Pantang dan puasa butuh rasa ikhlas dan gelisah

6 Mar 2019 | Kabar Baik

Selamat memasuki masa Pra-Paskah 2019!
Beberapa tahun silam, saat masa Pra-Paskah tiba aku pernah merasakan kegelisahan yang amat sangat dan hilang rasa percaya diriku karena tak yakin apakah pantang dan puasaku sudah bagus atau belum bagiNya.

Waktu itu aku memang hanya memutuskan untuk pantang daging pada Hari Rabu Abu, setiap jumat selama masa Pra Paskah dan Hari Jumat Agung. Sedangkan kawanku, melalui wall facebooknya, kulihat ia pantang daging dan pantang minum kopi tiada henti setiap hari selama masa Pra-Paskah!

Batinku spontan berkomentar, ?Wah! Pasti berat banget tuh! Jangan-jangan pantangku ini terlalu ringan??

Aku lantas memutuskan untuk menambahkan pantangan ke level yang menurutku ?berat? yaitu garam! Dan ternyata pantang mengkonsumsi garam itu beratnya luar biasa! Saking beratnya aku malah sibuk menggerutu dan menuntut Tuhan atas pengorbanan yang sudah kulakukan.

Pantang dan puasa adalah persembahan

Pagi ini, aku teringat akan kegeilsahanku itu dan pikiranku tertuju pada apa yang pernah dikatakan Yesus seperti ditulis Matius, ?Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.? (Matius 9:13).

Puasa dan pantang bagiku adalah persembahan yang kita berikan kepada Tuhan. Melalui puasa dan pantang kita diajak untuk mempersembahkan pengorbanan kita untuk menahan hawa nafsu ragawi dan kita persatukan dengan pengorbanan Yesus di kayu salib.

Berkaca dari situ, aku jadi bersyukur pernah sebegitu geilsahnya untuk menentukan pantang dan puasa. Rasa syukur muncul karena kegelisahanku mengartikan bahwa aku ingin memberikan yang terbaik kepadaNya. Dan karena aku ini pendosa, aku jadi tak yakin apakah yang kulakukan sudah betul-betul benar menurutNya karena dosa menjauhkanku dariNya.

Tapi di sisi lain aku juga menyesal kenapa pernah begitu gelisah dan tak percaya diri hanya karena melihat kawanku berpantang lebih banyak daripadaku. Aku seolah membuat pantang dan puasa sebagai sarana perlombaan siapa yang paling berat adalah yang paling baik memberikan persembahan kepada Tuhan. Padahal sebaik-baiknya kita, seperti yang dikatakan Yesus di atas, kita tetap butuh belas kasihNya.

Belajar ikhlas

Marilah berpantang dan berpuasa secara ikhlas. Artinya ketika kita berpuasa daging, ikhlaskanlah kenikmatan daging yang biasa kita santap dan semoga keihklasan kita itu menjadi sarana bagi pengampunan dosa-dosa kita.

Tapi kalau daging aja nggak ikhlas, gimana Don?

Ya belajar ikhlas dan inilah saatnya untuk belajar lebih banyak tentang keikhlasan! Ikhlas bukan produk jadi. Ia adalah produk hidup yang bisa kuat namun sering pula jadi lemah. Masa Pra Paskah adalah masa terbaik untuk menguatkan kembali keihklasan kita itu.

Selamat melanjutkan pantang dan puasa, semoga berkenan kepadaNya!

Sydney, 6 Maret 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.