Pelita tanpa minyak, iman tanpa perbuatan

30 Agu 2019 | Kabar Baik

Hari ini Yesus menganalogikan Kerajaan Sorga seperti halnya sepuluh gadis yang menyongsong mempelai laki-laki. Masing-masing dari mereka diberi pelita, semacam lampu gantung. Lima gadis pertama membawa minyak yang disimpan dalam wadah. Lima gadis kedua, mereka memilih untuk tidak membawa persediaan.

Sepuluh gadis

Ketika mempelai yang ditunggu datang tengah malam, lima gadis yang tidak membawa minyak pun kelabakan. Pelita tak bisa dinyalakan karena mereka tak memiliki persediaan minyak. Mereka meminta minyak dari lima gadis lain, tapi permintaan itu ditolak. Tak ada jalan lain selain pergi mencari penjual minyak.

Sialnya, ketika mereka kembali dengan persediaan minyak, mempelai pria sudah datang dan pintu ruang perjamuan pun ditutup. Mereka berusaha mengetuk pintu namun sang mempelai yang sudah ada di dalam bersama lima gadis lainnya tak membukakan karena ia tak mengenal mereka.

Pelita adalah iman, minyak adalah perbuatan baik

Apa yang bisa kita petik dan pelajari dari sini?

Apakah pelita??
Apakah minyak??
Siapakah kita? Lima gadis yang membawa persediaan minyak kah atau lima lainnya yang tidak membawa persediaan sama sekali?

Bagiku pelita adalah iman dan minyak adalah segala hal yang bisa dipakai untuk menghidupkan iman termasuk perbuatan-perbuatan baik kita. Hal ini dikuatkan seperti yang ditulis dalam Yakobus 2:26, ??demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.?

Masing-masing dari kita, umat Tuhan, diberi iman. Sejak kecil kita dididik untuk ber-Tuhan, ke gereja setiap minggu, aktif dalam pelayanan, menerima sakramen demi sakramen tepat waktu, tepat jadwal.

Tapi hal itu semua tidak bisa kita baca dan artikan sebagai sebuah wujud keselamatan itu sendiri. Untuk selamat, kita diajak untuk menghidupi iman tersebut.

Pelita tanpa minyak, iman tanpa perbuatan

Maka, meski penting, seyogyanya kita tidak terlalu membanggakan diri karena identitas kita yang tertulis sebagai umat kristiani. Banggalah justru dari yang tak tertulis; bahwa ketika kita menjadi saksi Tuhan dalam setiap perbuatan-perbuatan baik di masyarakat, kita dikenal sebagai seorang kristiani.

Pelita tanpa minyak tak kan bisa dinyalakan dan tak memiliki arti. Ia ada tapi tak ada gunanya. Maka mari kita merenungi bagaimana kita bersikap saat hidup berada dalam kegelapan? Adakah kita sudah cukup punya minyak untuk menyalakan pelita iman kita? 

Ketika badai ekonomi meruntuhkan kejayaan yang selama ini kita bangga-banggakan sebagai berkat dari Tuhan? Adakah kita tetap bisa mengucap syukur atau sebaliknya marah karena merasa Tuhan mengambil semuanya?

Ketika pasangan ketahuan selingkuh dan biduk rumah tangga goncang, adakah kita tetap bisa mengemukakan kasih sebagai pedoman untuk menyelesaikan semuanya dengan baik-baik? Atau sebaliknya justru kita balik badan dan kecewa karena Tuhan tak adil atas hidup ini lalu membalas dengan aksi serupa?

Bagaimana pula ketika suatu sore, anak yang kita didik sejak kecil di dalam Tuhan datang bersama pacarnya dan bilang baik-baik bahwa ia memutuskan pindah agama karena hendak menikah dan mengikuti keyakinan mengikuti pasangannya? Meski tak mudah nan berat, adakah kita lantas mengutuk dan mengucilkannya?

Semua bergantung dari bagaimana kita mau menghidupi dan menyalakan iman. Mumpung hari masih terang, banyak-banyaklah mempersiapkan ?minyak? dan menyimpannya dalam buli-buli. Meski ribet dan tak mudah tapi setidaknya ketika fragmen kehidupan di depan menawarkan sesuatu yang tak pernah kita inginkan, kita siap.

Sydney, 30 Agustus 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.