Para sengkuni dan sengkunisasi

10 Okt 2018 | Kabar Baik

Para ahli Taurat itu layaknya ?sengkuni?, tokoh dalam perwayangan yang meng-sengkuni-sasi Yesus.

Mereka pernah menghasut Yesus seolah kuasa yang ada padaNya berasal dari si jahat dan dalam Kabar Baik hari ini (lih. Lukas 6:6-11), mereka malah hendak menyalahkanNya kalau-kalau Yesus berani menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, hari yang disucikan dimana orang-orang tidak diperbolehkan mengerjakan serangkaian pekerjaan yang telah ditetapkan.

Tapi Yesus tahu isi hati mereka itu. Untuk memberi pelajaran, Ia malah menyembuhkan orang sakit saat itu juga tepat di muka orang-orang Farisi! Tak terbayangkan bagaimana reaksi mereka, bukan?

Orang-orang Farisi bertindak seperti itu karena mereka iri pada Yesus. Yesus bak rising star yang mendapatkan tempat di hati umat. Mereka tentu khawatir kalau-kalau kuasa Yesus akan memperkecil pengaruh mereka dalam diri umat.

Apa yang bisa kita renungi dari Kabar Baik tersebut di atas??

Bukankah hal itu agak mirip dengan apa yang kita rasakan saat ini terkait dunia perpolitikan di Tanah Air? Ada sekelompok orang yang mengaku sebagai politikus, yang mengaku sebagai orang yang pernah berjasa bagi negeri tapi kerjaannya malah seperti sengkuni, meng-sengkuni-sasi orang-orang yang sedang bekerja keras untuk bangsa dan negara.

Seperti layaknya orang-orang Farisi, para sengkuni masa kini itu ketar-ketir kalau-kalau mereka kalah lagi dalam pemilihan. Mencoba untuk mencari salah kok susah, tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menghasut, mencari kelemahan, menempuh jalan licik untuk menjatuhkan lawan! Pokoknya menang, menang dan menang!

Tapi itu kan dunia politik, Don! Tak semua orang suka membahas politik!

Baiklah, mari kita merenungi pola-pola sengkunisasi seperti ini dalam hidup sehari-hari. Pernahkah kalian merasa telah melakukan hal-hal dengan baik serta memperhatikan norma-norma kepatutan dan berpatokan pada kebenaran sejati tapi kok ya ada saja orang-orang yang menggoyang kita dengan isu tak benar?

Kita sepatutnya sabar dan berhati-hati kalau memang demikian. Sabar karena tak ada gunanya menanggapi pancingan-pancingan seperti itu. Berhati-hati karena ketika kesabaran kita mencapai titik akhir, bukannya tak mungkin kita justru jatuh dalam pancingan tersebut, berlaku kasar yang kontraproduktif, hal-hal yang memang diharapkan terjadi oleh mereka, para sengkuni itu.

Atau di sisi sebaliknya, mari berkaca pernahkah kita bersikap seperti layaknya sengkuni pada mereka yang kita anggap lebih hebat daripada kita?

Misalnya ada tetangga yang tiba-tiba membeli sebuah mobil mewah sementara kita bekerja keras tapi kok dapatnya hanya mobil butut yang tak layak dipamerkan. Alih-alih menyelamati, kita malah memunculkan sas-sus pada tetangga lain dengan mengatakan bahwa mobil mewah itu adalah hasil korupsi atau hasil ilmu gaib/pesugihan yang tak halal?

Atau ketika melihat rekan sekerja mendapat kenaikan pangkat lalu kita mengesampingkan prestasinya dan memandang rendah hal tersebut dengan menganggapnya sebagai hasil kolusi karena rekan tadi masih ?bau saudara? dengan bos?

Jika demikian, kita harus berhati-hati! Mawas diri, jangan iri dan berubahlah karena kita ini agen kasih Tuhan bukannya sengkuni! Tugas kita adalah mengasihi dan bukannya meng-sekuni-sasi.

Kelapa Gading, 10 Oktober 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.