberi justru dipakai orang tuanya untuk hal-hal yang tak benar? Bagaimana kalau uang yang diberi justru dipakainya untuk jajan atau untuk hal-hal lain yang bukan keperluan primernya?

Aku memutar otak.
Sebagai seorang warga negara yang tinggal di luar negeri, aku punya cara lain untuk tetap membantunya yaitu menciptakan keadaan sekitar yang lebih baik bagi si anak barangkali lebih berarti.

Caranya?
Salah satunya adalah memilih pemimpin-pemimpin terbaik bangsa dan wakil-wakil rakyat yang mumpuni untuk mendengarkan dan memperjuangkan suara-suara seperti si pemulung mungil itu tadi.

Aku tergugah. Jika selama ini aku terus bergumul tentang penting-tidaknya memilih dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019 nanti, malam itu aku seolah menemui muara pergumulan, aku harus memilih yang terbaik salah satunya ya untuk anak kecil itu! Aku tak boleh hanya diam, tak juga hanya teriak-teriak membela calon tapi ketika 9 April 2019 tak hadir ke TPS di Sydney nanti?

Memilih pemimpin terbaik adalah menghindarkan si pemulung mungil tadi mendapatkan pemimpin buruk! Pemimpin buruk akan menghadirkan masa depan yang lebih tak menentu meski pemimpin terbaik pun juga perlu waktu untuk membuat segala sesuatu yang ada di depan membaik.

Aku segera bergegas masuk ke dalam restaurant.

Odilia tersenyum sambil melambaikan tangan ke anak tadi dari balik kaca restaurant. Si pemulung mungil itupun membalas senyuman dan melambaikan tangan sebelum akhirnya berlalu lenyap ditelan malam.

Dua anak bangsa seusia saling sapa, hatiku merekah bak bakung di musim bunga?

Kelapa Gading, 9 Oktober 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Kelapa Gading nya dimana Bro karena saya tinggal di daerah Kelapa Gading di daerah Gading Griya Pegangsaan? Have a nice day Bro

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.