Pekerja yang perlu dituai

9 Des 2017 | Kabar Baik

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.?
(Matius 9:37)

Hal yang muncul dalam pemikiran menanggapi Kabar Baik hari ini biasanya adalah pertanyaan, siapa yang jadi pekerja, siapa pula tuaiannya?

Aku?
Kamu?
Kita?
Mereka?
Semua?

Salahkah berpikir demikian? Tak tahu tapi yang kutahu, dari istilah ?pekerja? dan ?tuaian? yang kerap muncul adalah adanya ekslusivitas dan marjinalisasi di antara dua ?kelas? pekerja dan tuaian itu. Yang pekerja dianggap lebih ketimbang tuaian. Yang tuaian merasa rendah diri terhadap pekerja.

Padahal apakah yang tuaian tidak layak menjadi pekerja dan adakah yang pekerja itu sudah benar-benar bukan tuaian?

Menurut hematku, kita perlu membawa permenungan tentang pekerja dan tuaian itu ke dalam diri kita sendiri. Tidak perlu saling tunjuk tapi melongoklah ke dalam diri, adakah diri kita ini sudah benar-benar jadi pekerja atau ada hal-hal yang masih perlu dituai?

Kebiasaan dan kebisaanku untuk bernyanyi dan bermain musik dalam acara-acara rohani, memimpin doa, memberikan pengajaran firman serta menulis renungan Kabar Baik setiap hari di sini membuatku sering disebut sebagai pelayan atau pekerja.

Aku tak menolak sebutan itu dan memang aku berkeinginan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan semampuku hingga ujung umurku.

Tapi hal ini bukan berarti bahwa tak ada lagi yang harus dituai di dalam diriku. Ada begitu banyak hal yang tak terlalu baik ada padaku.

Aku adalah seorang yang dalam beberapa sisi amat egois. Sesekali bahkan dalam pelayananku, aku mencuri kemuliaan Tuhan untuk kepentingan dan kebesaran namaku sendiri. Aku juga orang yang tak terlalu sabar ketika menghadapi orang lain. Ketidaksabaranku biasanya mengubah tabiatku jadi kasar dan cenderung menyakiti.

Kadang hal-hal itu membuatku berpikir apakah aku ini masih layak melayaniNya?

Tapi untuk mundur hanya karena alasan-alasan tersebut justru semakin menunjukkan betapa egoisnya aku, kan?

Maka aku menganggapnya sebagai tantangan untuk bisa menjadi pekerja yang lebih baik lagi sekaligus menjadi peredam kesombongan karena nyatanya memang tak ada yang perlu disombongkan lha wong masih ada banyak hal yang perlu kutuai dari dalam diriku sendiri?

Sydney, 9 Desember 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.