Pemimpin marah vs pemimpin santun

31 Des 2018 | Kabar Baik

Tentang sosok pemimpin, sebagian dari kita kadang agak subyektif dalam menilai perangai marahnya.

Sebagian dari kita pernah sangat mengelu-elukan pemimpin yang sangat sering marah. Dikit-dikit tarik urat, marah! Saking ?hobinya?, ia tak segan menunjukkan kemarahannya di depan kamera, sesuatu yang menurutku kurang pantas namun uniknya pendapatku itu malah dilawan, ?Kita memang perlu pemimpin seperti itu! Marah nggak papa yang penting jujur dan kerja beneran!?

Lain lagi dengan calon pemimpin yang hendak kuceritakan ini. Ia, katanya, pemarah juga. Ada yang pernah bercerita bahwa ia tak segan melempar handphone, meninju-ninju meja dengan kepalan tangannya. Bahkan konon pernah selesai memimpin rapat, dengan amat geram ia keluar lantas terdengar suara letusan, ?Dorr!? 

Uniknya, kalau pemimpin yang sebelumnya kuceritakan banyak orang menyukainya, untuk si calon pemimpin ini sebaliknya. Mereka mengecam karena ia mudah marah! ?Belum jadi aja pemimpin udah serem gitu, gimana kalau udah jadi ya??

Menurutku, marah itu tak perlu meski ketika dirasa sudah tak tertahankan lagi sebaiknya dikeluarkan juga.

Asalkan kita bisa menahan diri dan tahu apa imbas dari orang yang kita marahi sih tak mengapa. Yang konyol adalah kalau kita marah lalu termakan amarah kita sendiri dan tak bisa mengelola keputusan-keputusan yang kita ambil saat kita sedang marah.

Seperti Herodes yang diceritakan dalam Kabar Baik hari ini (lih. Matius 2:13-18). Ia diperdaya orang-orang Majus yang sebelumnya sudah berjanji akan memberitahu dimana letak bayi Yesus dilahirkan. Herodes marah besar dan dalam kemarahannya, Ia membuat keputusan yang mengejutkan, seluruh anak di bawah usia dua tahun di Betlehem dan sekitarnya harus dibunuh. Tujuannya? Supaya ia bisa memastikan bahwa dari anak-anak itu, salah satunya adalah Yesus.

Luar biasa bengis dan kejinya, bukan? Andai saja ia mampu menahan diri untuk tak tergesa-gesa mengambil keputusan, barangkali ceritanya akan berbeda.

Tapi akankah hanya pemimpin marah yang berbahaya? Bagaimana dengan pemimpin yang sukanya senyam-senyum, berbicara santun dan terkesan lugu? Adakah pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang baik?

Belum tentu juga! Jangan lupa, tiga puluh dua tahun lamanya kita pernah dipimpin sosok berwajah teduh, gampang senyum dan tutur katanya pun terukur nan teratur. Tapi apa yang dilakukan dibalik semuanya itu? Ah tak enak menyebutkan di sini!

So? Kesimpulannya?
Siapapun kamu, usahakan untuk tidak marah! Kalaupun harus marah, jangan mengambil keputusan pada saat sedang dalam amarah. Redakan dulu, pikirkan masak-masak lalu gunakan alasan yang tepat untuk segera berkeputusan.

Klaten, 31 Desember 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.