Pelajaran Gagal

15 Jun 2024 | Cetusan

Berbanggalah ketika kita bisa melihat kegagalan bukan melulu sebagai satu kekalahan tapi sebagai sebuah sudut pandang bahwa kita memang tak harus dan sejatinya tak bisa mengelola semua hal yang kita hadapi dalam hidup.

Akhir-akhir ini aku merefleksikannya dalam banyak hal, dua diantaranya yang hendak kuceritakan.

Dalam hal mendapat pekerjaan.
Pernah aku gagal mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang jadi idaman meski untuk itu aku harus rela mendapat gaji yang lebih kecil dari perusahaan tempatku bekerja sebelumnya?

Waktu menerima kabar kegagalan, wah kecewaku bukan main!

Akankah aku tidak lebih baik dari calon yang lainnya?

Akankah pengorbananku untuk mau digaji lebih rendah terkesan palsu di mata pewawancaranya?

Sekarang aku sadar bahwa gagal diterima bukan berarti kita lebih buruk dari yang terpilih. 

Bisa jadi waktu itu karena sang pewawancaranya baru saja bertengkar dengan suaminya sehingga ketika berhadapan denganku, pikiran kalutnya tak bisa melihat cemerlangku.

Gagal diterima bisa jadi karena aku tidak berhasil meyakinkan bahwa motifku untuk mau digaji lebih rendah adalah sebuah ketulusan yang bisa dipercaya. Mungkin baginya, aku cuma perlu pembuktian untuk mendapatkan yang kucita-citakan lalu sesudahnya akan kutinggalkan dan mencari yang lebih besar lagi? Kebanyakan memang gitu sih hehehe…

Juga soal percintaan, tentu di masa muda dulu!
Dulu, berulang kali cintaku bertepuk sebelah tangan dan acap kali dikhianati dan dicampakkan seperti tisu yang putih bersih, ditarik dari kantong hanya untuk mengelap ingus bercampur upil kering lalu dibuang di pinggir jalan.

Dulu ketika mengalaminya, kecewaku bukan kepalang. 

Apa salahku? 
Wajahku tak menarik?
Nafasku bau? 
Tongkronganku tak sepaten dia yang dipilih? Atau… jangan-jangan karena mereka nggak mau berbasah ketika hujan dan berkeringat ketika terik menyengat dan maunya berteduh di bawah atap mobil calon mertuanya?

Tapi sekarang aku bisa melihatnya dari sudut pandang lain.

Aku dulu ditolak karena aku gagal meyakinkanya bahwa sekian puluh tahun kemudian, saat suaminya yang tampan mulai kehilangan gregetnya, aku malah seperti minuman anggur merah yang semakin menarik dan menggemaskan! Kalau sampai mabuk ya salah dia terlalu banyak menikmatinya, kan?

Aku dulu dicampakkan karena aku gagal meneguhkan hatinya bahwa yang kita lakukan dulu dengan berbasah dan berkeringat di atas dua roda adalah cara Tuhan untuk kita mengukir kisah yang lebih berdinamika untuk diceritakan pada anak dan cucu kita.

Sebuah cerita yang bisa menghangatkan pembicaraan di ruang keluarga di musim dingin, “Dulu Papa dan Mama mulai dengan bersepeda motor…” Kan lebih menarik daripada “Dulu Papa dan Mama mulai dari mobil… milik Kakek…”

Ketika kita bisa melihat semua itu dari sudut pandang yang baru, kita akan lebih permisif terhadap kegagalan di masa lalu, kini dan mungkin nanti tapi kita sejatinya telah berhasil untuk menua dengan arif dan bijaksana.

Bukankah itu lebih penting dari semuanya?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.